Jumat, 22 Mei 2026
Peningkatan Pemahaman Resiliensi Pada Residen Narkoba di Medan Plus Stakoetoe Serenity Melalui Kegiatan PKL 2 Mahasiswa KESSOS USU
Medan (utamanews.com)
Oleh: Rona Rokania, Universitas Sumatera Utara Minggu, 24 Des 2023 13:34
Peningkatan resiliensi pada residivis narkoba di Yayasan Medan Plus
Istimewa

Peningkatan resiliensi pada residivis narkoba di Yayasan Medan Plus

Rona Rokania (200902073) merupakan salah satu mahasiswi Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang saat ini menjalankan Praktik Kerja Lapangan (PKL) 2 sebagai salah satu kewajiban yang harus dilakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah. Adapun lokasi yang menjadi tempat praktikum yang Rona lakukan yaitu Panti Rehabilitasi yang bernama Medan Plus Stakoetoe Serenity yang beralamat di Sugau, Salam Tani, Kec. Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20353.

Pemulihan pecandu narkoba bukanlah hal yang singkat atau mudah. Seseorang yang telah lama berhenti menggunakan narkoba dapat mengalami fase relapse atau kembali menggunakan narkoba. Seorang pecandu narkoba dapat berhenti menggunakan narkoba karena dua hal. Pertama, memotivasi diri sendiri dengan menunjukkan rasa bersalah dan malu terhadap lingkungan dan keluarga. Selanjutnya, melalui kolaborasi dengan orang lain dan orang-orang di sekitarnya. Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa mantan pecandu narkoba tidak hanya menghadapi masalah relapse tetapi juga menghadapi masalah intrapersonal dan interpersonal.

Kemampuan untuk bertahan dalam situasi yang sulit ini sangat penting dalam upaya untuk melepaskan ketergantungan narkoba dan memulai kembali kehidupan. Resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan dalam situasi yang sulit. Mereka yang tahan terhadap tantangan adalah mereka yang kuat. Oleh karena itu, orang yang pernah menggunakan narkoba harus kuat untuk menjaga diri mereka agar tidak kembali menggunakannya, dan untuk membangun kembali kehidupan mereka dan menjadi lebih baik.

Resiliensi adalah ketika seseorang belajar mengubah cara mereka berpikir saat menghadapi masalah untuk mencegah putus asa (Ayed dkk., 2019). Ini berarti bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan baik ketika terjadi hal- hal yang tidak menyenangkan dalam hidup mereka, seperti mengatasi masalah yang dihadapinya. Resiliensi memungkinkan orang untuk menghadapi, mengatasi, bahkan menghilangkan stres yang mereka alami. Akibatnya, mereka dapat mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh situasi sulit tersebut dan kembali menjalani kehidupan normal (Reivich & Shatte, 2002). Resiliensi sangat penting bagi mantan pecandu narkoba untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, menghindari depresi, sedih berkepanjangan, dan bahkan bunuh diri. Jadi dari permasalahan yang ada, resiliensi dan penyesuaian diri pada mantan pecandu narkoba merupakan masalah yang besar.
Medan Plus Stakoetoe Serenity adalah rumah terapi yang berbasis program Therapeutic Community dan dikombinasikan dengan program 12 langkah, untuk mencapai tujuan bersama dalam recovery. Pendekatan program yang dikombinasi agar mendapatkan sisi terapi melalui pemangkasan tingkah laku dan pendekatan spiritual. Sama halnya dengan pecandu-pecandu narkoba di panti rehabilitasi lainnya, residen narkoba di Medan Plus juga berjuang dalam penerimaan diri dan pemulihan mereka, dimana dari hasil assessment dan observasi yang praktikan lakukan selama dalam masa awal kegaiatan praktikum hampir seluruh residen narkoba yang ada pernah mengalami relapse walaupun telah mengikuti masa rehabilitasi tetapi setelah menyelesaikan masa rehabilitasinya dan kembali lagi kelingkungan masyarakat banyak residen yang masih tergoyahkan terhadap pendiriannya yang berakibat relapse.

Oleh sebab itu, dalam kegiatan praktikum ini praktikan menyusun serangkaian jalan keluar yang bisa lakukan untuk mengatasi permasalahan residen narkoba yang ada di Medan Plus yaitu dengan memberikan bekal berupa pemahaman kepada para residen terkait resiliensi yang diharapkan bekal tersebut dapat tertanam dalam diri residen dan meningkatkan kesadaran dan terbentuknya resiliensi dalam diri mereka.

Dalam pelaksanaan miniproject praktikum lapangan kerja 2 ini praktikan menggunakan metode Family casework melalui tahap intervensi secara umum atau general. Adapun tahap- tahap yang akan praktikan lakukan dalam proses penyelesaian masalah klien yaitu :

1. EIC ( Engagement, Intake, Contract)
produk kecantikan untuk pria wanita
Pada tahapan ini diawali dengan pendekatan terhadap klien, penjelasan maksud dan tujuan, dan melakukan kesepakatan kontrak antara praktikan dan Klien. Pendeketan yang praktikan lakukan yaitu pada masa awal kegiatan praktikum, praktikan berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan bersama para residen seperti kegiatan morning meeting, seminar dan kegiatan Narcotics Annonymous. Dalam kegiatan- kegiatan tersebut praktikan berhasil mendekatkan diri kepada para residen dan sedikit banyaknya juga memperoleh informasi-informasi yang berguna bagi praktikan dalam proses pelaksanaan praktikum.

2. Assesment
Pada tahapan ini praktikan menganalisis lebih dalam permasalahan klien. Praktikan
menggunakan tools pohon masalah untuk menggali permasalahan dan membantu menyelesaikan masalah yang ada pada klien. Dari hasil wawancara yang dilakukan klien dengan parktikan diperoleh hasil bahwa hampir dari total residen yang ada, banyak yang pernah mengalami relapse bahkan telah menjalanni masa rehabilitasi secara berulang-ulang.

3. Planning atau Perencanaan
iklan peninggi badan
Planning atau perencanaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mempermudah pengurusan masalah dalam merencanakan dan melaksanakan penanganan. Tahap ini dirancang strategi apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi klien. Pada tahap ini praktikan menyusun dan merencanakan solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang dialami para residen yaitu terkait bagaimana cara membangun pertahanan diri agar setelah menyelesaikan masa rehabilitasi dan kembali ke masyarakat residen dapat mempertahankan dirinya terhindar dari relapse.

4. Intervensi
Tahap ini merupakan proses pelaksanaan program, dimana tindakan Pekerja Sosial akan diarahkan pada beberapa bagian sistem sosial atau proses dengan tujuan memberikan perubahan. Dan melakukan pendapingan untuk menghasilkan perubahan berencana dalam diri klien. Pada tahap ini praktikan memberikan sejumlah pemahaman terkait resiliensi pada pecandu narkoba dalam bentuk kegiatan seminar yang dilakukan seminggu sekali atas persetujuan pihak Medan Plus dan bentuk seminar yang praktikan bersifat dua arah sehingga lebih bersifat seperti diskusi dengan tujuan agar para residen tetap berpartisipasi dan lebih memahami terkait serangkaian materi yang praktikan berikan.

5. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu cara untuk menentukan apakah sasaran dan tujuan dari upaya Pekerja Sosial telah tercapai atau tidak.Tahap ini berisi monitoring terhadap klien, memastikan apakah sasaran sudah tercapai sesuai dengan tujuan yang telah disepakati diawal. Pada tahap ini praktikan memantau klien selama kelas berlangsung dan selama kelas berlangsung klien tampak fokus mendengarkan dan berpartisipasi dengan sangat baik dalam pelaksaan seminar. Banyak dari para residen bertanya dan dapat menjelaskan ulang terkait materi yang disampaikan yang artinya materi yang disampaikan dapat dipahami oleh para residen dan program yang dijalankan memiliki pelaksanaanya yang sesuai dengan harapan.

6. Terminasi
Terminasi merupakan fase tahap dimana relasi antara Pekerja Sosial dan klien akan dihentikan. tahap ini merupakan tahap pemutusan hubungan dengan klien ketika tenggat kontrak atau program sudah selesai serta berhasil dilakukan. Pada tahap ini praktikan memberhentikan atau memutuskan kontrak dengan klien yaitu para residen narkoba di Medan Plus.

Hasil kegiatan sosialisasi peningkatan resiliensi pada residivis narkoba di Yayasan Medan Plus dapat mencakup berbagai dampak positif pada individu dan komunitas. Berikut adalah beberapa hasil yang dicapai:
1) Peningkatan Kesadaran Individu
2) Penguatan Keterlibatan Sosial
3) Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
4) Motivasi dan Inspirasi Individu
5) Peningkatan Kualitas Hidup
6) ReduksiTingkatKekambuhan

Dari hasil kegiatan sosialisasi peningkatan resiliensi, terlihat dampak positif seperti
peningkatan kesadaran, penguatan keterlibatan sosial, peningkatan pengetahuan, motivasi, kesejahteraan psikologis, kualitas hidup, dan pengurangan tingkat kekambuhan. Secara keseluruhan, untuk mengatasi permasalahan narkoba, tidak hanya diperlukan pendekatan medis, tetapi juga pendekatan psikososial yang memperhatikan aspek resiliensi dan penyesuaian diri. Upaya kolektif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga rehabilitasi, dan masyarakat umum, sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan dan pencegahan penyalahgunaan narkoba di masa depan.
busana muslimah
Berita Terkini
Berita Pilihan
adidas biggest sale promo samsung flash sale baju bayi wardah cosmetic cutbray iklan idul fitri alfri
Kontak   Disclaimer   Karir   Iklan   Tentang Kami   Pedoman Media Siber

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

gopay later