Kamis, 04 Jun 2020 05:53
  • Home
  • Opini
  • Monster itu bukan bernama corona, melainkan ketakutan

Monster itu bukan bernama corona, melainkan ketakutan

Pematangsiantar (utamanews.com)
Oleh: Gading S. (Anggota GMKI Pematangsiantar- Simalungun)
Selasa, 03 Mar 2020 11:23
Dok Pribadi
Gading S.
Belakangan ini dunia sedang panik ditimpa dengan lahir dan meluasnya wabah sebuah virus yang bernama coronavirus (COVID-19). Dalam laporan resmi, coronavirus ini sudah berjumlah 83.265 kasus dengan 2.256 orang meninggal dunia di lebih dari 65 negara, bahkan laporan terkini menyebutkan wabah coronavirus ini mengakibatkan 50 orang meninggal dunia perharinya, sejak awal tahun 2020.

Data ini memang cukup membuktikan bahwa wabah coronavirus ini telah menjadi momok bak genosida yang cukup membuat kepanikan di seantero dunia. Di Indonesia sendiri terkini Negara telah mengumumkan 2 orang WNI yang terjangkit coronavirus di Depok, Indonesia.

Tak pelak, selepas Negara melalui Menteri Kesehatan telah membuat pernyataan resmi perihal itu, jagad raya ramai memperbincangkannya. Indonesia mendadak heboh, terkejut. Sebab sebelumnya publik Indonesia telah banyak yang berasumsi bahwa negara kita tidak akan terkena jangkitan virus mematikan itu, kini telah terpatahkan. Terlebih asumsi tersebut banyak dilontarkan dengan alasan yang mengandung unsur candaan-candaan yang cukup menggelitik tawa.

Lantas masuknya virus ini ke Indonesia telah membuat heboh jagat raya, khususnya jagat dunia maya. Penulis sendiri mencatat ada 2.400 tweet tentang masuknya corona di Indonesia dengan #coronavirusindonesia per hari ini.

Angka itu hanya di twitter, di akun WhatsApp penulis sendiri sudah semakin ramai tulisan-tulisan seputar corona yang dishare oleh berbagai pihak, dari tulisan-tulisan tersebut ada yang seputar "mengenal corona", "infografis corona", "langkah antisipasi corona" dan lain-lain. Tapi yang menarik perhatian penulis adalah banyaknya tulisan tentang obat ataupun ramuan yang diyakini mampu mengobati dan mencegah virus corona.

Tulisan tersebut sering hadir mencatat nama-nama orang hebat, ada tertulis Prof Nidam, ahli, pakar dan lainnya. Hal ini bisa jadi merupakan berita hoax, yang menjadi ladang empuk para buzzer untuk menyebarkan ketakutan seoring dengan kepanikan yang timbul oleh wabah corona.

Berita-berita seperti itu yang biasanya mencatut nama-nama beken, ahli, pakar bisa merupakan tulisan yang tidak sapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Akibatnya virus hoax telah menyeimbangi virus corona, bahkan menyalipnya.

Lantas, dengan banyaknya arus informasi yang sangat sulit difilter menjadi bumerang tersendiri bagi masyarakat dalam menyikapi wabah ini. Masyarakat dunia menjadi cenderung takut, atau mengalami ketakutan daripada sekadar meningkatkan kewaspadaan.

Tak pelak ketakutan itu sudah berhasil membuat 2 orang warga Solo bunuh diri. Ketakutan lainnya lebih parah lagi, corona yang bagai hantu membuat "rasa takut" yang cenderung stereotip terhadap suatu kelompok, terutama orang china.

Warga negara china atau orang yang baru berkunjung dari negara tirai bambu tersebut dituding telah membawa corona, tak pelak corona juga berhasil meningkatkan rasisme.

Diskriminasi pun hadir bukan oleh karena kewaspadaan semata, melainkan ketakutan. Lantas publik telah menjadi ruang gema, dimana orang-orang menjadi hanya meyakini persepsinya sendiri, oleh karena memiliki keyakinan yang serupa dengan orang lain.

Ketakutan yang muncul ini juga berhasil memporak-porandakan perekonomian kita, orang-orang menjadi was-was untuk berpergian, sekalipun Pemerintah sudah menjamin "keamanan" di beberapa daerah wisata. Akibat pariwisata yang lumpuh, mata uang kita anjlok. Belum lagi berbicara tentang ekspor-impor yang menurun, dan banyaknya karyawan yang dirumahkan akibat lesunya perekonomian kita pasca corona.

Ketakutan yang lain juga muncul oleh karena pandangan liar, tak cuma liar kadang kala pandangan itu juga gila (tak masuk akal) dan nyeleneh. Contoh kasus, publik berbondong-bondong "mengembargo" produk-produk buatan china, karena dianggap membawa virus corona. Pandangan seperti bahwa Pemerintah tidak cakap dalam menghadapi isu corona contohnya, publik tidak menaruh kepercayaan penuh saat pemerintah telah mengkarantina para WNI yang terpaksa pulang dari China.

Oleh karenanya, sesungguhnya ketakutan-ketakutan yang hadir lebih besar dibanding dengan virus corona itu sendiri, hal ini menjadikan kita lemah, panik dan paranoid. Maka dari itu kita tidak perlu menanggapi sebuah isu terlalu berlebihan, tetap tenang dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Mahasiswa harus tetap berkuli(ah), ayah dan ibu tetap bekerja seperti biasanya. Jangan takut untuk membeli produk china, atau berhubungan dengan orang-orang luar. Hentikan kepanikan dengan tidak membagi konten foto-video para penderita corona ataupun konten yang belum bisa terverifikasi kebenarannya.

Penutup, dari meja penulis menyampaikan "Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makluk berbahagia.!"
Editor: Sam

T#g:GMKIVirus Corona
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Selasa, 02 Jun 2020 18:22

    GMKI Sayangkan Rapat Pembahasan Covid-19 di DPRD Pematangsiantar Tertutup Untuk Umum

    Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun menyikapi pertemuan tertutup pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama Gu

  • Minggu, 24 Mei 2020 14:18

    GMKI Komisariat Pertanian USU Gelar Aksi Berbagi

    Di tengah masa pandemi covid-19, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Medan Komisariat Fakultas Pertanian USU melakukan aksi peduli kepada anak rantau, yakni mahasiswa/i yang berada di ko

  • Kamis, 21 Mei 2020 10:31

    Cluster Isolation Kota Medan, Solusi atau Ilusi

    Virus COVID-19 kian menyerang berbagai sisi kehidupan manusia, tidak terkecuali Indonesia. Masing-masing daerah mengeluarkan kebijakan dan himbauan kepada masyarakat di wilayahnya dalam rangka mencega

  • Selasa, 05 Mei 2020 23:25

    Diskusi Daring GMKI Pematangsiantar- Simalungun Lahirkan Catatan Evaluasi Polemik Bansos COVID-19

    Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menggelar diskusi publik melalui video conference daring pada Senin, (04/05). Diskusi tersebut mengusung thema "Bansos Pemko Siantar; Solusi atau masalah baru?"

  • Sabtu, 02 Mei 2020 21:52

    Aksi Solidaritas GMKI Medan dengan Panti Asuhan

    Pemerintah Kota Medan menerapkan karantina rumah untuk pasien dalam pengawasan dengan gejala ringan, orang dalam pemantauan, orang tanpa gejala, dan pelaku perjalanan. Karantina rumah dilakukan untuk

  • Sabtu, 02 Mei 2020 19:32

    Pemuda Sumut, Muslim dan Kristen Serukan Pesan Damai Bulan Ramadhan

    Peristiwa intimidasi dan kekerasan yang dialami oleh pemilik warung di Batang Kuis mendapat respon dari berbagai kalangan lintas agama.

  • Sabtu, 25 Apr 2020 03:55

    Makin Menyebar, 7 Fakta Penting Virus Corona yang Perlu Diketahui

    Kasus positif COVID-19 di dunia semakin bertambah setiap hari. Sifat penularannya yang masif dan global membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melabeli penyakit yang disebabkan virus Corona ini seba

  • Minggu, 19 Apr 2020 15:09

    Cipayung Plus Kota Medan Minta Pemko Evaluasi Penanganan COVID-19

    Potensi peningkatan kasus Covid-19 di kota Medan sangat besar. Hal ini berdasarkan amatan pada aktifitas di luar rumah yang dilakukan masyarakat serta minimnya tingkat kepatuhan pada jarak fisik (phys

  • Selasa, 07 Apr 2020 07:07

    GMKI Bagikan Masker Gratis di Kota Pematangsiantar

    GMKI Cabang Pematangsiantar- Simalungun melalui komisariat USI, melakukan aksi peduli pencegahan penyebaran virus Corona (COVID-19) dengan berbagi masker secara gratis kepada masyarakat yang terpaksa harus bekerja.

  • Selasa, 31 Mar 2020 10:51

    DPK KNPI Minta Rumah Sakit Transparan Soal Warga Medan Denai, Meninggal Akibat Corona Atau Bukan?

    Di tengah beredarnya virus corona yang melanda, DPK KNPI Medan Denai angkat bicara atas beredarnya di berita daring mengenai terjadinya perdebatan antara pihak kepolisian dan salah seorang anggota DPRD Kota Medan.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak