Rabu, 03 Jun 2020 23:47
  • Home
  • Opini
  • Tak Perlu Ragu Menolak Kepulangan WNI Eks ISIS

Tak Perlu Ragu Menolak Kepulangan WNI Eks ISIS

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Muhammad Zaki, pegiat media sosial
Sabtu, 03 Agu 2019 03:03
@ad1y_bev
Pejuang ISIS di Suriah
Media telah memberitakan bahwa ISIS mengalami kekalahan di Suriah, mereka memaksa mundur setelah diserang oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di bulan Maret 2019 ditandai dengan jatuhnya pertahanan terakhir ISIS di Baghouz.

Sejak kejayaan hingga kejatuhan ISIS, terdapat sekitar 700 sampai 800-an WNI simpatisan ISIS di Suriah. Dari keseluruhan tersebut, baru sekitar 200 orang yang telah dipulangkan ke Indonesia. Sisanya, masih menunggu bantuan pemerintah agar dapat pulang ke Tanah Air.

Namun, tidak semudah itu, toh tidak ada yang memaksa mereka untuk pergi ke Suriah. Presiden Jokowi juga menegaskan bahwa kepulangan para WNI eks ISIS akan dilaksanakan apabila mereka berkomitmen untuk setia pada pancasila. Tetapi jika mereka tidak mau mengubah ideologi mereka, maka Indonesia dengan tegas tidak menerima mereka.

Mari kita merujuk pada sebuah pepatah lama, "Kalaulah kamu mendengar gunung berpindah, bolehlah kamu percaya. Namun apabila kamu mendengar karakter orang berubah maka jangan mudah percaya."


Kalimat tersebut seakan menyiratkan akan adanya bahaya yang mungkin muncul jika kita mudah percaya pada seseorang yang ingin mengubah karakternya.

Hal tersebut diperkuat oleh Kasandra Putranto selaku Psikolog Kasandra Associates yang mengatakan bahwa, ada potensi bahaya bila istri dan anak eks kombatan dan simpatisan ISIS tersebut pulang ke Tanah Air. Hal tersebut dikarenakan adanya potensi mengembangkan sikap ekstrem sebagai dampak dari lingkungan sosial mereka saat berada di Suriah.

Tentu kita sudah tahu betapa ISIS sangatlah Radikal dan seakan pro dengan tindak kekerasan. Jika memang nanti mereka pulang ke Indonesia, apakah mereka akan bersikap damai dan toleran dengan perbedaan yang ada? Bolehkah kita curiga, misal mereka pernah mengetahui cara membuat bom di Suriah, lalu setelah ISIS kalah mereka minta pulang dan dipulangkan, karena dalam hatinya masih ada sisa- sisa sikap radikalisme, tentu akan berbahaya jika mereka lantas tidak mau menyatakan bahwa pancasila sebagai ideologi.

Jika masih kurang bukti, mari kita tengok di tahun 1980-an, dimana pada saat itu seseorang yang berpaham radikal dan menamakan dirinya Mujahidin Afganistan kembali ke tanah air dan 20 tahun kemudian menjadi teroris bom bunuh diri di Bali.


Merujuk pada kisah tersebut bukan tidak mungkin  hal ini dapat terlulang oleh para eks-simpatisan ISIS yang hendak pulang ke tanah air.

Menteri Pertahanan Republik Indonesa, Ryamizard Ryacudu telah menegaskan, bagi warga Indonesia yang memilih untuk bergabung dan berjuang bersama ISIS, Ia menyarankan agar tidak usah kembali ke Indonesia untuk bergabung dengan ISIS baik di Irak, Suriah maupun Marawi. Penolakan ini mungkin akan memunculkan reaksi dari beberapa masyarakat yang merasa bahwa pemerintah sekarang ini zalim terhadap umat Islam.

Namun akan muncul sebuah pertanyaan, apakah saat mereka berangkat ke Suriah, mereka para simpatisan ISIS masih mau mengakui ideologi bangsa Indonesia, atau apakah mereka masih mau hormat kepada bendera merah putih.


Jika ada yang menuduh Pemerintah tidak pro terhadap umat muslim, tentu akan ada tanda tanya besar, umat Islam yang mana yang dibenci oleh Jokowi. Atau jangan- jangan umat Islam tertentulah yang ingin hidup dalam negara yang menganut sistem khilafah.

Kalau begitu, para simpatisan Eks ISIS lebih baik tidak usah pulang, daripada nanti menunjukkan sikap anti demokrasi dan toleransi di Indonesia, lebih baik mereka setia saja dengan ISIS yang sudah kalah, jangan lantas sudah kalah baru merengek pulang. Jika tujuan mereka berjihad, tentu tidak sepenuhnya benar jika jihad dimaknai dengan upaya perang dan angkat senjata. Padahal menafkahi keluarga dan menyumbang harta kepada orang miskin juga termasuk Jihad.

Sekali lagi kita patut curiga bahwa kejatuhan ISIS ini bisa berdampak banya kepada para simpatisannya. Selain membuat kaget, runtuhnya kelompok radikal ini tentu bisa memicu sikap perlawanan dari simpatisan mereka dalam melanjutkan perjuangan melalui kelompok lain. Kalau begitu, masih ingin Indonesia dilanda paham radikalisme hingga aksi terorisme yang membuat geger. Masih pengen denger kalimat "Allahu Akbar" tapi berniat untuk mencelakai seseorang?
Editor: Iman

T#g:isis
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Sabtu, 23 Mei 2020 03:33

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme Menyasar Anak Muda

    Penyebaran radikalisme masih menjadi ancaman bagi kelangsungan bangsa dan negara Indonesia. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, target radikalisme pun kini juga menyasar generasi muda

  • Minggu, 16 Feb 2020 03:16

    Mengapresiasi Sikap Tegas Pemerintah Menolak Kepulangan ISIS Eks WNI

    Pemerintah dengan tegas menolak memulangkan ISIS eks WNI ke Tanah Air. Kepulangan mereka  dikhawatirkan menjadi teroris baru yang membahayakan nyawa 267 juta rakyat Indonesia. Beberapa pekan

  • Minggu, 09 Feb 2020 08:29

    WNI Alumni ISIS, Pulang Atau Tidak?

    Setelah pertarungan ideologi Pancasila dengan Khilafah, di era pilpres 2019, yang  berawal dari penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahajaahaya Purnama atau Ahok, aksi dan opini te

  • Selasa, 04 Feb 2020 17:24

    Pemerintah Masih Kaji Rencana Pemulangan Eks ISIS

    Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan ISIS saat ini berada di beberapa negara di Timur Tengah. Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan bahwa pemerintah saat ini masih mengka

  • Jumat, 23 Agu 2019 03:23

    WNI Eks ISIS, Pergi Sembunyi- sembunyi Kemudian Minta Kembali

    Beberapa WNI pada awal tahun 2011 pergi ke luar negeri dengan berbagai tujuan,  namun hal itu hanyalah kamuflase belaka, ternyata tujuan mereka adalah untuk menuju Suriah dan tergabung dalam kelo

  • Senin, 12 Agu 2019 03:12

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Indonesia

    Radikalisme merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia telah menjadi merekam bagaimana bahaya dan ancaman mereka yang telah mampu melulu lantakkan sendi- sendi keh

  • Minggu, 02 Des 2018 03:02

    Operasi Intelijen? Tuduhan Tanpa Landasan!

    Bendera bertuliskan kalimat tauhid menjadi kontroversi di Tanah Air akhir akhir ini. Polemik itu berawal dari pembakaran bendera oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama di Garut

  • Jumat, 09 Nov 2018 10:49

    Kebutaan Di Balik Aksi 211

    Dampak dari kejadian hari santri yang diselenggarakan oleh Ormas Islam di Garut pada 22 Oktober 2018 lalu, berujung panjang hingga adanya Aksi Bela Tauhid 211. Aksi membela kalimat Tauhid dipelopori o

  • Jumat, 18 Mei 2018 15:18

    Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

    Setelah aksi penyanderaan di Markas Komando Brigade Mobil (MAKO) Brimob di Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) lalu, teror kembali terjadi dua hari berturut-turut. Kali ini teror dilakukan di Kota Surabay

  • Kamis, 10 Mei 2018 20:30

    PascaKerusuhan di Mako Brimob Depok, Kapoldasu Ingatkan Polres Deliserdang Siaga

    Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Paulus Waterpauw meninjau Polres Deliserdang pada Rabu (9/5/2018) sekira pukul 23.45 Wib.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak