Polda Jawa Barat membantah jika pihaknya tidak mengeluarkan rekomendasi dalam proses perizinan terkait perayaan hari Asyura yang digelar oleh kelompok Muslim Syiah yang rencananya akan digelar pada Kamis (14/11) sore nanti di Bandung.
"Semua ada mekanismenya. Apa mereka sudah punya proses administrasi perizinan yang lengkap, yang mendapat rekomendasi dari dinas agama dan MUI setempat? Kalau pesertanya hanya dari Bandung cukup ke Polwiltabes, kalau dari kota di Jawa Barat cukup ke Polda, dan kalau dari seluruh Indonesia ya ke Mabes Polri," kata Kapolda Jabar Irjen Suhardi Alius, demikian Beritasatu.com Kamis (14/11) pagi.
Jenderal bintang dua ini memastikan, andai semua proses itu telah dilalui maka pihaknya tidak mempermasalahkan acara tersebut untuk digelar. Polisi bahkan akan mengamankan pelaksanaan tersebut dari kelompok-kelompok yang tidak setuju.
"Kita ini tidak ada masalah. Ini negara majemuk. Tapi mengapa ini dipaksakan seolah-olah polisi anti pada mereka dengan tidak memberikan izin? Ini hanya soal prosedur dan tampaknya ini sengaja dibelokan dan dipolitisasi. Saya tegaskan jika info soal kami akan menciduk panitia juga tidak benar," imbuhnya.
Bahkan, mantan Kadiv Humas Polri ini menambahkan, jika pihaknya—terlepas ada izin atau tidak—akan tetap mengantisipasi potensi gesekan dengan massa yang kontra terhadap acara ini.
Pihaknya tetap akan menurunkan anggotanya untuk bersiap siaga dari segala kemungkinan termasuk aksi kekerasan dari massa yang kontra seperti yang sempat menimpa komunitas Syiah di Sampang, Jawa Timur.
"Kita tetap akan amankan. Tapi kita juga masih bertanya-tanya mengapa mereka tidak mau melengkapi (syaratnya) dengan mengurus (rekomendasinya) ke MUI dan kementerian agama? (Izin dari) polisi itu sebenarnya kan yang terakhir," sambungnya.
Bagaimana jika mereka tetap ngotot menggelar acara itu? Suhardi menjawab, "Ya kita akan lihat saja nanti. Yang jelas acara itu tidak ada izinnya. Jangan hanya sekadar menyalahkan polisi. Ini tampaknya sengaja di politisasi (seperti peritiwa Syiah) di Jatim."
Menurut Suhardi, acara yang dimotori oleh Jalalludin Rahmat itu sebenarnya telah menjadi semacam agenda tahunan. Hanya saja, menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya acara digelar di lingkungan masing-masing dengan peserta yang tidak terlalu besar namun tahun ini panitia mengadakan acara dengan dimensi yang lebih besar dengan peserta dari banyak kota.
"Sekali lagi, kami juga tidak benar akan menangkapi panitia. Saya sudah siapkan anggota untuk pengamanan," lanjutnya.
Salah satu kelompok yang menentang acara tersebut adalah forum komunikasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) wilayah Kawaluyaan, Bandung dan sekitarnya. Mereka menyatakan keberatan dan menolak diadakannya acara tersebut di lingkungan mereka karena berdasarkan fatwa MUI, aliran Syiah dinyatakan sesat.
Hari Asyura adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Termasuk hari penting bagi kelompok Syiah karena banyak peristiwa besar yang terjadi di hari itu termasuk hari syahidnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, pada pertempuran di Karbala, Iraq. (berita1)