Jumat, 19 Jul 2019 09:42

Pembangunan Dan Konflik

Pematang Siantar (utamanews.com)
Oleh: Fawer Full Fander Sihite, M.Si., Pendiri/Ketua Institute Law And Justice (ILAJ).
Rabu, 19 Jun 2019 18:19
Istimewa
Fawer Full Fander Sihite
Pembangunan merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan yang tidak pernah kenal berhenti, untuk terus menerus mewujudkan perubahan-perubahan pada kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai perbaikan mutu hidup, dengan situasi lingkungan kehidupan yang juga terus menerus mengalami perubahan.

Meskipun demikian, di dalam praktik perencanaan pembangunan senantiasa memiliki batas waktu yang tegas, tetapi batasan-batasan itu pada hakikatnya hanya merupakan tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi yang terjadi pada selang waktu yang sama, untuk kemudian terus dilanjutkan dengan tahapan-tahapan berikutnya yang juga dimaksudkan untuk terus memperbaiki mutu hidup masyarakat dalam suasana perubahan lingkungan yang akan terjadi pada selang waktu tertentu, proses pembangunan yang terjadi, bukanlah sesuatu yang sifatnya alami atau "given", melainkan suatu proses yang dilaksanakan dengan sadar dan terancam, artinya, pembangunan tersebut dilaksanakan melalui proses perencanaan terlebih dahulu, untuk menganalisis masalah-masalah atau kebutuhan-kebutuhan yang harus dicapai, alternative pencapaian tujuan dan pengambilan keputusan tentang cara-cara mencapai tujuan yang terpilih, dengan senantiasa mempertimbangkan, kekuatan, kelemahan, peluang dan resiko yang harus dihadapi. (Sumber: Aprillia Theresia & Krisnha S, Andini dkk, "Pembangunan Berbasis Masyarakat").


Menurut Arif Budiman di dalam bukunya "Teori Pembangunan Dunia Ketiga", kekayaan keseluruhan yang dimiliki atau yang diproduksi sebuah bangsa tidak berarti bahwa kekayaan itu merata dimiliki oleh semua penduduknya. Oleh karena itu timbul keinginan untuk memasukan aspek pemerataan dalam pembangunan.

Pemerataan ini secara sederhana diukur dengan beberapa persen dari PNB (Pendapatan Nasional Bruto) diraih oleh 40% penduduk termiskin, 40% penduduk golongan menengah, dan 20% penduduk golongan terkaya. Bangsa yang berhasil melakukan pembangunan adalah mereka yang disamping tinggi produktivitasnya, penduduknya juga makmur dan sejahtera secara relatif merata.

Salah satu cara untuk mengukur kesejahteraan penduduk adalah dengan menggunakan tolok ukur PQLI (Physical Quality of Life Index). Tolok ukur ini dikenalkan oleh Moris yang mengukur tiga indikator yaitu antara lain, rata- rata harapan hidup sesudah umur satu tahun,  rata- rata jumlah kematian bayi, dan rata- rata prosentase buta dan melek huruf. Negara yang tinggi produktivitasnya dan merata pendapatannya bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi semakin miskin, karena pembangunan yang menghasilkan produktifitas yang tinggi itu tidak memperdulikan dampak terhadap lingkungannya.

Lingkungan semakin rusak, akibatnya pembangunan tidak bisa berkelanjutan. Karena itu dalam kriteria keberhasilan pembangunan yang paling baru, dimasukan juga faktor kerusakan lingkungan sebagai faktor yang menentukan.


Dua faktor baru yang ditambahkan yaitu faktor keadilan sosial (pemerataan pendapatan) dan faktor lingkungan, berfungsi untuk melestarikan pembangunan ini, supaya dapat berlangsung terus secara berkesinambungan. Dua faktor ini sebenarnya saling berkaitan erat.

Ekonomi pembangunan dengan demikian berurusan dengan perubahan struktural dan institusional yang cepat dan meliputi seluruh masyarakat supaya hasil pembangunan dapat dilaksanakan dengan efisien untuk dibagikan kepada rakyat banyak. Ekonomi pembangunan menekankan peran pemerintah dalam membuat perencanaan ekonomi yang terkoordinir yang didasarkan pada dukungan yang luas baik dari dalam negeri dan luar negeri.

Dalam ekonomi pembangunan, masalah politik dan kebudayaan serta keterkaitan dengan sistem perekonomian internasional masuk dalam pembahasannya. Juga pengertian pengefisiensian dan pengembangan sumber- sumber produktif yang langka ditegaskan sasarannya yakni untuk kepentingan rakyat miskin. Dengan demikian dalam ekonomi pembangunan yang terpenting bahkan yang utama yaitu distribusi yang merata dari hasil- hasil produksi menjadi sangat penting.

Pembangunan yang sebenarnya meliputi dua unsur pokok yaitu masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi serta masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif yang menjadi manusia pembangun. Pembicaraan tentang manusia disini lebih menekankan aspek keterampilan. Dengan demikian, masalah manusia dilihat sebagai masalah teknis untuk peningkatan keterampilan, yang kurang dipersoalkan adalah bagaimana menciptakan kondisi lingkungan, baik lingkungan politik maupun lingkungan budaya yang bisa mendorong lahirnya manusia kreatif.


Hanya dengan menciptakan suasana aman dan sebagainya maka manusia dapat kreatif. Pembangunan pada akhirnya juga harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang dibangun adalah mansia yang kreatif. Untuk dapat kraetif manusia tersebut harus merasa bahagia, aman, dan bebas dari rasa takut.

Johan Galtung melihat bahwa setiap krisis relasi sosial terdapat berbagai tingkatan sifat penyelesaian. Setiap tingkat sifat penyelesaian mempunyai resiko dan kendala-kendalanya yang berbeda. Galtung memilahnya menjadi tingkat penyelesaian yielding (mengalah), withdrawal (menarik diri), contending (menyerang) compromising (kompromi), dan problem solving (pemecahan masalah). Tingkat penyelesaian pemecahan masalah berada pada tingkat tertinggi yang mana masing-masing pihak konflik melakukan pertukaran empati dan menciptakan kesepakatan yang prakteknya merupakan jawaban dari muatan kepentingan dari relasi krisis sosial.

Tingkat pemecahan masalah adalah kondisi ideal yang pada banyak kasus hanya sebagian saja yang bisa mencapainya. Pada konteks inilah Galtung mengaya 'transcend approach' yang secara bahasa bisa ditertejemahkan sebagai pendekatan 'keluar dari keterbatasan'.

Konflik biasanya mudah dilihat di permukaan saja, seperti jumlah korban yang ditimbulkan atau cara kedua belah pihak berkonfrontasi secara langsung. Untuk itu dibutuhkan pemetaan untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat konflik serta hal yang melatarbelakanginya.


Selain pemetaan tersebut, konflik juga bisa dilihat melalui pendekatan teori bawang merah, segitiga konflik dan garis waktu yang menceritakan perkembangan eskalasi konflik. Menurut Atman dan Taylor (teori komunikasi, 1994): Hubungan kita dengan orang lain ibarat mengupas bawang merah yang terdiri dari beberapa lapisan. Selama dalam proses interaksi, kita saling mengupas lapisan-lapisan itu. Jika yang kita kupas hanya lapisan saja, maka kita hanya mendapatkan lapisan saja. Dalam konflik, teori bawang merah berupaya untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di permukaan, dan selanjutnya terus dikupas untuk mengetahui akar permasalahan sesungguhnya.

Apakah sebenarnya tujuan konflik itu dari ekonomi ataukah ada kepentingan lain yang lebih besar. Hal ini bisa diraba dengan melakukan beberapa wawancara dan sumber data.

Segitiga konflik berfungsi untuk mengetahui gejolak konflik yang terlihat dan yang tidak terlihat. Konflik yang terlihat adalah proses terjadinya kekerasan itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan. Gejolak konflik yang tidak terlihat antara lain disebabkan oleh kekerasan budaya dan kekerasan structural. Kekerasan budaya bisa berupa hukum adat, mitos, anarki, suku serta kebencian kuno, sedangkan kekerasan structural bisa berupa kemiskinan dan kebudayaan.

Teori garis waktu adalah untuk mengetahui perkembangan konflik dari waktu ke waktu. Setiap konflik mempunyai cataan sejarah. Sejarah itu bertujuan memudahkan untuk menyusun laporan karena memiliki latar belakang.


Konflik adalah hubungan antara dua belah pihak atau lebih (Individu atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Konflik adalah suatu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan. Berbagai perbedaan pendapat dan konflik biasanya diselesaikan tanpa kekerasan dan sering menghasilkan situasi yang lebih baik bagi sebagian besar masyarakat ata sema pihak yang terlibat.

Perspektif konflik selalu menempatkan bahwa kehidupan itu tidak terlepas dari konflik. Tidak ada yang abadi di dunia ini selain konflik. Ia melekat dan menjadikan kehidupan menjadi penuh warna. Konflik melahirkan ambisi, semangat untuk menang, strategi memenangkan konflik, manajemen konflik sampai akhirnya kita merefleksikan apa hikmat dari sebuah konflik yang kita alami itu. Jika Hagel menyatakan antitesa dan melahirkan sintesa baru, yakin pengetahuan. Maka dalam perspektif ini, lahir konflik, memerlukan resolusi konflik, adanya perdamaian, kemudian melahirkan konflik berikutnya. Begitu seterusnya, sehingga kita tidak antipasti terhadap konflik, akan tetapi justru bersahabat dengan konflik, sehingga dengan demikian kita akan bersahabat dengan manajemen dan resolusi konflik.

Jika sebuah pembangunan melahirkan sebuah konflik, maka namanya bukan pembangunan, dikarenakan sejatinya pembangunan untuk kepentingan kemanusiaan, oleh karena itu diperlukan kematangan dalam merancang sebuah pembangunan.

Memahami setiap bagian-bagian penting, seperti kondisi ekonomi, politik, budaya, dan sosial merupakan hal terpenting agar pembangunan direalisasikan dengan baik.

Editor: Sam

T#g:Infrastrukturkonflik
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Jumat, 31 Mei 2019 11:11

    Camat Huragi Inisiasi Penimbunan Jalinsum Palas

    Bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan kenderaan bermotor dan gangguan arus mudik dan arus balik pada perayaan lebaran Idul Fitri 1440 hijriyah tahun 2019, di sejumlah titik jalan provin

  • Minggu, 26 Mei 2019 11:46

    Jalan beton jadi kupak-kapik, warga minta tanggung jawab pemilik Backhoe yang melintas

    Jalan cor batu yang berada di simpang tiga arah ke Blok Lima Kelurahan Tanjung Leidong Kecamatan Kualuh Leidong Kabupaten (Labura), hancur akibat alat berat beko (Excavators backhoe) yang melintas tan

  • Kamis, 16 Mei 2019 15:26

    Longsor Hambat Akses dan Ekonomi Warga Aekuala- Tombolang, Habinsaran

    Jalan adalah sarana penghubung yang dapat membantu masyarakat dalam melakukan kegiatan baik untuk mobilitas maupun untuk penunjang perekonomian masyarakat.Agar aktivitas masyarakat dapat berjalan deng

  • Kamis, 16 Mei 2019 14:16

    H-20 Lebaran, Kondisi Jalan Provsu di Palas Kian Ancam Keselamatan Pemudik

    Hingga memasuki H-20 menuju perayaan lebaran Idul Fitri 1440 hijryah tahun 2019, sejumlah titik kerusakan berat, rusak sedang hingga rusak ringan, yang banyak terdapat di sepanjang badan jalan lintas

  • Kamis, 16 Mei 2019 11:16

    Kondisi Jalan Buruk, Desa Siborna Bunut Terisolir

    Kondisi jalan menuju ke Desa Siborna Bunut, Kecamatan Sosa, kabupaten Padang Lawas (Palas) sejak beberapa bulan terakhir ini kian rusak parah dan semakin memburuk, akibatnya desa ini seolah terisolir

  • Sabtu, 11 Mei 2019 15:11

    Jalan Nasional Pakpak Bharat-Subulussalam Hancur-hancuran

    Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Pakpak Bharat Jalan Berutu MM berharap pemerintah pusat segera memperbaiki jalan rusak perbatasan Pakpak Bharat dengan Kota Subulussalam.Permintaan itu disamp

  • Jumat, 03 Mei 2019 00:33

    Lion Air Group Bersama Intim Abadi Persada Meluncurkan "Permata Lion Residence" Perumahan Pertama Karyawan

    Lion Air Group bersama mitra pengembang perumahan PT Intim Abadi Persada hari ini, Kamis (2/5/2019), meluncurkan perumahan pertama bagi karyawan Lion Air Group dengan nama Permata Lion Residence di Ja

  • Sabtu, 20 Apr 2019 08:20

    Dukung Hasil Pemilu, Mari Rajut Kembali Persatuan Bangsa Menuju Suksesnya Pembangunan Indonesia Maju

    Pemilihan Umum bukan sekadar siklus lima tahunan yang biasa. Pemilu merupakan sebuah sarana untuk mencari pemimpin yang benar-benar peduli dengan rakyat Indonesia. Outputnya adalah untuk mewujudkan ne

  • Selasa, 16 Apr 2019 15:16

    Sindir Jokowi, Iklan Kampanye Prabowo- Sandi Tanpa Solusi

    Sebuah iklan kampanye pasangan 02 Prabowo- Sandi sempat mencuri perhatian. Hal ini lantaran isinya menyindir pembangunan infrastruktur yang digalakkan oleh pemerintahan Jokowi.

  • Sabtu, 13 Apr 2019 09:33

    Tol Bocimi Akan Genjot Elektabilitas Jokowi

    Sukabumi diharapkan dapat memberikan torehan suara sampai 60 persen, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin mulai meningkat di kota tersebut. Saat ini perolehan dukungan sementara paslon nomor 01 terse

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak