Senin, 06 Jul 2020 16:00
  • Home
  • Opini
  • Seperti Presiden Jokowi, para tokoh ini mengutamakan bahasa aslinya saat berpidato

Seperti Presiden Jokowi, para tokoh ini mengutamakan bahasa aslinya saat berpidato

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Alfisyah Kumalasari, pengamat sosial politik
Senin, 15 Jul 2019 03:15
@citypostid1
Vladimir Putin
Terkait dengan keahlian dalam berbahasa Inggris dengan pengucapan yang sempurna seperti penutur asli, tak semua orang di dunia ini bisa. Bahkan para pemimpin negara di dunia ini juga tak semua mau berbahasa Inggris meski dirinya mampu melafalkannya.

Meski begitu ada pula yang bisa berbahasa Inggris secukupnya meski pengucapannya memiliki aksen non-english. Seperti Presiden Indonesia Joko Widodo misalnya, dirinya berbicara bahasa Inggris dengan aksen medok Jawa.

Hal tersebut mendapat tanggapan dari Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang menyatakan bahwa kita harus bangga dengan logat kita. Namun ternyata beberapa pemimpin negara juga dikenal lebih mengutamakan bahasa aslinya daripada menggunakan bahasa Inggris, seperti Perdana Menteri India Narendra Modi yang memilih tetap menggunakan bahasa India bahkan dalam pertemuan para pemimpin dunia.

Faktanya Modi memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang cukup mumpuni, hal tersebut dibuktikan ketika dirinya berbicara di Forum Pertemuan Global Pasar Bekembang pada 2013. Hal tersebut juga turut mengejutkan para hadirin, meski begitu, bila kita dengarkan melalui Youtube, aksen India yang diucapkan Modi tetap jelas terdengar.


Jika memiliki kemampuan berbahasa Inggris, tentu akan memunculkan pertanyaan mengapa Modi memutuskan untuk tidak memakai bahasa Inggris? Ternyata ada alasan politis yang mendasarinya.

Modi menggunakan penerjemah ketika bertemu dengan Barrack Obama pada September 2014. Pilihan itu dinilai diambil berdasarkan pertimbangan domestik daripada memunculkan kekhawatiran lawan bicara menjadi bingung.

Bahasa Hindi adalah bahasa resmi India, bahasa Inggris bukan bahasa yang terlalu asing di negara tersebut, meskipun hanya ada 5 persen saja yang lancar dalam berbahasa Inggris.

Mahatma Gandhi pernah berkata, "Memberi jutaan pengetahuan bahasa Inggris adalah memperbudak mereka."

Di Negara tersebut, urusan bahasa bisa menjadi persoalan politis, dimana kalangan lulusan sekolah atas biasanya membanggakan kemampuan bahasa Inggris mereka. Namun Modi Sendiri beraal dari keluarga yang sederhana dan tidak bersekolah di tempat elite.


Jika sosok Modi tampil bercakap- cakap menggunakan bahasa Inggris, maka kaum nasionalis Hindu tentu bisa merasa berjarak dengan sosok Modi. Orang dengan kemampuan berbahasa Inggris yang fasih di India identik dengan kaum elite sekuler yang kurang merakyat. Di samping itu, masih ada kesan tersisa bahwa bahasa Inggris seperti bahasa para penjajah.

Selain Modi, Presiden Prancis Periode 2012- 2017 Francous Hollande juga masih mempertahankan gengsi sejarah, dimana bahasa Prancis pernah menjadi Lingua Franca. Meskipun ia sempat mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan berbahasa Inggris lebih fasih daripada pendahulunya Nicholas Sarkozy. "Seorang Presiden Prancis harus berbicara dalam bahasa Prancis," tutur Hollande.

"Pemimpin Prancis perlu memahami bahasa itu dan memiliki kemampuan untuk bertutur kata dengan lawan bicaranya. Namun saya tetap terikat pada bahasa Prancis dan kepada Francophonie (Organisasi negara- negara berbahasa Prancis)," tuturnya.

Selain itu Vladimir Putin ternyata juga belum lama belajar Bahasa Inggris, Presiden Russia yang lancar berbahasa Jerman tersebut juga sering berbincang dengan bahasa Russia. Vladimir Putin mengahu dirinya belajar bahasa Inggris beberapa tahun lalu, bukan sejak kecil.

Dirinya juga tidak keberatan menggunakan bahasa Inggris untuk menekankan kalimat- kalimat tertentu supaya lebih dramatis.

Dikutip dari The Guardian dalam tulisannya pada tahun 2014, Putin masih belajar untuk mengucapkan huruf vokal bahasa Inggris. Dia jarang berbicara bahasa Inggris dan tak pernah berbahasa Inggris dalam agenda diplomatik formal.

Selain itu Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker yang dikenal lancar berbahasa Prancis, Jerman dan Inggris, mengatakan bahwa bahasa Inggris makin kehilangan arti pentingnya dewasa ini.

"Pelan tapi pasti, bahasa Inggris sedang kehilangan arti pentingnya di Eropa," tutur Juncker dalam konferensi di Florence Mei 2017 silam.

Hal tersebut juga dilandasi oleh pendapat seorang Profesor dari diplomasi publik Universitas Southern California, Philip Seib, yang mengatakan kadang- kadang diplomat menolak berbicara dalam bahasa Inggris atas dasar nasionalisme.

Oleh karena itu apabila ada sebagian masyarakat atau netizen yang masih "nyinyir" dengan pidato Presiden Jokowi yang Java-english, mungkin wawasan diatas bisa menjadi pertimbangan sebelum melontarkan kritikan.
Editor: Iman

T#g:G20Jokowi
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Senin, 06 Jul 2020 04:36

    Ketegasan Jokowi Demi Rakyat Indonesia

    Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Presiden RI Joko Widodo menunjukkan ketegasannya dengan beberapa kali menunjukkan tingginya suara. Secara tegas ia akan melakukan langkah apapun yang t

  • Minggu, 05 Jul 2020 17:05

    Indonesia Berhasil Jadi Negara Berpenghasilan Menengah ke Atas

    Bank Dunia menyatakan bahwa Indonesia naik peringkat dari negara berpenghasilan menengah menjadi menengah ke atas. Hal ini adalah sebuah prestasi, karena kita masih berada di tengah pandemi covid-19.

  • Rabu, 01 Jul 2020 19:41

    HUT ke-74 Bhayangkara, Edy Rahmayadi Berharap Polda Sumut Semakin Profesional

    Gubsu Edy Rahmayadi berharap Polri, terutama Polda Sumut semakin profesional dalam bekerja, serta meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat secara humanis.Hal itu disampaikan Gubernur Edy Rahmayadi

  • Rabu, 01 Jul 2020 13:41

    Polda Sumut Gelar Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke 74 Secara Virtual

    Memperingati Hari Bhayangkara ke 74 Tahun 2020, Polda Sumut menggelar upacara peringatan secara sederhana secara live streaming dengan Istana Negara serta Polda dan Polres jajaran bertempat di aula Tr

  • Senin, 29 Jun 2020 14:09

    Presiden Jokowi: Percepat Pencairan Pembayaran Pelayanan Kesehatan untuk Covid-19

    Presiden Jokowi meminta agar pembayaran disbursement untuk pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan Covid-19 dipercepat pencairannya dan jangan sampai ada keluhan."Misalnya yang meninggal ini harus s

  • Minggu, 28 Jun 2020 21:48

    Presiden Jokowi minta para Menteri 'mempercepat belanja'

    Presiden Jokowi meminta agar para menteri mempercepat belanja kementerian untuk meningkatkan uang beredar di masyarakat.

  • Selasa, 23 Jun 2020 02:23

    Publik Optimis New Normal Cepat Pulihkan Ekonomi

    Pandemi Covid-19 masih berlangsung di banyak wilayah di Indonesia yang belum menerapkan new normal. Meski demikian, masyarakat optimis bahwa pemulihan ekonomi dapat lebih dipercepat.Otoritas Jasa Keua

  • Jumat, 19 Jun 2020 06:49

    Dandim 0824/Jember dan Kapolres Donor Darah HUT Bhayangkara

    Hari Bhayangkara merupakan hari lahirnya Kepolisian Republik Indonesia, yang selalu diperingati pada setiap tanggal 01 Juli pada setiap tahunnya.HUT Bhayangkara tersebut biasanya diisi dengan berbagai

  • Kamis, 04 Jun 2020 02:04

    Indonesia Optimis Menang Lawan Covid-19

    Virus covid-19 memang masih bercokol di Indonesia. Banyak aturan yang dikeluarkan untuk mencegah penyebarannya, seperti PSBB dan physical distancing. Meskipun masih ada pasien yang terkena corona, nam

  • Senin, 01 Jun 2020 11:01

    Peringati Hari Lahir Pancasila, Jokowi: Kita harus jadi bangsa pemenang

    215 negara di dunia berada dalam kondisi seperti kita, semua dalam kesulitan. Semua harus menyadari karena negara tengah berlomba-lomba untuk menjadi pemenang dalam pengendalian virus maupun menjadi p

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak