Rabu, 19 Sep 2018 09:17

Mewaspadai Politisasi Emak-Emak

Medan (utamanews.com)
Oleh: Rika Prasetya, Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI).
Jumat, 14 Sep 2018 11:04
Istimewa
Jokowi dan sekumpulan ibu di pasar tradisional
Beberapa pekan yang lalu, media mengulas fenomena emak-emak yang berdemo karena harga sembako terus mengalami kenaikan. Aksi emak-emak yang tidak tanggung-tanggung datang ke kantor KPU untuk meminta Jokowi mundur karena akan menyalonkan diri menjadi presiden di 2019 nanti menjadi sebuah tanda tanya tersendiri. Keinginan mereka untuk meminta Jokowi mundur dari presiden menandakan bahwa emak-emak tersebut tidak mengerti tentang aturan dalam mengenai pencalonan presiden.

Dalam demonya, sekumpulan emak-emak medatangi Bawaslu dan menyampaikan Jokowi mundur seperti yang juga dilakukan oleh Sandiaga Uno ketika hendak mencalonkan diri sebgai wakil president. Sebenarnya bila Jokowi ingin maju kembali sebagai calon presiden pada kampanye 2019 nanti, tidak perlu mundur dari jabatan yang sekarang. Berdasarkan undang-undang no.7 tahun 2017, presiden bisa mengajkan cuti kampanye nantinya.

Keterlibatan emak-emak di dalam isu politik yang mengusung harga sembako ini, mengkhawatirkan bagi sebagian kalangan. Karenanya ratusan emak-emak yang tergabung di dalam PERMISI atau perempuan milenial Indonesia juga turut berdemo ke Bawaslu. Mereka tidak rela jika emak-emak dilibatkan dalam politisasi. Pada Rabu 12 September 2018, aksi demo di depan Gedung Bawaslu itu menolak eksploitasi emak-emak untuk dijadikan alat politik dari pihak tertentu.

Perwakilan dari Permisi mengatakan, ada beberapa poin penting yang sudah disampaikan ke Bawaslu. Pertama, mereka menilai bahwa presiden Jokowi tidak harus mundur dari jabatan presiden sekarang ini, dan nantinya bisa mengajukan cuti untuk kampanye. Kedua, menolak dilibatkannya emak-emak di dalam politik praktis pada pemilu 2019 nanti. Ketiga, meminta Bawaslu untuk menindak tegas apabila ada oknum-oknum yang berpolitik dengan tidak santun dan tidak mematuhi perundang-undangan. Ke empat, menolak dilibatkannya emak-emak dalam mendukung gerakan tagar ganti presiden supaya tidak ada penafsiran yang keliru di masyarakat.


Rombongan emak-emak yang berdemo kemarin memang menjadi sebuah hal tidak terduga dan sekaligus miris. 

Permasalahan tentang kenaikan harga pangan di masyarakat yang memang cenderung dekat dengan kehidupan ibu rumah tangga seolah menjadi sebuah alasan yang masuk akal bahwa mereka berdemo untuk menuntut kesejahteraan hidup. Namun, pada kenyataannya praktik ini seperti ditunggangi oleh kepentingan politik.

Berbicara tentang naiknya harga pangan, tentunya tidak lepas dari naiknya dolar terhadap rupiah. Bahan pangan yang saat ini masih banyak diimport dari luar negeri membuat Indonesia pun mengalami kenaikan harga pangan menyesuaikan kenaikan dolar. Namun, sebenarnya bukan hanya faktor itu saja yang membuat harga pangan naik. Di samping naiknya harga pangan tiap tahunnya, tapi pendapatan masyarakat juga mengalami kenaikan. 

Selain itu, pemerintah juga telah menyediakan stok yang cukup untuk bahan pangan bisa ada di tengah masyarakat sehingga harganya bisa lebih terkendali karena stoknya yang stabil.

Di tengah situasi politik jelang pemilu, tindakan emak-emak yang berdemo ini bisa membuat panas suasana politik. Tidak seharusnya emak-emak yang cenderung tidak tahu situasi dan data-data perihal ekonomi Indonesia dilibatkan dalam praktik politik. Keinginan emak-emak sebenarnya sesederhana mereka ingin berbelanja di pasar dan mendapatkan barang-barang yang murah dan bisa dijangkau olehnya, namun pada kenyataannya mereka tidak sadar bahwa ada unsur politik yang bisa jadi menopang kepentingan mereka.


Itulah yang akhirnya membuat PERMISI merasa empati kepada emak-emak Indonesia. Mereka mendesak Bawaslu agar tegas terhadap praktik politik yang menyimpang maupun melibatkan emak-emak yang bisa jadi tidak tahu menahu urusan politik.

Supriyadi, sebagai Koordinator aksi tersebut menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari keinginan menyaksikan suasana politik yang damai di Indonesia. Tanpa perlu adanya kegiatan saling menjatuhkan lawan politiknya. 

Tidak perlu adanya saling menghujat, karena Indonesia perlu pemimpin yang bisa membawa generasi selanjunya ke arah yang lebih baik. Contoh itu perlu ada dan dapat dilihat sebelum pemilihan sesungguhnya berlangsung.

Emak-emak seharusnya bisa tenang untuk mengurusi kehidupan rumah tangganya dan mengatur anak-anak sebagai generasi berikutnya ke arah yang lebih baik. Bukan lantas dijadikan sebagai sebuah alat politik. Kalau pun mereka ingin menyampaikan aspirasinya sebagai masyarakat Indonesia, mereka perlu berdiri independent tanpa dipengaruhi oleh pihak lain. Bukan hanya terfokus pada naiknya harga pangan saja, tapi juga bisa melihat dengan jeli apa saja faktor yang mempengaruhinya.

Sebenarnya masalah kenaikan harga pangan, tidak bisa hanya menjadi sebuah kesalahan pemerintah yang tidak bisa mengendalikannya. Tapi kita juga harus bersikap adil dalam memahami situasi ini. Harga bahan pangan yang naik juga sebanding dengan kenaikan pendapatan masyarakat.

Memang saat ini, kenaikan dolar membuat rupiah melemah yang akhirnya banyak juga yang mengatakan Indonesia mengalami krisis yang sama seperti di tahun 1998. Pada tahun 1998 nilai tukar dolar terhadap Indonesia mencapai 14.000, hampir sama dengan saat ini. Namun perbandingannya, di tahun 1998 dolar melonjak naik dengan cepat dari yang awalnya 3.000 menjadi 14.000 sehingga barang-barang pun naik berkali-kali lipat dari sebelumnya. Namun di saat ini, kenaikan dolar hanya 11%. Di tengah kondisi krisis global, kenaikan dolar yang berkisar 11% ini masih dikategorikan aman.

Ada banyak isu yang bergulir, terutama soal kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai mengkhawatikan oleh sebagian orang. Itu pun menjadi sebuah isu politik yang terus bergulir jelang pilpres 2019. Padahal sebenarnya ekonomi Indonesia masih stabil. Pemerintah tidak hanya tinggal diam di dalam menghadapi permasalahan-permaslahan ekonomi yang terjadi belakangan ini. 

Terlebih soal masalah pangan. Bukan hanya di Indonesia, masalah bahan pangan juga menjadi masalah penting di berbagai negara. Untuk meningkatkan kualitas pangan, pemerintah telah melakukan beberapa cara. BUMN perlu mengelola sektor pangan dan menjaga harga serata stok bahan pangan tetap stabil dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Selain itu, kontrol terhadap kualitas pangan juga ditingkatkan agar masyarakat Indonesia bisa mendapatkan gizi yang baik lewat makanan-makanan yang berkualitas.

Tak hanya kualitas pangan yang perlu diperhatikan, kesejahteraan petani juga menjadi faktor penting. Pekerjaan petani yang bisa juga sejahtera sama seperti profesi lainnya akan mendorong minat masyarakat untuk menjadi petani dan akhirnya membuat Indonesia akan bisa swasembada beras. Potensi Indonesia sebenarnya terbuka lebar untuk bisa swasembada bahan pangan mengingat tanah Indonesia yang subur dan dilalui garis khaulistiwa. 

Ketika Indonesia telah siap untuk bisa berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan negeri ini, maka emak-emak juga bisa lebih tenang dan tak lagi khawatir akan harga bahan pangan yang terus naik. Tapi, tentunya itu tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat. Perlu kerja keras dari semua pihak untuk bahu membahu di dalam memajukan negeri ini sesuai profesinya masing-masing. Dibandingkan terus mengeluh dan menajatuhkan pihak-pihak lain, lebih baik hadapi krisis ekonomi global dengan tetap menjaga persatuan. 

Salah satunya dengan tidak saling menyalahkan. Jangan ada politik yang saling menjatuhkan. Indonesia siap memilih pemimpin terbaik untuk memimpin negeri ini  2019 nanti. Siapa pun yang terpilih adalah pilihan rakyat yang dipercaya memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik lagi.

Editor: Sam

T#g:Sembako
iklan kaos garuda
Berita Terkait
  • Rabu, 12 Sep 2018 10:42

    Emak-Emak Jangan Risau, Harga Kebutuhan Pokok Masih Terjangkau

    Belakangan ini istilah emak-emak mulai ramai menghiasi pemberitaan, khususnya oleh politisi guna mengafirmasi adanya gangguan stabilitas harga pangan dalam level rumah tangga. Jauh sebelumnya, pada 18

  • Selasa, 26 Jun 2018 20:46

    Syamsul Arifin Bantah Bagi-bagi Sembako Salah Satu Paslon

    Terkait acara bagi-bagi sembako di Jalan Puri, Kelurahan Kota Matsum I, Kecamatan Medan Area, Selasa (26/6/2018) sore, membuat Mantan Gubernur Sumut angkat bicara. Tokoh Melayu itu menyayangkan adanya

  • Rabu, 06 Jun 2018 14:06

    Jelang Lebaran, Harga Kebutuhan Pokok Stabil di Langkat

    Ada yang berbeda pada bulan puasa tahun ini. Biasanya menjelang puasa dan lebaran, harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan. Ketersediaan bahan pangan kerap kali juga sulit didapatkan. Padahal ba

  • Senin, 04 Jun 2018 15:54

    Jelang Idulfitri, Harga Sembako di Palas Cenderung Stabil

    Menjelang H-11 perayaan hari raya Idulfitri 1439 hijriyah, kondisi dan keadaan harga sembako dan kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di daerah Kabupaten Padang Lawas (Palas) masih cenderung

  • Kamis, 17 Mei 2018 04:07

    Stok Bahan Pokok Cukup Selama Ramadhan

    Menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi mengunjungi lokasi pasar tradisional dan modern di Kota Medan, Rabu (16/5/2018). Dari pantauan harga di

  • Selasa, 19 Des 2017 16:19

    Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Sembako Merangkak Naik

    Menjelang Natal Tahun 2017 dan Tahun Baru 2018 sejumlah barang kebutuhan pokok masyarakat di Lubuk Pakam Deli Serdang sekitarnya mulai merangkak naik.

  • Jumat, 15 Des 2017 20:35

    Dandim 0824 Dukung Stabilisasi Harga Pasar

    Mendekati momentum hari raya dan hari besar tertentu kondisi pasar terhadap harga sembilan bahan pokok (Sembako) utamanya selalu mengalami perubahan yang fluktuatif.Hal tersebut dikarenakan kebutuhan

  • Selasa, 21 Nov 2017 03:41

    Harga Jual Cabe di Palas Turun

    Tercatat sejak seminggu terakhir ini, harga jual komoditas cabe di Pusat Pasar tradisional di Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas (Palas) mengalami penurunan.Pantauan wartawan di Pasar

  • Senin, 04 Sep 2017 19:54

    BPS: Agustus, Deflasi 0,77 Persen

    Berdasarkan hasil pantauan di 82 kota di tanah air, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, secara umum menunjukkan adanya penurunan harga komoditas utama, termasuk pengeluaran kelompok bahan makanan

  • Selasa, 29 Agu 2017 18:39

    Dahler: Stok Daging menjelang Lebaran Haji 2017 aman

    Secara umum ketersediaan pangan menjelang Idul Adha 2017 cukup aman. Harga pangan menjelang Idul Adha juga cenderung stabil.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak