Sukron DTM (32 tahun) Ketua Kelompok Tani Dos Roha Gapoktan Desa Teluk Piai menyampaikan keluhannya bahwa Petani Padi di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara sangat membutuhkan perhatian pemerintah Pusat untuk menunjang peningkatan hasil panen.
Adapun yang dibutuhkan ialah alat-alat Mesin pertanian berupa penggiling padi, bibit, pupuk dan perbaikan infrastruktur dan pembangunan irigasi.
"Luas lahan persawahan petani gabah Kecamatan Kualuh Hilir ini seluas 15.000 Hektar, yang bertempat di enam desa satu kelurahan yaitu, Desa Kuala Bangka, Desa Teluk Binjei, Desa Sei Sentang, Desa Teluk Piai, Desa Sei Apung, Desa Tanjung Mangedar," kata Sukron.
Untuk itulah, lanjutnya, kami sangat berharap agar pemerintah mau melakukan perbaikan Jalan penghubung antar Desa sepanjang 50 Km dan jalan produksi pertanian sepanjang 30 Km.
Sedangkan untuk penunjang keberhasilan panen yang maksimal ialah mesin pemotongan padi, penanam padi, kilang padi hand traktor dan Zonder.
Di tempat yang sama, Harman Syahri (44 Tahun), pemilik kios penyalur pupuk bersubsidi se-Kecamatan Kualuh Hilir mengatakan, "Petani Kualuh Hilir saat ini sangat membutuhkan pupuk bersubsidi sebanyak 500 ton dengan jenis pupuk NPK Tsp ZA dan Orea."
"Saat ini petani se-Kecamatan Kualuh Hilir hanya mendapat pupuk bersubsidi hanya sebanyak 200 Ton permusim tanam hingga masa panen. Padahal para petani membutuhkan pupuk untuk padi di sawahnya per hektar ialah untuk pupuk jenis NPK 100 Kg Orea 200 Kg, Tsp 200 Kg dan Za 100 Kg. Tentunya sebanya 200 ton ini sangat tidak memadai untuk luasan lahan seluas 15.000 Hektar. Akhirnya yang diterima oleh petani per orang hanya 50 Kg dari berbagai jenis pupuk yang bersubsidi," katanya.
Khairuddin Simatupang Ketua DPAC JBMI Kualuh Hilir menambahkan, "Pendapatan petani perhektar dalam kondisi tadah hujan seberat 4.500 kg dan petani harus mengeluarkan modal untuk perhektar senilai Rp 9.000.000. Harga jual padi per kg nya disini Rp3.500 sementara harga beli beras Rp.10.000. Jika seperti inilah pendapatan petani sudah pasti amat tidak menguntungkan mereka Akibatnya banyak petani melakukan alih fungsi lahan terhadap lahan sawahnya. Padahal dari dahulunya wilayah ini adalah salah satu lumbung padi untuk Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara Provinsi Sumatera Utara", kata Khairuddin.
Sudirman Tanjung (60 tahun, tokoh masyarakat Kecamatan Kualuh Hilir menambahkan, "Jika petani sampai harus merogoh modal hingga mencapai Rp9.000.000 per hektar, tentunya hal ini masih sangat memiriskan para petani sebab jika dikalkulasikan pendapatan petani dari perhektar sawahnya hanya seberat 45.000 kg jika dihitung 4.500 kg dikali Rp 3.500 per kg maka totalnya sejumlah Rp 15.000.000. Ini diperkirakan dari harga pupuk racun hama dan gulma yang mereka beli serta penyeterilan lahan juga upah pemanenan."
Adapun harga pupuk subsidi yang ditebus oleh mereka ialah, pupuk jenis NPK Rp170.000 per zak kg TSP Rp 145.000 per zak Z A Rp per zak Orea Rp 120.000 per Zak rata rata per zaknya seberat 50 kg.
"Karena pupuk yang bersubsidi jauh sangat tidak cukup maka petani harus menebus pupuk non subsidi yang harganya jauh lebih mahal untuk tanaman padi mereka. Adapun harga pupuk non subsidi yang harus dibeli mereka ialah untuk jenis pupuk NPK 16 16 Rp290.000, TSP Rp 350.000 Orea Rp 290.000 Z A Rp 175.000", tutur Sudirman.