Selasa, 18 Des 2018 19:08
  • Home
  • Opini
  • Pendidikan Sekolah Melawan Paham Radikalisme Di Indonesia

Pendidikan Sekolah Melawan Paham Radikalisme Di Indonesia

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Abner, pengamat sosial, tinggal di Medan.
Kamis, 06 Des 2018 21:26
Istimewa
Sosialisasi pada Siswa sekolah menengah terkait radikalisme.
Fenomena pemahaman radikalisasi relatif terabaikan pada tahap awal rantai pengaruh radikalisasi pada usia remaja di institusi/lembaga pendidikan sekolah. Para kalangan akademisi dan pengamat masih fokus pada pergerakan di tingkat universitas. Para mantan terorisme menyampaikan kesaksian bahwa pengaruh paham radikalisme mereka kenal pada usia perkembangan remaja (adolescence) yaitu antara usia 15/16 s.d 21 tahun. Wadah penyebaran paham radikalisme ini ada pada institusi/lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, Sekolah Menengah Atas, sampai pada tingkat universitas. Motif penerimaan dan penyebaran paham beranekaragam pendekatannya terhadap individu-individu. Namun saat ini Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2010 menunjukkan populasi anak muda yang secara ekonomi sebagai bonus demografi. Hal ini dilihat sebagai potensi ancaman keamanan negara apabila paham radikal tumbuh subur pada masyarakat anak-anak muda Indonesia.

Pada tahun 2009, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) di Yogyakarta melakukan survei tingkat toleransi di kalangan siswa di 20 SMA di Yogyakarta. Hasilnya cukup mengejutkan 69.9 persen anak dari siswa yang disurvei dinilai mempunyai tingkat toleransi yang rendah terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Kategori tingkat toleransi yang rendah ini diukur diantaranya oleh keengganan untuk berteman atau dipimpin oleh mereka yang berbeda keyakinan. Survei lain dilakukan di Jakarta oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) terhadap sampel siswa di 100 SMA di Jakarta ini menemukan 48,5 persen responden mendukung bahkan bersedia turut serta dalam aksi kekerasan atau persekusi terhadap kelompok minoritas agama lain.

Kedua survei ini sejalan dengan yang dilakukan oleh survei oleh lembaga asal Jerman yaitu Goethe Institute terhadap anak muda secara nasional. Hasil yang ditemukan yaitu 47,5 persen anak muda Muslim di Indonesia pertama-tama menekankan identitas mereka sebagai Muslim lebih utama daripada identitas kebangsaan. Pandangan keagamaan konservatif yang mengarah pada intoleransi tentu tidak bisa dilarang dalam negara demokrasi. Keadaan ini merupakan bom waktu suatu saat bisa meledak apabila ada pemicu dan kesempatan. Konservatisme dan intoleransi tidak semata-mata tumbuh menjadi radikalisme, tetapi menguatnya karakter keagamaan demikian bisa menjadi lahan yang subur bagi mobilisasi radikalisme.


Keadaan penyebaran paham radikal juga dipengaruhi oleh keadaan kegagalan politik Islam melalui partai-partai karena tidak mempunyai peluang menjadi besar di Indonesia. Ekspresi kegagalan tersebut disampaikan kepada generasi-generasi muda masyarakat karena lebih menjanjikan adanya gerakan di level masyarakat dan lebih menjanjikan tetapi rentan akan konflik dan kompromistis.

Pola politik Islam yang dahulu menggunakan tokoh-tokoh politik dipemerintahan yang memberikan saran kepada penguasa Presiden Soekarno dengan tujuan membuat Indonesia negara Islam, sudah berganti dengan mengandalkan pergerakan basis sosial masyarakat Islam untuk mencapai perubahan tersebut. Suatu pergerakan tidak akan efektif jika tidak mempunyai musuh bersama (common enemy) sehingga isu-isu pemberantasan aliran sesat dan Kristenisasi dijadikan hal yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam.

Beberapa langkah pencengahan harus dilakukan dengan menerapkannya pada tiga level yaitu mikro, meso, dan makro. Saat ini kita fokus pada level mikro yaitu menekankan pada latar belakang individu melakukan aktivitas radikal karena problem personal, keterasingan dan krisis identitas. Namun pada level lingkungan sosial (meso) dan struktural dalam peran pemerintah dan masyarakat skala luas (makro) kurang diperhatikan. Oleh karena itu pencengahan pada level tersebut harus dilakukan dengan beberapa cara:

1. Kontrol Ruang Publik dan Radikalisasi di Sekolah

Masyarakat saat ini sudah sadar akan paham radikal pada lembaga-lembaga pendidikan intra-kurikuler maupun ekstra-kurikuler. Namun ada stigma negatif yang menitik beratkan bahwa paham radikal banyak terjadi di lembaga pendidikan agama khususnya agama Islam. Stigma ini malah menimbulkan resistensi bagi penganut agama Islam sehingga langkah pencengahan dan deradikalisasi di lembaga-lembaga tersebut mencipkan suatu pengelompokan-pengelompokan siswa dilembaga tersebut dan sulit untuk diarahkan agar menghindar dari paham radikal itu sendiri.

Seharusnya pencengahan paham radikal di sekolah dilakukan dengan kontrol sosial oleh penyelenggara pendidikan di lingkungan sekolah tersebut. Seperti menjaga adanya ruang publik yang memberi kebebasan kepada siswa memilih jenis aktifitas dan gaya hidup berdasarkan keyakinan mereka dan hobi mereka. Kontrol seperti ini akan menangkal masuknya paham homogenisasi oleh kelompok-kelompok radikal melalui kegiatan ekstra-kurikuler di sekolah.

Radikalisasi biasanya muncul dalam situasi homogenisasi sumber pengetahuan dan informasi sehingga daya berpikir kritis individual berkurang. Namun tidak sedikit kontrol-sosial dilingkungan sekolah tidak dilakukan oleh penyelengara pendidikan sehingga organisasi-organisasi ekstra-kurikuler seperti keagamaan, pecinta alam, dan organisasi kepemudaaan mampu memberi kontrol-sosial dilembaga pendidikan tersebut. Paham seperti siswa pecinta alam itu anak yang nakal dan siswa yang ikut kegiatan keagamaan adalah siswa yang baik dan soleh, menjadi awal paham radikal tersebut tumbuh. Ruang sosial harus diperhatikan agar kultur diskusi dan kritik di lembaga pendidikan mengedepankan keberagaman dan berpikir kognitif yang baik.


2. Penyediaan Jenis Pendidikan Keagamaan yang Baik

Fenomena orangtua yang mendepankan agar anak mendapat pendidikan yang terbaik menilai beberapa lembaga pendidikan keagamaan yang diselengarakan oleh Muhammadiyah dan NU masih kurang kualitasnya. Hal ini dimanfaatkan menguatnya pengaruh "kelompok luar" dalam institusi lembaga pendidikan keagamaan tersebut, kelompok luar yang dimaksud adalah Hizbut Tahrir Indonesia dan aktifis Ikhwanul Muslimin atau Tarbiyah.

Munculnya otoritas-otoritas keagamaan baru dalam bentuk organisasi dan kelompok keagamaan menjadi tantangan dalam mempertahankan basis pertahanan terhadap karakter Islam di Indonesia yang moderat. Mereka menekankan citra keagamaan dalam konteks persaingan dengan agama lain, melihat agam lain sebagai ancaman (demonisasi). Kekuatan-kekuatan keagamaan baru seperti ini merupakan orientasi ideologi yang radikal dan ekstrim.

3. Menguatkan Alternatif Moderat

Banyak anak muda yang bergairah untuk memenuhi kebutuhan spiritualitas adalah fenomena yang baik. Pencarian terhadap kelompok-kelompok kajian keagamaan harusnya tidak menjejali audiens dengan pengetahuan keagamaan saja tetapi juga ruang pertemanan atau sosialisasi dengan keberagamaan di masyarakat. Penekanan terhadap intelektualisme dan perjuangan hukum dalam bentuk diskusi, seminar, kewirausahaan dan penerbitan buku yang sering dilakukan oleh kelompok yang mengutamakan plurarisme masyarakat dinilai kurang efektif. Dengan penyediaan pembekalan keahlian-keahlian lebih banyak dan terstruktur akan dapat menandingi kelompok-kelompok radikal yang memberikan layanan yang sama sehingga pengaruhnya berkurang.

Editor: Sam

T#g:Radikalisasiradikalisme
Karunia Tour and Traveliklan kaos garuda
Berita Terkait
  • Minggu, 16 Des 2018 15:16

    Gencarnya Pemerintah Menangkal Radikalisme

    Maraknya penyebaran paham radikal semakin masif di tanah air. Tidak hanya di wilayah pelosok saja, kini penyebaran paham radikal sudah mulai bergerak di lingkungan aparat maupun lembaga pemerintah.&nb

  • Minggu, 28 Okt 2018 18:18

    Ponpes Jabal Noor Deli Serdang Bahas Isu Radikalisme dan Islam

    Sebagai pemuda Islam yang mendalami ajaran agama, kita harus mampu menjadi benteng pertahanan untuk keutuhan persatuan bangsa Indonesia dan agama Islam. Umat Islam harus bersatu, jangan saling menyala

  • Jumat, 08 Jun 2018 16:48

    Staf Khusus Menrisetdikti: Tidak Ada Radikalisme dari Kampus

    Tidak ada radikalisme dari kampus, yang ada, orang-orang berpikir radikal masuk ke kampus-kampus mencari teman untuk menyamakan pemahaman tersebut.

  • Jumat, 08 Jun 2018 04:08

    Panglima TNI: Radikalisme Berujung Pada Tindakan Terorisme

    Selaku umat Islam dan bagian dari bangsa yang besar, sebagai warga negara Indonesia harus menyadari adanya radikalisme di sekitar kita. Radikalisme ini berawal dari pemahaman yang salah, yang kemudian

  • Selasa, 05 Jun 2018 01:05

    Radikalisme Dapat Dicegah Melalui Kepedulian Masyarakat

    Radikalisme dapat dicegah melalui kepedulian warga masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya dan mau membuka wawasan serta mengembangkan cara berpikir dengan seluas-luasnya, karena didalam Al Qur&acir

  • Kamis, 31 Mei 2018 08:31

    HIMMAH Tebing Tinggi Ajak Generasi Muda Perangi Terorisme

    Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) Kota Tebing Tinggi mengajak generasi muda untuk berperan aktif perangi aksi terorisme di Indonesia.

  • Sabtu, 28 Apr 2018 20:18

    BIN: 3 Universitas Diawasi Khusus Terkait Penyebaran Radikalisme

    Badan Intelejen Negara (BIN) mengungkap 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal. Bahkan 3 universitas menjadi perhatian khusus karena bisa menjadi basis penyebaran paham radikal.

  • Sabtu, 24 Feb 2018 17:24

    KNPI Tebing Tinggi Laksanakan Diskusi Deradikalisasi

    Komite Nasional Pemuda Indonesia Kota Tebing Tinggi melaksanakan diskusi kebangsaan pemuda, Sabtu (24/2), di salah satu cafe di KotaTebing Tinggi. Kegiatan itu mengangkat tema  "Menumbuhkan

  • Senin, 23 Okt 2017 17:23

    Perguruan Tinggi se-DKI Deklarasi Lawan Radikalisme

    Radikalisme saat ini tidak asing lagi bagi kita. Berbicara radikalisme, pandangan kita akan langsung mengarah pada segala tindakan anarkis yang dilakukan oleh sekelompok orang atau Ormas tertentu.Meny

  • Senin, 16 Okt 2017 17:56

    Tengku Erry: Stop Radikalisme Masuk Kampus

    Gubsu Tengku Erry Nuradi mendukung aksi kebangsaan Perguruan Tinggi melawan radikalisme masuk kampus.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak