Minggu, 08 Des 2019 22:55

Pembangunan Dan Konflik

Pematang Siantar (utamanews.com)
Oleh: Fawer Full Fander Sihite, M.Si., Pendiri/Ketua Institute Law And Justice (ILAJ).
Rabu, 19 Jun 2019 18:19
Istimewa
Fawer Full Fander Sihite
Pembangunan merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan yang tidak pernah kenal berhenti, untuk terus menerus mewujudkan perubahan-perubahan pada kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai perbaikan mutu hidup, dengan situasi lingkungan kehidupan yang juga terus menerus mengalami perubahan.

Meskipun demikian, di dalam praktik perencanaan pembangunan senantiasa memiliki batas waktu yang tegas, tetapi batasan-batasan itu pada hakikatnya hanya merupakan tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi yang terjadi pada selang waktu yang sama, untuk kemudian terus dilanjutkan dengan tahapan-tahapan berikutnya yang juga dimaksudkan untuk terus memperbaiki mutu hidup masyarakat dalam suasana perubahan lingkungan yang akan terjadi pada selang waktu tertentu, proses pembangunan yang terjadi, bukanlah sesuatu yang sifatnya alami atau "given", melainkan suatu proses yang dilaksanakan dengan sadar dan terancam, artinya, pembangunan tersebut dilaksanakan melalui proses perencanaan terlebih dahulu, untuk menganalisis masalah-masalah atau kebutuhan-kebutuhan yang harus dicapai, alternative pencapaian tujuan dan pengambilan keputusan tentang cara-cara mencapai tujuan yang terpilih, dengan senantiasa mempertimbangkan, kekuatan, kelemahan, peluang dan resiko yang harus dihadapi. (Sumber: Aprillia Theresia & Krisnha S, Andini dkk, "Pembangunan Berbasis Masyarakat").


Menurut Arif Budiman di dalam bukunya "Teori Pembangunan Dunia Ketiga", kekayaan keseluruhan yang dimiliki atau yang diproduksi sebuah bangsa tidak berarti bahwa kekayaan itu merata dimiliki oleh semua penduduknya. Oleh karena itu timbul keinginan untuk memasukan aspek pemerataan dalam pembangunan.

Pemerataan ini secara sederhana diukur dengan beberapa persen dari PNB (Pendapatan Nasional Bruto) diraih oleh 40% penduduk termiskin, 40% penduduk golongan menengah, dan 20% penduduk golongan terkaya. Bangsa yang berhasil melakukan pembangunan adalah mereka yang disamping tinggi produktivitasnya, penduduknya juga makmur dan sejahtera secara relatif merata.

Salah satu cara untuk mengukur kesejahteraan penduduk adalah dengan menggunakan tolok ukur PQLI (Physical Quality of Life Index). Tolok ukur ini dikenalkan oleh Moris yang mengukur tiga indikator yaitu antara lain, rata- rata harapan hidup sesudah umur satu tahun,  rata- rata jumlah kematian bayi, dan rata- rata prosentase buta dan melek huruf. Negara yang tinggi produktivitasnya dan merata pendapatannya bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi semakin miskin, karena pembangunan yang menghasilkan produktifitas yang tinggi itu tidak memperdulikan dampak terhadap lingkungannya.

Lingkungan semakin rusak, akibatnya pembangunan tidak bisa berkelanjutan. Karena itu dalam kriteria keberhasilan pembangunan yang paling baru, dimasukan juga faktor kerusakan lingkungan sebagai faktor yang menentukan.


Dua faktor baru yang ditambahkan yaitu faktor keadilan sosial (pemerataan pendapatan) dan faktor lingkungan, berfungsi untuk melestarikan pembangunan ini, supaya dapat berlangsung terus secara berkesinambungan. Dua faktor ini sebenarnya saling berkaitan erat.

Ekonomi pembangunan dengan demikian berurusan dengan perubahan struktural dan institusional yang cepat dan meliputi seluruh masyarakat supaya hasil pembangunan dapat dilaksanakan dengan efisien untuk dibagikan kepada rakyat banyak. Ekonomi pembangunan menekankan peran pemerintah dalam membuat perencanaan ekonomi yang terkoordinir yang didasarkan pada dukungan yang luas baik dari dalam negeri dan luar negeri.

Dalam ekonomi pembangunan, masalah politik dan kebudayaan serta keterkaitan dengan sistem perekonomian internasional masuk dalam pembahasannya. Juga pengertian pengefisiensian dan pengembangan sumber- sumber produktif yang langka ditegaskan sasarannya yakni untuk kepentingan rakyat miskin. Dengan demikian dalam ekonomi pembangunan yang terpenting bahkan yang utama yaitu distribusi yang merata dari hasil- hasil produksi menjadi sangat penting.

Pembangunan yang sebenarnya meliputi dua unsur pokok yaitu masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi serta masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif yang menjadi manusia pembangun. Pembicaraan tentang manusia disini lebih menekankan aspek keterampilan. Dengan demikian, masalah manusia dilihat sebagai masalah teknis untuk peningkatan keterampilan, yang kurang dipersoalkan adalah bagaimana menciptakan kondisi lingkungan, baik lingkungan politik maupun lingkungan budaya yang bisa mendorong lahirnya manusia kreatif.


Hanya dengan menciptakan suasana aman dan sebagainya maka manusia dapat kreatif. Pembangunan pada akhirnya juga harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang dibangun adalah mansia yang kreatif. Untuk dapat kraetif manusia tersebut harus merasa bahagia, aman, dan bebas dari rasa takut.

Johan Galtung melihat bahwa setiap krisis relasi sosial terdapat berbagai tingkatan sifat penyelesaian. Setiap tingkat sifat penyelesaian mempunyai resiko dan kendala-kendalanya yang berbeda. Galtung memilahnya menjadi tingkat penyelesaian yielding (mengalah), withdrawal (menarik diri), contending (menyerang) compromising (kompromi), dan problem solving (pemecahan masalah). Tingkat penyelesaian pemecahan masalah berada pada tingkat tertinggi yang mana masing-masing pihak konflik melakukan pertukaran empati dan menciptakan kesepakatan yang prakteknya merupakan jawaban dari muatan kepentingan dari relasi krisis sosial.

Tingkat pemecahan masalah adalah kondisi ideal yang pada banyak kasus hanya sebagian saja yang bisa mencapainya. Pada konteks inilah Galtung mengaya 'transcend approach' yang secara bahasa bisa ditertejemahkan sebagai pendekatan 'keluar dari keterbatasan'.

Konflik biasanya mudah dilihat di permukaan saja, seperti jumlah korban yang ditimbulkan atau cara kedua belah pihak berkonfrontasi secara langsung. Untuk itu dibutuhkan pemetaan untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat konflik serta hal yang melatarbelakanginya.


Selain pemetaan tersebut, konflik juga bisa dilihat melalui pendekatan teori bawang merah, segitiga konflik dan garis waktu yang menceritakan perkembangan eskalasi konflik. Menurut Atman dan Taylor (teori komunikasi, 1994): Hubungan kita dengan orang lain ibarat mengupas bawang merah yang terdiri dari beberapa lapisan. Selama dalam proses interaksi, kita saling mengupas lapisan-lapisan itu. Jika yang kita kupas hanya lapisan saja, maka kita hanya mendapatkan lapisan saja. Dalam konflik, teori bawang merah berupaya untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di permukaan, dan selanjutnya terus dikupas untuk mengetahui akar permasalahan sesungguhnya.

Apakah sebenarnya tujuan konflik itu dari ekonomi ataukah ada kepentingan lain yang lebih besar. Hal ini bisa diraba dengan melakukan beberapa wawancara dan sumber data.

Segitiga konflik berfungsi untuk mengetahui gejolak konflik yang terlihat dan yang tidak terlihat. Konflik yang terlihat adalah proses terjadinya kekerasan itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan. Gejolak konflik yang tidak terlihat antara lain disebabkan oleh kekerasan budaya dan kekerasan structural. Kekerasan budaya bisa berupa hukum adat, mitos, anarki, suku serta kebencian kuno, sedangkan kekerasan structural bisa berupa kemiskinan dan kebudayaan.

Teori garis waktu adalah untuk mengetahui perkembangan konflik dari waktu ke waktu. Setiap konflik mempunyai cataan sejarah. Sejarah itu bertujuan memudahkan untuk menyusun laporan karena memiliki latar belakang.


Konflik adalah hubungan antara dua belah pihak atau lebih (Individu atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Konflik adalah suatu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan. Berbagai perbedaan pendapat dan konflik biasanya diselesaikan tanpa kekerasan dan sering menghasilkan situasi yang lebih baik bagi sebagian besar masyarakat ata sema pihak yang terlibat.

Perspektif konflik selalu menempatkan bahwa kehidupan itu tidak terlepas dari konflik. Tidak ada yang abadi di dunia ini selain konflik. Ia melekat dan menjadikan kehidupan menjadi penuh warna. Konflik melahirkan ambisi, semangat untuk menang, strategi memenangkan konflik, manajemen konflik sampai akhirnya kita merefleksikan apa hikmat dari sebuah konflik yang kita alami itu. Jika Hagel menyatakan antitesa dan melahirkan sintesa baru, yakin pengetahuan. Maka dalam perspektif ini, lahir konflik, memerlukan resolusi konflik, adanya perdamaian, kemudian melahirkan konflik berikutnya. Begitu seterusnya, sehingga kita tidak antipasti terhadap konflik, akan tetapi justru bersahabat dengan konflik, sehingga dengan demikian kita akan bersahabat dengan manajemen dan resolusi konflik.

Jika sebuah pembangunan melahirkan sebuah konflik, maka namanya bukan pembangunan, dikarenakan sejatinya pembangunan untuk kepentingan kemanusiaan, oleh karena itu diperlukan kematangan dalam merancang sebuah pembangunan.

Memahami setiap bagian-bagian penting, seperti kondisi ekonomi, politik, budaya, dan sosial merupakan hal terpenting agar pembangunan direalisasikan dengan baik.

Editor: Sam

T#g:Infrastrukturkonflik
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Sabtu, 07 Des 2019 19:37

    Kondisi Jalan Di Sigompulon, Paluta Ini Sangat Memprihatinkan

    Jalan Poros Pasar Simundol-Sayur Matinggi Kecamatan Dolok Sigompulon Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) sulit untuk dilalui dan sangat memprihatinkan.Lokasi jalan yang rusak parah itu terlihat pers

  • Minggu, 08 Des 2019 02:08

    Optimisme Pemerintah Mewujudkan Indonesia Maju

    Cita-cita menjadi Indonesia maju adalah mimpi yang tidak pernah padam. Pemerintah pun optimis dapat mewujudkan harapan tersebut dengan menggeber sejumlah pembangunan nasional.Kini, peningkatan di seju

  • Selasa, 26 Nov 2019 05:26

    DPRD Bersama Kadis PU Paluta Monitoring Pembangunan di Ujung Batu

    Badan Anggaran (Banggar) anggota DPR Daerah Kabupaten Paluta melakukan monitoring proyek pembangunan fisik, di Kecamatan Simangambat dan Ujung Batu Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) Provinsi Sumat

  • Jumat, 22 Nov 2019 03:22

    Optimisme Pemerintah Mewujudkan Indonesia Maju

    Cita-cita menjadi Indonesia maju adalah mimpi yang tidak pernah padam. Pemerintah pun optimis dapat mewujudkan harapan tersebut dengan menggeber sejumlah pembangunan nasional.Kini, peningkatan di seju

  • Jumat, 08 Nov 2019 17:18

    Disindir Wakil Bupati, Ketua TBUPP Batu Bara: Dia Perlu Banyak Belajar

    Pada pemberitaan media online, tertanggal 7 November 2019 memberitakan 'Tak Ada Kinerja, Oky Akan Makjulkan Syaiful Syafri Dari Ketua TBUPP.' Sebelumnya, Oky menyetujui kehadiran Tim Bupati

  • Jumat, 08 Nov 2019 03:08

    Masyarakat Dukung Pemerintah Bangun Papua

    Pemerintah terus menggenjot pembangunan di Papua. Kini berbagai Program pembangunan sudah mulai terealisasi. Bukan hanya di satu sektor saja, namun ada beberapa program yang patut untuk diapresiasi.Me

  • Minggu, 03 Nov 2019 09:03

    Massa pelaksana Program HTR Koptan Mandiri Diserang, 2 Terluka

    H.M Wahyudi S.ST,. M.Kes, selaku Ketua Koperasi Tani Mandiri pemilik izin HTR yang sedang melaksanakan program penghijauan dalam kawasan hutan produksi yang beralamat di dusun Sei Dua Desa Air Hitam K

  • Rabu, 16 Okt 2019 13:56

    Plt. Asisten I Pimpin Mediasi Sengketa Tanah Antara PT. PD Paya Pinang Versus Kelompok Tani Suka Damai, Sergai

    Sengketa tanah antara PT. PD Paya Pinang dengan Kelompok Tani masyarakat Suka Damai yang sudah berlangsung lebih kurang 48 tahun belum menemukan penyelesaian secara musyawarah mufakat, hingga diadakan

  • Kamis, 10 Okt 2019 10:10

    Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Raider 514/SY Beri Pengarahan Warga Kota Mulia

    Untuk menjamin keamanan seluruh warganya, Wakil Bupati Kab Puncak Jaya beserta seluruh unsur aparat keamanan termasuk personel Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Raider 514/SY memberikan pengarahan kepada sel

  • Kamis, 26 Sep 2019 17:06

    Pemko Medan Terima Hibah 3 BMN Infrastruktur Jalan Dari Kemen-PUPR

    Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi MH menandatangani Naskah dan Berita Acara Serah Terima (BAST) Hibah Barang Milik Negara (BMN) Dari Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak