Rabu, 14 Nov 2018 04:16
HUT Pemkab Labuhanbatu
  • Home
  • Sosial Budaya
  • Dialog Publik Cipayung Plus Kota Medan, "Pemko Tidak Serius Tangani Banjir"

Dialog Publik Cipayung Plus Kota Medan, "Pemko Tidak Serius Tangani Banjir"

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Sam/rls
Sabtu, 10 Nov 2018 11:00
Istimewa
Bertempat di Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa GMKI Medan, Jln. Iskandar Muda No 107 A, pada Jumat, (09/11) terselenggara dialog publik Cipayung Plus Kota Medan mengangkat topik "Mengupas Persoalan Banjir Kota Medan."

Hadir sebagai narasumber Ir. Junjungan Saragih mewakili Badan Wilayah Sungai Sumatera II dan Sandrak Lugo Manurung dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara. 

Dialog ini diprakarsai oleh 8 organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Kota Medan yaitu GMKI Medan, GMNI Medan, PMII Medan, PMKRI Medan, IMM Medan, HIMMAH Medan, KAMMI Medan dan HIKMABUDHI Medan. 

Ir. Junjungan Saragih seraya memaparkan, "Sebenarnya tidak ada perubahan signifikan mengenai debit air di sungai-sungai Medan. "Namun seperti kita ketahui, malahan frekuensi banjir semakin sering terjadi. Mengapa?" ujarnya menggugah peserta.

"Kondisi sungai di Kota Medan seperti sungai Deli, Babura, Badera dan Percut tergolong cukup baik dalam menampung air ketika hujan turun. Namun kondisi di Daerah Aliran Sungai buruk makanya air lama surutnya. Pengelolaan DAS ini di luar kewenangan kami pula," sambungnya. 


Menurut Ir. Junjungan Saragih, sejauh instansinya mempelajari mengenai persoalan banjir di Medan ini, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya banjir. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain debit air kiriman dari daerah lain, sedimentasi sampah dan limbah rumah tangga, alih fungsi DAS, dan disintegrasi sistem drainase kota.

"Saya kurang tahu apakah sistem drainase di Kota Medan ini sudah disesuaikan dengan kondisi kota saat ini. Rancangan tata ruang mestinya mempertimbangkan keberadaan sumber daya air di wilayah itu. Sehingga kelebihan maupun kekurangan air di suatu area dipengaruhi oleh tata ruangnya," sambung Ir. Junjungan. 

Sementara Sandrak Lugo Manurung menjabarkan presentasinya bahwa banjir di kota Medan akibat tidak adanya 'keadilan' ruang. Pembangunan di kota ini tidak lagi disesuaikan dengan daya dukung lahan. 

"Selain faktor-faktor seperti yang disampaikan Ir. Junjungan tadi, kita juga harus jujur bahwa banjir ini terjadi karena ketidakadilan ruang. Penebangan hutan di hulu sungai menyebabkan tidak dapat dibendungnya air ketika hujan turun. Pembangunan yang masif tentu mengurangi daerah resapan air. Ketika hujan datang langsung meluap, karena tanahnya juga sudah jenuh air. Mau dialirkan pun drainase kita belum sepenuhnya terhubung ke sungai-sungai besar. Bagaimana tidak terganggu drainase kita, banyak sampah dan limbah disana. Faktor lainnya adalah alih fungsi DAS, yang dijadikan daerah permukiman. Terkhusus Banjir ROB di Belawan, itu terjadi karena alih fungsi lahan hutan mangrove di pesisir pantai," papar Sandrak. 

Untuk menyelesaikan persoalan banjir di Medan ini, kedua narasumber sepakat bahwa harus ada upaya ekstra dari Pemko. 

"Ini kan masalahnya kompleks, daerah-daerah lain punya andil, misalnya Sungai Deli yang melintasi beberapa kota kabupaten. Sebagus apa pun sistem pengelolaan air di Medan ini, kalau sudah datang kiriman air bandang dari hulu, toh Medan banjir juga. Makanya perlu dilakukan koordinasi antar pemerintah Kota Medan dengan Pemkab maupun Pemprov dalam hal kebijakan pengelolaan air dan sungai ini," tutur Sandrak Lugo.


"Jadi ini bukan soal anggaran, namun inisiatif dan peran aktif dari Pemko, misalnya dalam pelebaran sungai, kami dari BWS menghandle soal teknis, soal pembebasan lahan ya dikerjakan oleh Pemko, harus ada sinkronisasi dan kolaborasi semua pihak. Tidak bisa sendiri-sendiri," sambung Ir. Junjungan. 

Namun dialog terkesan timpang dengan ketidakhadiran perwakilan Pemerintahan Kota Medan. 

Menurut penuturan Hendra Manurung, Ketua GMKI Medan selaku fasilitator dialog, pihak pemerintah kota Medan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Tata Ruang, beberapa jam sebelum dialog berlangsung, menolak untuk hadir. 

"Inilah kekecewaan kami terhadap Pemerintah Kota Medan ini, kita mencoba membantu mereka dengan cara-cara yang bersahaja, namun responnya begini, tidak serius. Tadi pagi (Jumat) mereka sudah konfirmasi hadir, tapi di siang hari mereka sudah tidak bisa lagi dihubungi. Saya sudah komunikasi dengan Ketua-ketua Cipayung Plus Kota Medan, kami sepakat kami yang akan menyambangi mereka dalam waktu dekat," ucap Hendra.

Editor: Herda

T#g:banjirCipayung PlusGMKI
iklan kaos garuda
Berita Terkait
  • Senin, 05 Nov 2018 09:05

    Korem 032/WBR Bantu Atasi Banjir Padang

    Beberapa wilayah di Kota Padang pada hari Jum'at lalu dilanda banjir akibat curah hujan yang cukup lama, yang telah berdampak pada selain menelan korban jiwa sebanyak 2 orang, juga mengakibatkan

  • Minggu, 04 Nov 2018 20:34

    GMKI Pematangsiantar-Pematangsiantar-Simalungun Lantik 150 Anggota Baru

    Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar Simalungun, kembali mengadakan penerimaan anggota baru melalui kegiatan Masa Perkenalan dan Persekutuan (Mapper) yang diadakan pada Sa

  • Jumat, 26 Okt 2018 10:26

    Dugaan Pencemaran Nama Baik, Sun On May Laporkan Amos & Aslan Ke Polres Labuhanbatu

    Tidak terima dengan ulah saudara Amos yang memposting dan membagikan video tentang dirinya di media sosial dan pemberitaan yang terbit di beberapa media online, Sun On May Galingging (22) melaporkan A

  • Senin, 15 Okt 2018 13:15

    Musim Penghujan, BPBD Palas Imbau Warga Waspadai Ancaman Banjir

    Memasuki musim penghujan yang sudah berjalan selama sebulan terakhir ini, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Padang Lawas (Palas) imbau warga masyarakat di daerah ini agar wasp

  • Jumat, 12 Okt 2018 17:12

    Curah hujan tinggi, 3 Desa di Luat Siunggam Banjir

    Akibat curah hujan tinggi yang melanda wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) sejak beberapa hari terakhir mengakibatkan Sungai Panantanan di Siunggam, Kecamatan Padang Bolak Tenggara meluap, J

  • Kamis, 11 Okt 2018 04:11

    Kredibilitas KPU RI untuk Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumut Jangan Sampai Diragukan

    Beberapa hari lalu pelaksanaan Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Anggota KPU Periode 2018-2023 di 26 Kabupaten/Kota, di Sumatera Utara, telah berlangsung. Namun GMKI Wilayah I Sumut-NAD melihat kondis

  • Selasa, 09 Okt 2018 14:09

    Sungai Bandar Durian Meluap, Masyarakat Sebut Disebabkan Kerusakan Hutan di Hatapang

    Turunnya Hujan dengan Intensitas tinggi sejak dini hari kembali membuat Sungai yang ada di Desa Terang Bulan Kecamatan Aek Natas meluap sampai menggenangi Badan Jalan Lintas Sumatera, Selasa (9/10/201

  • Senin, 01 Okt 2018 18:31

    GMKI Medan Gelar Aksi Solidaritas Kecam Penyegelan Gereja di Jambi

    Limapuluh mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) melakukan aksi solidaritas terkait penyegelan rumah ibadah di Kota Jambi. Aksi serentak GMKI seluruh Indonesia di 34 Provinsi ini di

  • Kamis, 30 Agu 2018 20:00

    Swangro Lumbanbatu: KPK, Habisi Koruptor di Sumut

    Melihat kondisi Sumatera Utara 10 tahun belakangan ini, dimana banyak pejabat yang tertangkap tangan karena korupsi, GMKI Sumut, sebagai bagian dari masyarakat, sangat miris melihat kondisi saat ini.

  • Rabu, 08 Agu 2018 17:58

    GMKI Wilayah I Sumut-Aceh Aksi Solidaritas Untuk Korban Gempa Lombok

    Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Wilayah I (Sumatera Utara-Aceh), memulai aksi solidaritas dalam bentuk menggalang bantuan untuk membantu para korban dalam ben

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak