Sabtu, 19 Sep 2020 02:19

Reuni 212 Mengeksploitasi Anak

Medan (utamanews.com)
Oleh: Rahmat Kartolo )*
Rabu, 04 Des 2019 12:04
Detik
Reuni 212 digelar kembali, acara tersebut seakan menjadi magnet bagi beberapa orang untuk berbondong-bondong memutihkan monas. Namun ada hal yang cukup menjadi perhatian khusus, yakni keterlibatan anak-anak di bawah umur dalam acara tersebut, padahal semestinya mereka berada di sekolah untuk bermain dan belajar bersama teman-temannya, bukan turun ke jalan bersama orang tuanya.

Peserta reuni 212 sudah mulai mendatangi kawasan Monas sejak pukul 19.00 WIB, sehari sebelum pelaksanaan reuni atau pada 1 Desember 2019.

Tak sedikit pula peserta reuni yang didapati membawa anak-anak hingga balita dalam kegiatan reuni akbar 212 dalam tahun ini. Padahal, reuni tersebut dilakukan mulai dari dini hari dan kondisi cuaca Jakarta baru saja turun hujan.

Salah seorang wanita berhijab menyatakan bahwa dirinya sengaja datang ke Monas bersama suami dan anaknya yang masih berusia 3 tahun. Balita tersebut bernama Rehan. Rombongan orang tua Rehan tiba di Monas pada pukul 21.45 WIB. Dengan mendorong kereta bayi, wanita bercadar tersebut tiba bersama sejumlah rombongannya yang didominasi oleh kaum hawa.


Dalam rombongan tersebut, terlihat juga seorang anak kecil lainnya yang tengah digendong oleh orangtuanya yang turut serta dalam Reuni 212 tersebut. Mereka datang dan langsung menuju ke depan panggung utama dan menggelar alas plastik untuk alas sajadah bagi rombongan mereka. Beberapa orang diantara mereka langsung mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid sebagai tanda untuk rombongan lainnya yang masih belum bergabung dengannya.

Reuni tersebut pun masih saja membawa isu yang telah 'usang.' Salah satu orator dalam reuni tersebut mengungkapkan bahwa Indonesia dianggap telah membiarkan para penista ulama atau penista agama. Seperti pada mantan terpidana penistaan Agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Padahal kita semua tahu bahwa Ahok telah diproses secara hukum, ia juga tidak mangkir dalam prosesi sidang, tetapi seakan dendam mereka terhadap sosok Ahok sudah mengakar dengan kuat, bukan tidak mungkin dengan mengajak anak kecil dalam reuni tersebut, justru akan semakin meningkatkan rasa intoleransi terhadap kaum minoritas.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) saja sudah memberikah himbauan agar kegiatan Reuni 212 tidak diselenggarakan kembali pada tahun ini. Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Cholil Nafis mengatakan, Reuni 212 tidak perlu diselenggarakan karena Ahok telah menyelesaikan proses hukumnya.


Ia justru menyarankan agar kegiatan Reuni 212 diganti dengan acara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk memotivasi masyarakat agar lebih mencintai Rasul.

Tentu saja anak anak-anak yang masih di bawah umur itu tidak mengerti dan memahami apa yang menjadi tuntutan peserta demo tersebut. Hal itu disebabkan karena banyak anak-anak tersebut hanya ikut-ikutan diajak oleh teman atau orang tuanya sendiri. Padahal demonstrasi besar yang berhasil melengserkan Soeharto pada 1998 saja tidak ada reuni atau perkumpulan alumninya karena tujuan untuk melengserkan Soeharto yang telah 32 tahun berkuasa telah tercapai. Tentu saja tujuan diselenggarakan reuni 212 ini masih dipertanyakan, apakah murni dakwah ataukah ada unsur politik.

Namun apakah etis jika anak-anak berada di situasi-situasi yang bisa saja mengandung unsur kekerasan dan mengancam jiwa, karena acara reuni tersebut diselenggarakan di tempat terbuka dan berada di lautan massa.

Selain itu, kasus anak yang terpisah dari orangtuanya juga terjadi dalam acara tersebut. Orang Tua dan Anaknya tersebut baru tertemu kembali di kantor Pos Polisi Tugu Tani.

KPAI juga telah melakukan pantauan, dimana pihaknya menemukan banyak anak-anak merasa kelelahan saat mengikuti aksi yang berlangsung mulai dini hari hingga bubar siang hari. Raut wajah kelelahan terlihat jelas pada anak-anak itu. Mereka bahkan terpaksa duduk di pinggir jalan bercampur dengan mobil dan bus yang sedang diparkir.

Meskipun dalam pasal 24 UU Nomor 35 tahun 2015 tentang perlindungan anak menyatakan, "Negara, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasannya", namun tentu kita juga harus memahami konteks dari undang-undang tersebut, dimana anak-anak dan pelajar dalam menyampaikan pendapat harus difasilitasi dan berada di ruang yang aman dan nyaman, sehingga pendapat dan pandangan anak tersebut bisa didengar dan dihormati oleh orang dewasa.


)* Penulis adalah pengamat sosial politik
Editor: Iman

T#g:anakKPAI
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Jumat, 18 Sep 2020 01:18

    Wagub Beri Motivasi Kepada Anak Yatim Piatu

    Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah menyambangi Panti Asuhan Mohd Yasin Tambunan, Kamis (17/9), di Jalan Masjid Desa Lumban Pea Kecamatan Balige Kabupaten Toba. Kegiatan silat

  • Rabu, 16 Sep 2020 11:36

    Pemprov Sumut dan Ormas Bahas Persoalan Anak

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) membahas persoalan anak di daerah ini dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas), dengan harapan dapat dirumuskan berbagai kebijakan untuk p

  • Sabtu, 12 Sep 2020 15:32

    Hadiri Acara Peringatan Hari Anak Nasional, Ini Kata Dandim 0209/LB

    Semoga anak-anak Indonesia khususnya di kabupaten Labuhanbatu mampu membangun karakter yang baik serta menjadi generasi terbaik untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia serta memajukan kabupaten La

  • Rabu, 29 Jul 2020 13:39

    Kapolda Sumut: Anak-Anak Harus Dilindungi, Dijaga dan Disayangi

    Kapolda Sumut Irjen Pol Drs Martuani Sormin MSi disambut oleh perwakilan anak-anak Kota Medan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional di halaman Mapolda Sumut, Rabu (29/7/2020).Kedatangan Kapolda

  • Kamis, 23 Jul 2020 22:23

    Sabrina: Curahkan perhatian lebih pada anak di masa pandemi

    Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini berbeda dengan perayaan tahun sebelumnya. Sebagai dampak dari pandemi Covid-19, HAN 2020 diperingati dengan berbagai rangkaian acara daring. Puncaknya dig

  • Kamis, 23 Jul 2020 11:23

    Turunkan Angka Kekerasan Pada Anak, Pemprov Sumut dapat Anugerah KPAI

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mendapat penghargaan 'Anugerah KPAI 2020' dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), karena dinilai komitmen dan berhasil dalam upay

  • Sabtu, 27 Jun 2020 16:27

    Prajurit TNI Satgas Yonif 754 Ajari Anak Pedalaman Papua Cara Mandi Bersih

    Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Pamrahwan Yonif 754/ENK/20/3 mengajari anak pedalaman Papua menjaga kebersihan diri dengan cara mandi bersih. Kegiatan ini bertujuan agar anak-anak selalu terb

  • Rabu, 08 Apr 2020 10:08

    Prajurit TNI Hibur Anak-Anak di Pedalaman Papua

    Prajurit TNI dari Kodim 1707/Merauke yang tergabung dalam Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (Satgas TMMD) ke-107 menghibur anak-anak pedalaman, tepatnya di Kampung Epem, Distrik Citak Mitak, K

  • Jumat, 27 Mar 2020 20:37

    Kostrad Ajarkan Pola Hidup Sehat Kepada Anak-Anak Papua

    Dalam rangka memberikan pengetahuan budaya hidup sehat dan pentingnya menjaga kebersihan diri sejak dini, Satgas Pamtas RI-PNG Yonif MR 411/Pdw Kostrad mengajarkan anak-anak yang rumahnya di sekitar P

  • Kamis, 19 Mar 2020 12:19

    Prajurit Pamtas Yonif 411 Bangun Taman Bermain Untuk Anak-Anak Kampung Toray Papua

    Bermodalkan ide kreatif dan keterampilan yang dimiliki, Prajurit TNI Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis Raider 411/Pandawa Kostrad, membangun taman bermain untuk anak-anak di Kampung Toray, Distrik So

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak