Senin, 27 Mei 2019 03:23
  • Home
  • Opini
  • Sukseskan Pemilu 2019 Dengan Bijak Bermedia Sosial

Sukseskan Pemilu 2019 Dengan Bijak Bermedia Sosial

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Barnas Rasmana, Pengamat Masalah Sosial Politik
Minggu, 17 Mar 2019 03:17
@GolovkoSergey
Ilustrasi
Pemilihan Umum atau yang akrab disebut dengan Pemilu oleh masyarakat Indonesia adalah suatu proses pemilihan seseorang untuk mengisi jabatan politik tertentu.

Menjelang Pemilihan Umum 17 April 2019, beragam media banyak mencurahkan perhatian terhadap isu politik di negeri ini. Bukan hanya media nasional, sebagai hasil dari adanya kebebasan berpendapat siapapun bisa memposisikan dirinya sebagai pewarta atau pembagi informasi.

Selain itu, pengaruh dari perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat juga tidak bisa diabaikan. Maraknya pengguna mobile smartphone atau ponsel pintar bisa dijadikan sebagai contoh. Sebab, keberadaannya telah menjelma sebagai ruang berekspresi baru bagi masyarakat Indonesia.

Wahyudi (2015), seperti dilansir ojs.fkip.ummetro.ac.id mencatat bahwa pengguna ponsel pintar atau mobile smartphone di Indonesia mencapai lebih dari 100 juta pengguna. "Lembaga Riset Digital Marketing Emarketeer melaporkan khusus di Indonesia jumlah pengguna mobile smartphone terutama di kalangan remaja berkembang pesat sehingga telah diprediksi bahwa tahun 2018 mencapai lebih dari 100 juta," ungkap Wahyudi dalam penelitiannya tentang pemanfaatan aplikasi mobile smartphone sebagai media pembelajaran.


Celakanya, perkembangan pesat dari teknologi tidak diimbangi dengan pemanfaatan yang positif oleh penggunanya. Tak jarang, mobile smartphone dengan berbagai aplikasi media sosial seperti facebook, instagram, tweeter dan lain-lain disalahgunakan untuk mengakses dan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Alih-alih memberikan informasi yang berdampak edukasi, malah menuai kontroversi dan menciptakan kegaduhan.

Tentu naif rasanya bila dalam hal ini masyarakat yang sepenuhnya jadi tersangka, sebab sebagian besar masyarakat lebih memposisikan dirinya sebagai konsumen berita atau pencari informasi. Sedangkan untuk menjerat pelaku pembuat konten hoax, negara juga masih mengalami kewalahan.

Tingginya jumlah pengguna smartphone dengan dilengkapi berbagai perangkat aplikasi media sosial seperti facebook, instagram, tweeter dan lainnya rentan sekali dijadikan sarang penyebaran berita hoax oleh orang-orang yang ingin mengambil keuntungan. Terutama kondisi menjelang Pemilu seperti sekarang ini.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh Mastel (2017) tentang wabah hoax nasional menemukan bahwa media sosial yang memegang predikat tertinggi sebagai chanel atau saluran berita informasi yang memuat konten hoax adalah facebook dengan perolehan 92,40%, disusul aplikasi chatting 62,80% dan situs web 34,90% diurutan ketiga.

Pembuat berita hoax tentu memiliki maksud dan tujuan atas tindakannya. Lazimnya, mereka membuat atau menyebarkan berita hoax sebagai upaya membentuk opini masyarakat dengan persepsi yang salah terhadap informasi yang sebenarnya. Modusnya beragam, sebagian berasal dari motivasi sendiri dan tak jarang atas permintaan pihak yang sengaja ingin memperkeruh ruang publik. 

Bramy Biantoro (2016) menyebutkan ada empat bahaya yang ditimbulkan berita hoax, yaitu hoax membuang waktu dan uang, hoax jadi pengalih isu, hoax sebagai sarana penipuan publik, dan hoax sebagai pemicu kepanikan publik.

Bila kita telaah lebih lanjut apa yang diungkapkan Biantoro, fenomena hoax yang menjangkiti tanah air merupakan sebuah upaya pembodohan model baru. Bagaimana tidak, ditengah upaya berbagai lembaga organisasi baik pemerintah, swasta dan kelompok-kelompok komunitas sedang getol meningkatkan budaya literasi ke tengah masyarakat justru malah diinfiltrasi peredaran berita bohong.

Berita hoax seolah-olah sengaja dibangun untuk membodohkan generasi bangsa dan cenderung memancing konflik bersaudara. Hoax tak ubahnya sebuah upaya dari strategi politik adu domba. Hal ini tentu mengancam keutuhan suatu bangsa, terutama berkaitan dengan isu SARA yang menyangkut sentimen identitas antar Suku, Agama, Ras dan Golongan.

Terutama di tahun politik seperti sekarang ini, tak berlebihan rasanya bila kita menaruh kecurigaan dan menilai hoax sebagai pengalih isu dan sengaja diciptakan supaya bangsa kita menghabiskan waktu berkutat dalam perdebatan remeh-temeh antar kubu. 

Isu hoax dengan segala macam dampak buruk yang ditimbulkannya, bukan hanya terjadi di tanah air. Baru-baru ini viva.co.id merilis sebuah berita hoax yang terjadi di Malaysia. Dalam unggahannya itu, seorang fans club sepak bola menyebarkan berita hoax atas meninggalnya Mohd Badhri Mohd Radz. Mohd Badhri merupakan salah seorang kapten klub Sepak Bola Malaysia yang dikabarkan meninggal dunia dalam sebuah kecelakan mobil. Tak terima dengan hal itu, manajemen klub mengambil langkah hukum untuk menindak tegas penyebar hoax tersebut.

Di tanah air, Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara pesta demokrasi turut mengambil langkah sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran berita hoax. Pada deklarasi pembukaan kampanye damai September 2018 lalu. KPU mengajak peserta Pemilu untuk mensukseskan gelaran pesta demokrasi dengan berkampanye sesuai peraturan Undang-Undang, tertib, damai dan tanpa menggunakan berita bohong.

"Melaksanakan kampanye pemilu yang aman, tertib, damai, berintegritas tanpa hoax, politisasi SARA dan politik uang. Ketiga, melaksanakan kampanye, berdasarkan peraturan UU yang berlaku," ungkap Arif Budiman, Minggu 23 September 2018 seperti dilansir news.detik.com.

Langkah atau himbauan yang diambil KPU tentu belum menjamin Pemilu 2019 terbebas dari hoax. Melihat penyebaran berita hoax dilakukan secara terencana dan terorganisir, berbagai unsur lapisan masyarakat tentunya harus turut berpartisipasi dalam memerangi hal ini. 

Partisipasi masyarakat bisa diaplikasikan dengan langkah bijak dalam mengakses informasi atau berita. Sifatnya tentu saja tidak hanya sebatas menjelang Pemilu 2019. Meskipun menurut penelitian isu politik seperti Pileg, Pilkada dan Pilpres memiliki daya tarik sendiri untuk dijadikan objek hoax. Tetapi demi berlangsungnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh kedamaian dan keharmonisan, masyarakat harus cerdas memilih dan memilah berita supaya tidak mudah terprovokasi.

Saran itu sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung, menurutnya netizen harus selektif memilah mana informasi yang bohong dan benar. "Hoax bisa ditanggulangi dengan istilah swasensor. Swasensor adalah bagian dari literasi media dimana pengguna media sosial alias netizen harus selektif memilah mana informasi yang bohong dan yang benar. Swasensor diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menangkal fenomena berita bohong alias hoax di media sosial," Kompas.com, Sabtu 16/02/2018.

Melihat dampak buruk yang diakibatkan oleh hoax, tidak ada alasan lain selain terus berupaya memerangai hoax. Terutama perusahaan-perusahaan media massa, sudah seyogyanya menyajikan berita dan informasi yang kridibel kepada masyarakat sebagai pihak yang posisinya sebagai konsumen berita.

Selain itu, keselarasan dan keseriusan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam memerangi hal ini juga penting. Serta, keberadaan berbagai komunitas lapak baca yang kini tengah berjuang menularkan virus literasi ke penjuru tanah air perlu mendapat perhatian. Gerakan ini adalah bagian dari salah satu ujung tombak dalam upaya mencerdarkan kehidupan bangsa. Ketika kecerdasan masyarakat meningkat, maka dengan sendirinya masyarakat akan bijak dalam mengakses, mengolah dan menyebarluaskan informasi.

Editor: Iman

T#g:medsos
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Senin, 27 Mei 2019 03:27

    Belajar Dari Pemblokiran Beberapa Media Sosial

    Pemilu 2019 merupakan ajang pesta demokrasi yang tidak terimunisasi dari peredaran hoax maupun fitnah, serangkaian ujaran kebencian hingga pada akhirnya politisasi tempat ibadah juga turut mewarnai te

  • Sabtu, 04 Mei 2019 19:04

    Muhammadiyah: Medsos ikut berpuasa di bulan Ramadhan

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau umat Islam agar menjadikan media sosial (medsos) ikut berpuasa dari hal-hal yang buruk pada bulan Ramadhan.Haedar juga mengatakan jangan

  • Minggu, 28 Apr 2019 03:28

    Rajut Kembali Perdamaian dan Persatuan Setelah Persaingan

    Berbagai umbul- umbul bendera partai, baliho maupun stiker kampanye telah diturunkan. Tensi ketegangan juga semestinya mulai mereda hingga nanti menunggu hasil dari KPU. Namun nyatanya klaim kemenanga

  • Minggu, 31 Mar 2019 09:31

    Pemuda Millenial Tidak Takut Memilih dan Berani Lawan Hoax Demi Wujudkan Keberlanjutan Kepemimpinan dan Pembangunan Indonesia

    Saat ini pemuda milenial merupakan pengguna terbesar dunia maya di Indonesia. Namun sayang tidak sedikit pengguna teknologi ini memanfaatkannya untuk tujuan negatif.

  • Kamis, 28 Feb 2019 03:28

    Media Sosial, Hoaks dan Pilpres 2019

    Siapa yang tidak tahu media sosial di zaman serba canggih ini? Setiap orang paling tidak memiliki satu gawai. Coba bayangkan, masyarakat Indonesia dengan jumlah lebih kurang 260 juta jiwa, memiliki po

  • Jumat, 14 Des 2018 09:54

    BNI Telukdalam Ajak Pelaku UKM Manfaatkan Media Sosial

    Para pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Kabupaten Nias Selatan diminta untuk memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk unggulannya.

  • Senin, 06 Agu 2018 10:36

    Plt Bupati Labuhanbatu Respon Laporan Masyarakat Via Medsos

    Pelaksana tugas (Plt) Bupati Labuhanbatu, H. Andi Suhaimi Dhalimunthe, ST. MT, menanggapi keluhan warga masyarakat Rantauprapat, di sosial media dengan cepat, sebagai bentuk pemberian pelayanan yang p

  • Minggu, 24 Jun 2018 12:54

    Komunikonten Gelar Diskusi Strategi Mempromosikan Wasatiyah Islam Lewat Diplomasi Media Sosial

    Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi) akan mengadakan diskusi bertema, "Strategi Mempromosikan Wasatiyah Islam Lewat Diplomasi Media Sosial," pada Selasa 26 Juni 2018, pukul 13.30 sampai

  • Jumat, 15 Jun 2018 16:05

    Tertangkap Kamera Netizen di Labura, Mobil Gendong Keranda Mayat

    Mudik di saat menjelang datangnya Libur Lebaran, Hari Raya Idul Fitri memang punya nuansa cerita tersendiri.

  • Kamis, 14 Jun 2018 06:54

    Konten Politik Saat Libur Lebaran

    Libur lebaran adalah waktu yang tepat untuk memproduksi, menyebarkan berbagai konten (tulisan, video, infografis, dll). Itulah mengapa para produser film berebut agar film mereka tayang di bioskop saa

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak