Sabtu, 22 Feb 2020 02:03
  • Home
  • Opini
  • Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Lingkungan Masyarakat

Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Lingkungan Masyarakat

Oleh: Rizal Arifin (Pemerhati Masalah Sosial Politik)
Jumat, 14 Feb 2020 03:14
Rmoljateng.com



Paham radikal masih menjadi ancaman nyata. Masyarakat dan Pemerintah pun harus terus bersinergi menangkal penyebaran paham anti Pancasila tersebut yang cenderung meningkat dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi.


Radikalisme menjadi sebuah ancaman yang sangat membahayakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ia mampu menyasar siapa saja tanpa pandang bulu dan latar belakang. Oleh karena itu, semua pihak harus berperan aktif menjadi mitra sinergis pemerintah dalam membendung penyebaran radikalisme.


Masyarakat diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran radikalisme di berbagai lini adalah prioritas utama. Sebab, paham dan tindakan yang dapat menyebabkan pelakunya cenderung ke arah terorisme akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Pemerintah dan masyarakat tidak boleh lengah lagi dalam mengawasi penyebaran ideologi anti Pancasila ini.


Radikalisme yang kini menggerus zaman mulai menunjukkan taringnya. Eksitensi paham yang identik dengan agama Islam ini perlahan berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman. Radikalisme seolah mampu bertransformasi sesuai apa yang dihinggapinya. Mengelabui setiap korbannya untuk menjadi boneka bagi kelangsungan kelompok ekstrimis di luaran sana.


Mengacu kepada Ketentuan Pasal 43A Undang-Undang Nomor 5/2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UU 5/2018) menyatakan, bahwa upaya pencegahan tindak pidana terorisme dilakukan oleh pemerintah yang dilandasi dengan prinsip pelindungan hak asasi manusia serta prinsip kehati-hatian.


Upaya pencegahan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati guna memberikan perlindungan hukum terhadap hak perseorangan ataupun kelompok orang yang diduga terpapar radikalisme. Sikap hati-hati tersebut juga harus mempunyai ukuran dan standar perlindungan hak asasi manusia. Hal ini bertujuan agar upaya pencegahan tidak melahirkan korban dan stigma baru terhadap seseorang beserta kelompok orang yang terpapar radikalisme.


Merujuk upaya pencegahan tersebut, UU Nomor 5/2018 telah memberikan pedoman yang cukup jelas dan terinci. Undang-undang berikut menyatakan upaya pencegahan harus dilaksanakan melalui kesiapsiagaan nasional, kontraradikalisasi dan juga deradikalisasi. Adapun maksud dan tujuan upaya pencegahan tersebut antara lain adalah, kesatu kesiapsiagaan nasional.


Upaya pencegahan melalui sistem kesiapsiagaan nasional merupakan kondisi siap siaga guna mengantisipasi berlakunya tindak pidana terorisme melalui proses yang terpadu, terencana, sistematis, dan berkesinambungan. Kegiatan melalui kesiapsiagaan nasional ini dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan aparatur, perlindungan serta peningkatan sarana prasarana, pengembangan kajian terhadap terorisme, termasuk pemetaan wilayah rawan paham radikal terorisme.


Kedua, yaitu kontraradikalisasi. Upaya pencegahan dengan rencana ini mengusung proses yang terencana, terpadu, sistematis, dan berkesinambungan yang dilakukan terhadap orang maupun kelompok yang rawan terpapar radikalisme. Tujuannya guna menyetop penyebaran paham radikal terorisme. Kegiatan kontraradikalisasi ini akan dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung melalui kontrapropaganda, kontranarasi, maupun kontraideologi.


Yang ketiga ialah deradikalisasi yang mana menganut proses secara terencana, terpadu, sistematis, dan berkesinambungan yang dipraktikkan guna menghilangkan, menekan, hingga membalikkan pemahaman radikal terorisme. Target deradikalisasi umunya ialah tersangka, terpidana, terdakwa atau narapidana, termasuk mantan narapidana terorisme maupun orang atau kelompok orang yang telah terpapar paham radikal terorisme.


Dosen di Departemen Sosiologi, Universitas Gadjah Mada, Zaki Arrobi menyatakan jika Persoalan paling mendasar yang para pelaku radikalisme hadapi di masa lalu, ialah gagalnya komunikasi dengan orang tua, relasi gender dalam keluarga, termasuk konstruksi yang tidak setara penting untuk diatensikan.


Hal tersebut yang kemudian mengagungkan penggunaan senjata, kekerasan hingga nilai- nilai yang memberi situasi kondusif bagi kekerasan dan terorisme. Maka dari itu, Zaki setuju dalam upaya deradikalisasi dengan menyentuh dimensi yang komprehensif dan segi holistik. Deradikalisasi akan dinilai lebih efektif bila sentuhan emosi dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari dilaksanakan.


Dimensi pemikiran seorang mantan teroris, merupakan bagian terberat untuk disentuh. Sehingga membutuhkan pendekatan persuasif dalam jangka panjang. Dirinya menambahkan, terkait riwayat kehidupan, alasan serta motivasi utama pelaku radikalisme memutuskan untuk bergabung dengan gerakan terorisme pasti berbeda. Jadi formula pendekatan tidak bisa dibuat seragam atau satu untuk semua.


Dapat dipastikan bahwa semua hal pasti akan berawal dari keluarga. Pendidikan bertoleransi tinggi dinilai sebagai kunci utama untuk menghargai sebuah perbedaan. Yang nantinya akan memberikan pandangan teduh mengenai perbedaan tajam berkenaan dengan agama, pendapat, sikap maupun sektor yang lainnya.


Namun, kini penanaman sikap toleransi seakan ikut hanyut bersama derasnya perkembangan zaman. Hingga membuat pelakunya ingin membuat dunianya sendiri sesuai ekspektasi yang diingini.


Meningkatkan kewaspadaan akan paparan radikalisme ini bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Perkuat iman serta wawasan terkait radikalisme agar kita bisa melawan paham yang kini kian menggerogoti pemikiran masyarakat.

Editor: Tessa

T#g:radikalisme
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Sabtu, 29 Feb 2020 03:29

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme Melalui Internet

    Pesatnya kemajuan teknologi telah dimanfaatkan oleh kelompok teror untuk menyebarkan radikalisme menggunakan berbagai platform berbasis internet. Internet dianggap efektif dalam menyebarkan ideologi a

  • Kamis, 27 Feb 2020 03:27

    Radikalisme Adalah Musuh Bersama

    Komitmen dan Konsistensi Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin dalam memberantas radikalisme tidak perlu diragukan lagi. Belakangan terbaru, Presiden Jokowi tegas menolak kepulangan teroris ISIS Eks WN

  • Minggu, 09 Feb 2020 03:09

    Mewaspadai Aliran Dana Kelompok Radikal ke Indonesia

    Radikalisme masih menjadi ancaman nyata bagi Indonesia. Pemerintah perlu menelusuri pergerakan kelompok radikal tersebut, tidak terkecuali aliran dana yang sering digunakan untuk melakukan teror.Apara

  • Rabu, 05 Feb 2020 03:05

    Mewaspadai Radikalisme dan Intoleransi di Lembaga Pendidikan

    Radikalisme dan intoleransi masih menjadi ancaman nyata bangsa Indonesia. Penyebarannya paham anti Pancasila tersebut dianggap sudah masuk ke lingkungan Pendidikan sehingga mengancam tumbuh kembang ge

  • Sabtu, 01 Feb 2020 03:01

    Melawan Radikalisme di Setiap Lini Kehidupan

    Radikalisme merupakan ancaman laten dalam kehidupan berbangsa. Ia dapat menyasar siapa saja tanpa memandang latar belakang. Semua pihak diharapkan meningkatkan kewaspadaan untuk membendung penyebaran

  • Kamis, 30 Jan 2020 03:30

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Kalangan Pemuda

    Masa muda identik dengan decade pencarian jati diri. Hal tersebut dapat berdampak terhadap tingginya kerentanan penyebaran radikalisme dikalangan pemuda. Oleh karena itu, perlu perhatian intens agar t

  • Rabu, 29 Jan 2020 03:29

    Mendukung Program Pemerintah Memberantas Radikalisme

    Pemerintahan dibawah naungan Presiden Jokowi menegaskan akan meningkatkan keseriusannya dalam menangani masalah radikalisme di Indonesia. Presiden Jokowi tidak hanya menyoal penindakan, tapi juga beru

  • Minggu, 26 Jan 2020 19:06

    Upaya Bersama Membendung Radikalisme di Masyarakat

    Paham radikal masih menjadi ancaman nyata yang perlu diwaspadai seluruh masyarakat. Selain memicu aksi kekerasan, Paham radikal juga diyakini mampu memicu konflik antar masyarakat dan menyebabkan dish

  • Selasa, 07 Jan 2020 03:07

    Masyarakat Diimbau Melawan Hoax dan Radikalisme

    Perkembangan teknologi informasi telah memudahkan manusia untuk saling bertukar informasi. Namun di sisi lain, kecanggihan tersebut juga membuka ruang bagi tumbuhnya hoax maupun radikalisme yang dapat

  • Sabtu, 21 Des 2019 03:21

    Mewaspadai Penyebaran Paham Radikal di Kalangan Milenial

    Penyebaran Paham Radikal, merupakan salah satu permasalahan yang sangat pelik, tak hanya kalangan mahasiswa yang rawan atas penyebaran paham ini. Karena ternyata masih ada kasus radikal yang menjangki

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak