Senin, 16 Sep 2019 16:19
  • Home
  • Opini
  • Upaya Politis HTI Tunggangi Aksi Bela Tauhid II

Ingat NKRI harga mati!

Upaya Politis HTI Tunggangi Aksi Bela Tauhid II

Medan (utamanews.com)
Oleh: M Ringgo, mahasiswa FISIP UNJ Jakarta
Jumat, 02 Nov 2018 08:22
Media Indonesia
Konferensi Pers di kantor HTI, 5 Mei 2017.
Sebagai organisasi trans-nasional, HTI tidaklah berdiri sendiri. Di belakangnya masih ada Hizbut Tahrir Internasional (HT-IN). Tentu saja mereka tak akan tinggal diam setelah HTI dibubarkan oleh pemerintah Indonesia. Dengan segala macam cara HT-IN akan mencari celah untuk menjaga eksistensi jaringan mereka di Indonesia.

Keberanian Banser membakar bendera HTI di Garut membawa begitu banyak hikmah. Kita semua jadi tahu bahwa jaringan eks HTI masih bergerilya dan menunggu momen yang tepat untuk bangkit. Merebut tampuk kepemimpinan di Indonesia.

Mengapa saya berani sebut itu adalah bendera HTI? Pertama, pembawa bendera tersebut sudah mengaku simpatisan HTI, kedua pembawa bendera HTI tersebut bukan santri yang diundang dalam acara. Ketiga, dalam peraturan disebutkan bahwa dilarang membawa bendera lain selain bendera Indonesia. Kok nekat? Atau memang sengaja ingin menunjukkan eksistensinya?

Namun masih ada sebagian kecil lainnya yang masih ngotot bahwa itu adalah bendera tauhid. Bahkan beberapa tokoh politik ikut menyuarakan bahwa itu bukan bendera HTI. Hal ini tentu saja aneh, mengapa dengan repot- repot mau mengurusi hal semacam ini? Bukankah mereka terkesan membela HTI? Semakin mereka berkelit, publik akan semakin mengenali siapa saja simpatisan maupun pendukung HTI. 

Narasi yang dibangun oleh kelompok HTI, bahwa bendera yang dibakar oleh Banser adalah bendera tauhid. Jubir HTI dengan mengatakan bahwa HTI tidak punya bendera. Padahal faktanya, sebelum dibubarkan, HTI selalu membawa bendera tersebut dalam sejumlah aksinya.


Saat ini ummat Islam yang tidak terlalu paham soal HTI dan misi menegakkan khilafah di Indonesia pun diseret-seret, diprovokasi bahwa Banser telah membakar bendera tauhid. Banser harus dibubarkan. Lalu setelah itu muncullah ajakan-ajakan fiktif, aksi bela kalimat tauhid. Apa tujuannya? Tentu saja sekedar propaganda.

Aksi bela tauhid? Bela Agama? Tuhan tidak perlu dibela. Pembela tentu saja kedudukannya lebih tinggi derajatnya daripada yang dibela. Lalu dengan membela tauhid bukankah berati orang-orang pembela ini memposisikan kedudukannya di atas kalimat tauhid itu sendiri? Miris, agama hanya dijadikan alat untuk menuju kekuasaan. Simbol-simbol agama digunakan sebagai tameng pembenaran dari segala tindakan-tindakan makar yang mereka lakukan.

GP Ansor yang menaungi banser juga telah merespon kejadian ini dengan bijak. Banser meminta maaf karena telah menimbulkan keributan. Tapi di sisi lain Banser menyatakan dengan sangat jelas, bahwa tindakan penertiban dan pembakaran terhadap bendera HTI adalah sebuah eskpresi spontan, atas dasar kecintaan Banser terhadap bangsa dan tanah air.

Lebih mencurigakan lagi saat aksi bela tauhid jilid 1 yang dilakukan di Patung Kuda dan Kantor Menkopolhukam lalu, di tengah demonstrasi, seorang orator meneriakkan tagar 2019 ganti presiden. Menurutnya, Presiden Joko Widodo telah banyak melakukan kebohongan dan mengkriminalkan ulama dan dinilai anti-Islam. Pemimpin yang bohong mau kita beri kesempatan dua periode atau tidak? Pemimpin yang zolim, halal atau haram? Pernyataan tersebut kemudian dibalas 'tidak' oleh massa.

Ini yang disebut aksi bela tauhid? Lalu mengapa ujung-ujungnya teriak ganti  presiden? Ujung-ujungnya menyangkut politik? Samakah dalang aksi ini dengan dalang deklarasi ganti presiden? Jika iya tentu saja aksi bela tauhid ini perlu dicurigai kemana arah dan dalangnya ini.


Kemudian massa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) dan unsur lainnya, akan menggelar Aksi Bela Tauhid 211. Aksi jilid 2 ini akan dipusatkan di depan Istana Kepresidenan Jakarta. Aksi rencananya akan digelar hari ini, Jumat setelah salat Jumat berjamaah di Masjid Istiqlal. Setelah salat, massa akan longmarch ke depan Istana untuk menyampaikan tuntutannya. Kegiatan juga akan diikuti massa yang diinisiasi oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212. 

Perlukah aksi ini? Menurut saya jika tujuannya memang aksi membela tauhid murni tentu tidak efektif. Kepolisian telah mengusut terkait kasus ini dan menyelesaikannya. Jelas secara hukum kasus ini sudah terpecahkan. Kecuali apa bila kasus ini memiliki maksud dan tujuan lain seperti membuat pemerintah chaos seperti aksi 212 lalu. Tentu saja hal ini akan membuat HTI dan dalang dibaliknya tertawa bahagia apabila aksi 211 membuat pemerintah jatuh.

Kita sebagai masyarakat, lebih baik kita tidak usah ikut-ikutan hal seperti itu. Saat ini kondisi bangsa ini sedang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Bencana alam, tsunami gempa serta kejadian pesawat jatuh jauh lebih membutuhkan perhatian kita dibanding hal-hal berbau provokasi politik yang dibungkus dengan isu agama.

Yang perlu kita ingat adalah HTI menginginkan ideologi Pancasila diganti. Organisasi seperti itu sudah selayaknya diberantas. HTI kini mulai menunjukkan eksistensi, namun kita Indonesia sudah sepantasnya kita memperjuangkan negeri ini. Kita tidak boleh lengah dan tertipu oleh tipu daya mereka yang mengatasnamakan agama. 

Ingat NKRI harga mati!

Editor: Sam

T#g:HTI
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Minggu, 25 Agu 2019 03:25

    Ancaman Kehidupan Berbangsa Berwujud Ijtima' Ulama IV

    Point kelima hasil ijtima ulama disebutkan bahwa perlu dibangun kerja sama antara ormas Islam dan politik. Seperti yang kita tahu bahwa atmosfer Islam sebagai politik identitas sedang marak-maraknya d

  • Senin, 12 Agu 2019 03:12

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Indonesia

    Radikalisme merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia telah menjadi merekam bagaimana bahaya dan ancaman mereka yang telah mampu melulu lantakkan sendi- sendi keh

  • Sabtu, 10 Agu 2019 03:10

    Mewaspadai Ideologi Hizbut Tahrir Berkedok Komunitas

    Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang telah dibubarkan, namun gerak ideologis mereka ternyata tetap ada dan bermetamorfosa dalam bentuk komunitas. Dimana komunitas royatul Islam (KARIM) telah membawa i

  • Minggu, 14 Apr 2019 03:14

    Tiada Tempat Untuk HTI di Bumi Serambi Mekkah

    Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) resmi dilarang di Indonesia sejak 17 Juli 2017. Langkah tersebut diambil setelah kajian pemerintah tentang gebrakan dan sepak terjang HTI. Hal yang paling mendasar adalah

  • Sabtu, 30 Mar 2019 08:10

    IPW Heran Kelompok Radikal dan Anti Pancasila Terakomodir Dalam Pilpres 2019

    Debat ke 4 Capres 2019 Sabtu malam ini menjadi penting di tengah berkembangbiaknya kelompok radikal anti ideologi Pancasila, eks teroris, dan para preman jalanan.

  • Jumat, 29 Mar 2019 22:29

    Mantan Kepala BIN: Di Pilpres 2019, Berhadapan Ideologi Pancasila dengan Khilafah

    Abdullah Mahmud Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), menilai Pemilu 2019 yang digelar serentak 17 April mendatang sangat berbeda dari Pemilu yang pernah dilaksanakan di Indonesia

  • Minggu, 03 Feb 2019 06:53

    Politik Pragmatisme Kubu Prabowo-Sandi

    Baru- baru ini, beredar luas di media sosial poster berisi komando pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab agar pendukung FPI menarik dukungan dari pasangan Prabowo-Sandi.

  • Senin, 17 Des 2018 03:17

    Waspada HTI, Tolak Radikalisme!!

    Gencarnya pergerakan organisasi terlarang HTI agar kembali mendapatkan ruang di Indonesia semakin masif. Berbagai upaya baik dari aparat maupun lembaga pemerintah tak kalah untuk menangkal propaganda

  • Kamis, 13 Des 2018 17:03

    Waspada Gerilya HTI Pasca Dibubarkan

    Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta terkait pembubaran HTI oleh Kemenkumham merupakan hal yang sah dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pembubaran organisasi terlarang ini

  • Jumat, 09 Nov 2018 10:49

    Kebutaan Di Balik Aksi 211

    Dampak dari kejadian hari santri yang diselenggarakan oleh Ormas Islam di Garut pada 22 Oktober 2018 lalu, berujung panjang hingga adanya Aksi Bela Tauhid 211. Aksi membela kalimat Tauhid dipelopori o

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak