Hasil Penelitian, Sikap dan Tindakan Berkarakter Siswa di Pesisir dan Perkotaan Labura, Rendah
Labura (utamanews.com)
Oleh: Darwin Marpaung
Senin, 06 Nov 2017 10:36
Para peneliti saat mempresentasikan makalah dan hasil penelitian.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kab. Labura bekerjasama dengan akademisi dari Universitas Negeri Medan (Unimed) dan staf analis kebijakan Balitbang Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap dan tindakan berkarakter antara siswa di perkebunan dan pedesaan, dengan siswa yang ada di perkotaan dan pesisir Labura, yaitu Kecamatan Kualuh Leidong dan Kualuh Hilir.
Hasil penelitian tersebut disampaikan saat rapat akhir hasil penelitian pendidikan berkarakter berbasis budaya lokal, Selasa (31/10) di aula kantor Bupati Labura dengan pemateri Prof. Dr. Sri Minda Murni MS, guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Unimed, Dr. Mutsyuhito Solin MPd Dosen Unimed, dan MS Panca Waluya dari Balitbang Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud.
"Sikap dan tindakan berkarakter siswa lebih rendah di pesisir dan perkotaan, dibanding siswa di perkebunan dan pedesaan. Maka direkomendasikan agar pemerintah tetap berupaya dan menjaga suasana kehidupan desa dan perkebunan agar tetap kondusif. Sedangkan pesisir dan perkotaan diperlukan upaya yang lebih serius untuk mencegah masuknya faktor negatif," kata Prof. Sri Minda di hadapan undangan yang dibuka Wabup Labura Drs Dwi Prantara MM tersebut.
Dijelaskannya, penelitian pendidikan karakter yang telah selesai dilaksanakan menghasilkan 12 rekomendasi rumusan kebijakan untuk digunakan sebagai panduan di Labura, yakni karakter religius lebih dominan dimiliki oleh siswa di wilayah pedesaan dan perkebunan, disusul wilayah pesisir dan perkotaan sehingga direkomendasikan kepada kepala sekolah agar memperkuat pembelajaran agama terutama pd praktik melaksanakan ibadah.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pernyataan 'orang beragama hidupnya akan lebih baik daripada yang tidak beragama', hasilnya cukup mengejutkan yaitu sebesar 12% (perkotaan), 11% (desa dan perkebun), dan 10% (pesisir) menjawab bahwa pernyataan tersebut salah.
Hal ini menunjukan terpisahnya ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan agar sekolah melatih guru agama dan menata kurikulum agama untuk memperluas wawasan tentang agama dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.