Minggu, 19 Jul 2026
Pendampingan Anak Korban Kekerasan melalui Praktik Kerja Lapangan di PKPA Medan
Medan (utamanews.com)
Oleh: Berkah Amanda (NIM 230902019) Sabtu, 13 Jun 2026 11:58
Dok. Pribadi

Pada 24 Februari 2026, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sumatera Utara (USU), secara resmi dilepas untuk melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di berbagai lembaga mitra. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengaplikasikan teori, nilai, dan keterampilan pekerjaan sosial di lapangan.

Saya, Berkah Amanda (NIM 230902019), melaksanakan Praktik Kerja Lapangan di Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) Medan pada 4 Maret hingga 26 Mei 2026. Selama pelaksanaan PKL, saya berkesempatan terlibat dalam proses pendampingan anak yang mengalami permasalahan perlindungan anak, khususnya anak korban kekerasan dalam keluarga.

PKPA Medan merupakan lembaga yang bergerak di bidang perlindungan anak melalui kegiatan advokasi, edukasi, pendampingan, dan penanganan berbagai kasus yang berkaitan dengan pelanggaran hak anak. Melalui lembaga ini, anak-anak yang mengalami kekerasan, penelantaran, maupun berbagai bentuk pelanggaran hak lainnya memperoleh layanan yang berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak.

Dalam pelaksanaan PKL, saya melakukan pendampingan terhadap seorang anak berinisial R (12 tahun) yang mengalami kekerasan fisik dan verbal dari ayahnya. Kekerasan yang dialami berupa pemukulan ketika melakukan kesalahan atau memperoleh nilai sekolah yang rendah, serta bentakan dan penghinaan yang dilakukan secara berulang. Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan anak, antara lain menimbulkan rasa takut yang berlebihan, kecemasan, kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sosial, serta penurunan prestasi belajar di sekolah.
Proses pendampingan diawali dengan tahap engagement atau pendekatan awal. Pada tahap ini, fokus utama yang dilakukan adalah membangun hubungan yang aman dan penuh kepercayaan dengan anak. Pendekatan dilakukan melalui percakapan ringan mengenai kegiatan sehari-hari, sekolah, teman sebaya, serta hal-hal yang disukai anak. Pada awal pertemuan, anak terlihat tertutup, cenderung berbicara dengan suara pelan, dan menghindari pembicaraan mengenai kondisi keluarganya. Namun, melalui pendekatan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten, anak mulai merasa nyaman serta bersedia menceritakan pengalaman yang dialaminya.

Setelah hubungan mulai terbangun, dilakukan proses asesmen untuk memahami kondisi anak secara lebih mendalam. Asesmen dilakukan melalui observasi dan wawancara guna mengidentifikasi masalah yang dialami, faktor penyebab, kebutuhan, serta potensi yang dimiliki anak.

Dari hasil asesmen diketahui bahwa anak mengalami ketakutan terhadap figur ayah, kesulitan mengungkapkan emosi, cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami penurunan konsentrasi belajar. Selain itu, ditemukan beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, seperti pola pengasuhan yang otoriter, rendahnya kemampuan orang tua dalam mengelola emosi, konflik keluarga yang berlangsung terus-menerus, serta minimnya pemahaman mengenai pengasuhan positif.

Meskipun menghadapi berbagai permasalahan, asesmen juga menunjukkan bahwa anak memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan. Anak masih memiliki motivasi untuk bersekolah, memiliki hubungan yang baik dengan beberapa teman dan guru, serta menunjukkan minat yang tinggi terhadap kegiatan menggambar. Potensi-potensi tersebut kemudian menjadi dasar dalam penyusunan rencana intervensi.
produk kecantikan untuk pria wanita

Berdasarkan hasil asesmen, intervensi yang dilakukan berfokus pada pemulihan psikososial anak. Kegiatan yang diberikan meliputi pendampingan individual, aktivitas menggambar dan bercerita sebagai sarana mengekspresikan perasaan, pemberian dukungan emosional, serta penguatan kemampuan anak dalam mengenali dan mengungkapkan emosinya secara sehat. Selama proses pendampingan, anak juga diberikan pemahaman mengenai hak-haknya sebagai anak serta pentingnya mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatannya.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya perkembangan positif pada diri anak. Anak mulai lebih terbuka dalam berkomunikasi, lebih berani mengungkapkan perasaan, dan menunjukkan penurunan tingkat kecemasan dibandingkan sebelumnya. Selain itu, anak mulai kembali berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sosial dan menunjukkan rasa percaya diri yang lebih baik.

Melalui kegiatan PKL ini, saya memperoleh pengalaman berharga mengenai pentingnya pendekatan pekerjaan sosial dalam penanganan kasus perlindungan anak. Pengalaman tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan dalam melakukan asesmen dan intervensi, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya perlindungan anak serta peran pekerja sosial dalam mendukung proses pemulihan anak korban kekerasan.

iklan peninggi badan
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP., selaku dosen pembimbing praktikum, Kak Marika Uli Tami selaku supervisor lembaga, serta seluruh pihak di PKPA Medan yang telah memberikan kesempatan, bimbingan, dan dukungan selama pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan. Pengalaman ini menjadi bekal penting dalam mengembangkan kompetensi profesional sebagai calon pekerja sosial yang memiliki kepedulian terhadap perlindungan dan kesejahteraan anak.
busana muslimah
Berita Terkini
Index
Berita Pilihan
adidas biggest sale promo samsung flash sale baju bayi wardah cosmetic cutbray iklan idul fitri alfri
Kontak   Disclaimer   Karir   Iklan   Tentang Kami   Pedoman Media Siber

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

gopay later