Sabtu, 19 Okt 2019 18:21
  • Home
  • Sosial Budaya
  • Tokoh Pendukung 01 dan 02, Aktifis dan Mahasiswa Sumut Bicara "Rekonsiliasi"

Tokoh Pendukung 01 dan 02, Aktifis dan Mahasiswa Sumut Bicara "Rekonsiliasi"

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Sam
Rabu, 31 Jul 2019 19:31
Rumah Konstituen
Banner diskusi membahas Rekonsiliasi di Medan
Menyikapi dinamika politik tanah air, Rumah Konstituen menggelar kegiatan diskusi kelompok terarah (FGD) dengan tema: "Menatap Indonesia Pasca Pilpres 2019: Urgensi Rekonsiliasi bagi Keberlanjutan pembangunan."

FGD yang diselenggarakan di Stadion Cafe, Teladan Barat, Kec. Medan Kota itu dihadiri setidaknya oleh 60-an orang peserta dari berbagai elemen masyarakat; politisi; mahasiswa: LSM; dan pegiat literasi.

Kegiatan melibatkan sejumlah narasumber sebagai pemantik dinamika yang datang dari berbagai profesi, antara kain, Dr. Irwansyah, M.Ag (Kaprodi Sosiologi UIN SU); Sugiat Santoso, SE.,MSP (Ketua DPD KNPI Sumut); Edi Saputra, ST (Anggota DPRD Kota Medan terpilih PAN); Budi Setiawan (Alumni IMM); dan Eko Marhaendy selaku Direktur Rumah Konstituen. Bertindak sebagai moderator, Nurul Yakin Sitorus yang merupakan Manajer Program Literasi Politik Rumah Konstituen.

Eko Marhaendy mengawali diskusi dengan paparannya mengenai fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sepanjang 6 bulan terakhir. Menurutnya fluktuasi itu dapat dijadikan sebagai indikator kepercayaan publik terhadap dunia investasi.


"Memang nilai tukar rupiah bukan satu-satunya faktor yang menunjukkan maju-mundurnya ekonomi Indonesia, akan tetapi itu bisa dijadikan sebagai indikator untuk mengukur penting tidaknya rekonsiliasi dilakukan," papar Eko.

Ia misalnya, mencontohkan sepanjang 6 bulan terakhir, titik tertinggi pelemahan rupiah terjadi pada tanggal 22 Mei 2019, grafik itu sudah mulai menampakkan kondisi pelemahan sejak 18 April 2019.
Fakta uniknya adalah, sejak pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT yang ditengarai sebagai simbol rekonsiliasi pada tanggal 13 Juli 2019, rupiah terus menguat melampui titik stabilnya hingga berada di bawah angka 14 ribu. "Setidaknya itu terlihat sampai hari ini", jelasnya.

Di lain sisi, Sugiat Santoso, Ketua DPD KNPI yang juga merupakan politisi Partai Gerindra menegaskan, rekonsiliasi merupakan "fardhu ain" sekaligus "fardu kifayah" (kewajiban pribadi dan kewajiban bersama bagi setiap orang).

"Memang, ketika kontestasi berjalan, pertarungan perebutan kekuasaan terjadi. Tapi kontestasi itu telah usai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka tugas kita ke depan adalah menjaga stabilitas negeri ini agar pembangunan lancar", papar Sugiat.


Pemateri lainnya, Dr. Irwansyah Nasution memaparkan pandangan yang lebih teoritis dengan mengemukakan beberapa fakta dari hasil berbagai penelitian.

Menurutnya, Indonesia pernah menjadi panutan pendewasaan demokrasi setidaknya oleh orang-orang yang pernah ia temui di Jerman. "Tapi itu dulu. Setelah tahun 2014, kelihatannya politik identitas semakin menguat yang membuat kepercayaan dunia luar mulai surut terhadap masa depan demokrasi di Indonesia", ungkapnya.

Sementara Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Budi Setiawan, lebih banyak menyoroti dampak politik di kalangan akar rumput. "Ada banyak masyarakat akar rumput yang kecewa dan terluka, hal itu seharusnya juga dipertimbangkan para elit. Jangan terkesan rekonsiliasi hanya berlaku di kalangan elit, sedangkan mereka melepas tanggung jawabnya kepada masyarakat akar rumput yang sudah terbelah", tutur Budi, mantan Ketua IMM Sumut ini.

Narasumber lainnya, Edi Saputra, ST. lebih menyoroti isu-isu yang bersifat lokal. "Percuma rekonsiliasi dilakukan jika permasalahan lokal diabaikan", katanya.

Edi memandang, rekonsiliasi di tingkat lokal berkaitan dengan bagaimana distribusi anggaran terjadi dengan prinsip yang adil dan merata. "Aktivis mahasiswa misalnya, harus diperhatikan dalam porsi anggaran Kota Medan, agar mereka punya kegiatan positif dan rekonsiliasi menjadi tidak sia-sia", terangnya.

Berlangsung penuh antusias dan terfokus, di bagian penutup, seluruh narasumber dan peserta yang hadir memiliki pandangan yang sama, bahwa rekonsiliasi penting dilakukan demi masa depan keberlanjutan pembangunan nasional. 
Editor: Budi

T#g:RekonsiliasiRumah konstituen
Berita Terkait
  • Sabtu, 07 Sep 2019 03:07

    Idealnya rekonsiliasi nasional itu tanpa syarat

    Angin segar menyelimuti pertemuan Presiden terpilih Joko Widodo dengan Prabowo Subianto di stasiun MRT Lebak Bulus sejak Pilpres berakhir. Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo adalah pertemuan seorang

  • Minggu, 11 Agu 2019 03:11

    Mengawal Pemerintahan Secara Proporsional

    Ketegangan politik yang diakibatkan oleh Pilpres telah berakhir dengan pertemuan antara Presiden terpilih Joko Widodo dan rivalnya Prabowo Subanto. Pertemuan kedua tokoh tersebut berlangsung santai, a

  • Selasa, 16 Jul 2019 11:16

    Pentingnya Kampanye Rekonsiliasi Pasca Pemilu 2019 Oleh Generasi Muda dan Media

    Pada tanggal 17 April 2019 yang lalu, bangsa ini menggelar suatu agenda besar dalam penyelenggaraan demokrasi. Pada hari tersebut lebih dari 187 juta pemilih baik di dalam negeri atau luar negeri untu

  • Kamis, 11 Jul 2019 10:11

    Usai Pilpres, Masyarakat Minta Rekonsiliasi Sesuai Rambu-rambu Aturan

    Kurang dari sebulan pasca keputusan Mahkamah Konstitusi yang memenangkan pasangan presiden-wakil presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, sikap politik di tataran masyarakat Sumatera Utara, khu

  • Senin, 10 Jun 2019 03:10

    Badai Pasti Berlalu

    Pemilu 2019 masih meninggalkan sisa yang belum tuntas. Kita berharap badai kegaduhan dan ketegangan terkait pemilu 17 April 2019 segera berlalu. Masalah republik ini bukan hanya Pemilu. Masih banyak p

  • Kamis, 16 Mei 2019 17:26

    Pemuda Muhammadiyah Sumut Imbau Semua Elemen Anak Bangsa Menahan Diri

    Basir Hasibuan M.Pd., Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara, menghimbau semua elemen anak bangsa untuk menunggu keputusan KPU 22 Mei nanti."Bagaimana pun (KPU) itu lembaga yang sah secara hukum", t

  • Rabu, 15 Mei 2019 04:15

    HIMMAH Tebing Tinggi Ajak Masyarakat Jaga Kondusifitas Sebelum dan sesudah Penetapan Hasil Pemilu

    Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) Kota Tebing Tinggi mengajak segenap kader, simpatisan dan Masyarakat Kota Tebing Tinggi menjaga kondusifitas dan menciptakan suasana yang penuh kesejukan dalam

  • Senin, 13 Mei 2019 14:13

    Danramil Patrang himbau semua pihak jaga persatuan dan kesatuan

    Camat Patrang Rofiq Sugiharto, Komandan Koramil (Danramil) 0824/01 Patrang Kapten Inf Sumaryono, Kapolsek Patrang diwakili oleh Aiptu Elfianto, Lurah Bintoro dan para Ketua RW, Ketua RT se-kelurahan B

  • Rabu, 08 Mei 2019 20:08

    Generasi Muda Masjid Sumut (GMM) Tanggapi Sikap Curiga Pada Penyelenggara Pemilu

    Masyarakat harus memberi kepercayaan penuh kepada KPU seiring selesainya Pilpres dan Pileg 2019.

  • Rabu, 08 Mei 2019 12:18

    Merajut Persatuan Kembali Pasca Pemilu dan Menolak Provokasi yang Memecah Belah Bangsa

    Sang proklamator Bung Karno sekaligus juga adalah Presiden Republik Indonesia yang pertama telah melahirkan dua ungkapan yang melegenda "Jas Merah" (Jangan sekali kali melupakan sejarah) dan juga ungk

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak