Rabu, 18 Sep 2019 03:09
  • Home
  • Opini
  • Pancasila sudah final dan tidak dapat ditawar

Pancasila sudah final dan tidak dapat ditawar

Medan (utamanews.com)
Oleh: Abdul Razak, pengamat sosial politik
Rabu, 11 Sep 2019 03:11
Istimewa
Pancasila
Banyaknya opini bergulir mengenai penerapan Pancasila yang terkadang dinilai tidak sesuai dengan pandangan Islam, agaknya dinilai bagi sebagian orang merupakan masalah besar dan sangat prinsipil. Namun, secara positif dan garis besar penerapan Pancasila dirasa seimbang atau berada di tengah-tengah. Mengingat Indonesia ialah negara multikultur.

Pendiri bangsa telah sepakat untuk terapkan Pancasila sebagai ideologi serta dasar negara Indonesia, sehingga semua ormas (organisasi masyarakat) harus mencantumkan Pancasila sebagai asas organisasi dalam anggaran dasarnya.

Maka Ormas yang tidak menggunakan Pancasila sebagai asas organisasi dinilai melanggar hukum, sehingga perlu adanya sanksi hukum dari aparat yang berwenang. Sanksi-sanksi ini bisa berupa pembubaran maupun pernyataan jika organisasi tersebut terlarang. Adapula dalam bentuk pencabutan izin operasi bahkan tidak menerbitkan izin tersebut bagi organisasi yang telah berdiri.

Hingga kini masih banyak ditemui ormas-ormas yang melanggar hukum dalam kaitannya dengan asas organisasi tersebut. Salah satu contoh paling menonjol ialah Front Pembela Islam, yang mana di dalam organisasinya tidak mencantumkan Pancasila sebagai asas organisasi.

Disebutkan dalam Pasal 6 dalam Anggaran Dasarnya menjelaskan visi dan misi FPI, yang mana FPI wujud penerapan syariat Islam Secara Kaffah di bawah naungan Islamiyyah menurut Manhaj nubuwwah, yang melalui pelaksanan da'wah serta penegakan hisbah dan pengamalan jihad.



Visi dan misi tersebut dinilai tidak sesuai dengan hukum positif di Indonesia. Pelaksanaan syariat Islam agaknya telah dijamin oleh NKRI tanpa harus membentuk negara khilafah. Bahkan Negara-negara Islam dalam era modern termasuk Kerajaan Saudi Arabia beserta kawasan di Timur Tengah, juga menjalankan syariat Islam sesuai dengan asas kenegaraan. Tak hanya sampai disitu, penerapan ideologi serta dasar negara Pancasila sudah rampung berdasarkan kesepakatan yang diambil para pendiri negara, yakni, telah dibuat oleh para tokoh muslim dari organisasi-organisasi Islam dalam arus utama. Seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pancasila merupakan bagian dari ajaran agama yang mana didalamnya menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian serta persamaan hak dan pengamalan agama dalam konteks bernegara. Dengan demikian, pengamalan nilai-nilai Pancasila sama halnya mengamalkan nilai yang diajarkan di dalam agama.

Nilai-nilai pancasila yang sesuai dengan ajaran Islam dapat dikategorikan masuk ke dalam ajaran Islam.

Sebagai contoh, Pancasila sila pertama berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Hal ini bisa diimplikasikan ke dalam firman Allah SWT, yang mana dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan "Katakanlah Muhammad bahwa Allah itu esa". Hal ini tentunya menandakan bahwa terdapat  kesesuaian antara ajaran Islam dengan nilai Pancasila sila pertama ini.

Berikutnya sila kedua yang berbunyi "kemanusiaan yang adil dan beradab". Sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an tepatnya pada surat Ar-Rahman ayat 8, yang mana jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia seperti, "tegakkanlah timbangan dan jangan sekali-kali kamu berlaku curang dalam timbangan".

Demikian juga dengan sila ketiga dan seterusnya, dimana didalamnya terdapat keterkaitan dengan Al-Qur'an, yakni, surat An-Nahl ayat 125 serta hadits nabi Muhammad SAW yang shahih.

Dengan adanya keterkaitan yang mampu dibuktikan diharap kedepannya Pancasila dapat berjalan beriiringan dengan Islam. Konteksnya secara menyeluruh dan lebih luas tentunya, karena Indonesia ialah negara multikultur dan beragam.

Pancasila agaknya perlu dimaknai sebagai bentuk pengamalan guna mempersatukan seluruh rakyat Indonesia. Tak salah memiliki opini dalam konteks hukum Islam, ada baiknya disesuaikan dengan kondisi negara Indonesia, yang mana terkenal dengan keanekaragaman budaya serta memiliki anutan kepercayaan yang berbeda-beda.

Islam secara umum-pun mengajarkan untuk menerapkan toleransi antar umat beragama. Bersifat fanatisme dengan kaitan pribadi masih dirasa wajar. Namun untuk kemasyarakatan agaknya akan sedikit berbenturan dengan norma-norma yang berlaku. Pasalnya fanatisme yang berkelanjutan akan memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan toleransi bagi seluruh komponen lapisan masyarakat.

Diharapkan dengan penerapan Pancasila ini akan mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama serta sebagai landasan negara yang kuat dan kompak dalam menghadapi segala masalah. Boleh saja memiliki keyakinan yang berbeda namun ada baiknya tetap dalam konteks ke-Indonesiaan. Dan pada akhirnya perdamaian dari semua kalangan merupakan wujud utama dari sebuah negara. Dimana kita tetap dapat dengan tenang menjalankan kehidupan beserta rutinitas di dalamnya.
Editor: Iman

T#g:ulama
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Senin, 09 Sep 2019 15:09

    Cipta Kondisi Jember Kondusif Ala Komandan Kodim 0824/Jember

    Komandan Kodim 0824/Jember kembali jadwalkan kunjungannya Ke Jajaran Koramil maupun sejumlah Pondok Pesantren di wilayahnya, Jum'at (06/09/2019).Hal tersebut sebagai wujud pelaksanaan programnya,

  • Sabtu, 17 Agu 2019 03:17

    Mari Ramai-Ramai Menolak NKRI Bersyariah

    Ijtima' Ulama 4 dalam salah satu keputusannya seakan menuntut terwujudnya konsep NKRI Bersyariah. Hal tersebut tentu juga bisa saja menimbulkan kontroversi dan melakukan penentangan atas keputusa

  • Minggu, 11 Agu 2019 11:11

    Ulama Angkat Bicara, Kapolres Pelabuhan Belawan Harus Pro Aktif Atasi Judi

    Segala bentuk maksiat dan perjudian merusak moral masyarakat.

  • Kamis, 01 Agu 2019 15:01

    Bernuansa Politis, Ijtima Ulama 4 Tidak Perlu Digubris

    Hiruk pikuk Pilpres telah menjadi catatan sejarah baru bagi dunia politik di Indonesia. Para awak media seakan tak ingin melewatkan segenap aksi para politikus dan simpatisan Capres dalam bermanuver.

  • Sabtu, 20 Jul 2019 14:20

    Jurus Sia-Sia Ijtima Ulama 4 Pasca Pertemuan Jokowi-Prabowo

    Persaudaraan Alumni (PA) 212 berencana menggelar ijtima Ulama keempat untuk menentukan sikap setelah Capres yang diusungnya Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden 2 Periode Joko Widodo. "Acara terse

  • Sabtu, 15 Jun 2019 08:45

    Plt Bupati Labuhanbatu Bangga Nanda Al- Azmi Hasibuan Mengikuti STQN di Pontianak Kalimantan Barat

    Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Labuhanbatu Bapak H.Andi Suhaimi Dalimunthe, S.T,.M.T., hadiri undangan Gubernur Sumatera Utara Bapak Edy Rahmayadi, acara pelepasan kafilah duta Sumatera Utara pada Selek

  • Rabu, 22 Mei 2019 09:12

    Ustadz Zulfan Nababan: Ulama hendaknya jadi air di tanah kering dan penyejuk di suasana panas

    Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ummahatul Mukminim, Batang Kuis- Deli Serdang, Ustad Zulfan Effendy Nababan menanggapi respon negatif terhadap pengumuman hasil perolehan suara rekapitu

  • Senin, 13 Mei 2019 15:53

    DPD Al-Ittidahiyah Medan: Siapa pun presiden, rakyat harus bersatu

    DPD Al-Ittidahiyah Kota Medan menyatakan "Siapa pun presiden yang memimpin negara, rakyat Indonesia tetap harus bersatu."

  • Sabtu, 11 Mei 2019 23:11

    Ustad Abdil Muhadir Ritonga : Walau Tak Sesuai Rencana, Pemenang Pemilu Adalah Harapan Kita

    Walau hasil tidak seperti yang direncanakan tetapi presiden pilihan rakyat yang telah ditentukan, adalah harapan kita.

  • Rabu, 08 Mei 2019 20:08

    Generasi Muda Masjid Sumut (GMM) Tanggapi Sikap Curiga Pada Penyelenggara Pemilu

    Masyarakat harus memberi kepercayaan penuh kepada KPU seiring selesainya Pilpres dan Pileg 2019.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak