Kamis, 04 Jun 2020 06:17
  • Home
  • Opini
  • Mewaspadai Penyebaran Radikalisme Menyasar Anak Muda

Mewaspadai Penyebaran Radikalisme Menyasar Anak Muda

JAKARTA (utamanews.com)
Oleh: Alfisyah Kumalasari )*
Sabtu, 23 Mei 2020 03:33
Facebook
Ilustrasi
Penyebaran radikalisme masih menjadi ancaman bagi kelangsungan bangsa dan negara Indonesia. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, target radikalisme pun kini juga menyasar generasi muda yang memang akrab dengan internet. Masyarakat dan Aparat Keamanan diharapkan jangan lengah terhadap fenomena tersebut.

Sudah sejak lama kita bisa mengetahui bahwa anak muda merupakan golongan yang paling rawan yang terpapar radikalisme dan terorisme. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang mengatakan bahwa anak-anak berusia antara 15 dan 29 tahun merupakan sektor sosial paling rawan terpapar radikalisme dan terorisme.

Ia menjelaskan bahwa anak muda biasanya menjadi tulang punggung organisasi-organisasi radikal dalam menggelar aksi-aksi kekerasan. Sebagian terlibat dalam aksi-aksi jihad di kawasan yang dilanda konflik komunal dan menjadi mastermind serta pelaku utama aksi-aksi pengeboman seperti di Bali, Jakarta, Solo, Surabaya dan kota-kota lainnya.

Berdasarkan catatannya, ada sekitar ratusan anak muda Indonesia yang bergabung ISIS. Dirinya juga menyampaikan bahwa keterlibatan kaum muda dalam radikalisme dan terorisme tidak bisa dilepaskan dari tingginya angka pengangguran, ketiadaan kesempatan, tidak berfungsinya struktur keluarga dan eksklusi sosial.


Menurutnya, radikalisme dan terorisme bisa dianggap pelarian kekanak-kanakan kaum muda atas kekecewaan-kekecewaan mereka terhadap situasi yang dihadapi. Dirinya juga menyampaikan data, pada akhir tahun 90an kaum muda semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Mereka menempati 72,5 persen dari total pengangguran dan 600 ribu lulusan universitas tidak bisa mendapatkan pekerjaan.

Pada awal 2000-an, lebih dari 60 persen anak muda antara 15 hingga 19 tahun yang siap kerja belum mendapatkan pekerjaan. Di saat ekonomi mengalami peningkatan pada paruh kedua 2000-an dan setelahnya, 2 juta sampai 3 juta orang masuk ke dalam daftar pencari kerja baru setiap tahun. Sehingga angka pengangguran tetap tinggi.

Masuknya era reformasi menjadi pertanda dimulainya kebebasan di Indonesia, dimana kelompok - kelompok Islam transnasional semakin kencang memanfaatkan situasi tersebut untuk semakin menggaungkan ajarannya. Dimana mereka menyasar sekolah atau kampus sebagai upaya menjaring simpatisan dari para anak muda.

Survey yang dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah pada akhir 2017 menunjukkan adanya potensi radikalisme di kalangan generasi Z, yaitu yang lahir pada pertengahan 90-an sampai pertengahan 2000-an. Temuannya adalah sebesar 37.71 persen memandang bahwa jihad adalah perang, terutama perang melawan non- muslim. Selanjutnya 23.35 persen setuju bahwa bom bunuh diri itu jihad Islam. Lalu yang tak kalah mengerikan 34.03 persen setuju jika ada umat muslim yang murtad maka harus dibunuh. Temuan lainnya 33,04 persen berpendapat perbuatan intoleran terhadap kelompok minoritas tidak masalah.


Para generasi Z ini mendapatkan banyak materi Islam salah satunya dari Internet dan media sosial, dimana anak muda bisa dipastikan sangat dekat dengan internet.

Kelompok radikal menggunakan internet dan media sosial dengan serius karena menjangkau warganet secara luas. Dari ratusan ribu atau jutaan yang menonton atau membaca informasi yang diunggah, dalam persentase tertentu ada yang terdoktrinasi. Dari situ, tinggal membina, membangun jejaring dan merawatnya untuk memperkuat posisi dan suatu saat dimanfaatkan bagi kepentingan kelompoknya.

Anak muda menjadi sasaran karena target penyebaran radikalisme karena masih punya jiwa muda. Selain itu, biasanya anak muda yang terpapar radikalisme ialah yang baru mendalami agama. Faktor lainnya ialah sifat ingin menunjukkan eksistensi diri.

Mereka (anak muda) tentu akan mudah terpikat oleh etos perjuangan melawan kebobrokan, penindasan pada lantaran lokal, nasional maupun global, biasanya yang tertarik mereka yang baru belajar agama atau mualaf, jadi cenderung orang yang baru masuk Islam ingin menunjukkan dia lebih Islam dari siapa saja.

Selain itu, anak muda yang kurang bergaul dengan teman-temannya juga sangat muda terpapar radikalisasi. Kelompok seperti ini termasuk yang diincar oleh kelompok radikal.

Para remaja dan pemuda yang kini terindoktrinasi ajaran radikal, layaknya bibit- bibit yang baru mau bertumbuh, saat ini mereka tidak menunjukkan tanda bahaya bagi masyarakat, namun semaian radikalisme yang terus dipupuk akan menjadi sangat berbahaya pada 20- 30 tahun mendatang ketika mereka sudah dewasa, memiliki kekuasaan, sumberdaya atau akses tertentu.

Tentu saja hal ini harus diantisipasi sejak dini, peran lintas sektoral dari sekolah ataupun lembaga non-konvensional tentu harus bersinergi untuk mencegah anak muda dari paparan paham radikal.


)* Penulis aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini
Editor: Iman

T#g:isis
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Minggu, 16 Feb 2020 03:16

    Mengapresiasi Sikap Tegas Pemerintah Menolak Kepulangan ISIS Eks WNI

    Pemerintah dengan tegas menolak memulangkan ISIS eks WNI ke Tanah Air. Kepulangan mereka  dikhawatirkan menjadi teroris baru yang membahayakan nyawa 267 juta rakyat Indonesia. Beberapa pekan

  • Minggu, 09 Feb 2020 08:29

    WNI Alumni ISIS, Pulang Atau Tidak?

    Setelah pertarungan ideologi Pancasila dengan Khilafah, di era pilpres 2019, yang  berawal dari penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahajaahaya Purnama atau Ahok, aksi dan opini te

  • Selasa, 04 Feb 2020 17:24

    Pemerintah Masih Kaji Rencana Pemulangan Eks ISIS

    Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan ISIS saat ini berada di beberapa negara di Timur Tengah. Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan bahwa pemerintah saat ini masih mengka

  • Jumat, 23 Agu 2019 03:23

    WNI Eks ISIS, Pergi Sembunyi- sembunyi Kemudian Minta Kembali

    Beberapa WNI pada awal tahun 2011 pergi ke luar negeri dengan berbagai tujuan,  namun hal itu hanyalah kamuflase belaka, ternyata tujuan mereka adalah untuk menuju Suriah dan tergabung dalam kelo

  • Senin, 12 Agu 2019 03:12

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Indonesia

    Radikalisme merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia telah menjadi merekam bagaimana bahaya dan ancaman mereka yang telah mampu melulu lantakkan sendi- sendi keh

  • Sabtu, 03 Agu 2019 03:03

    Tak Perlu Ragu Menolak Kepulangan WNI Eks ISIS

    Media telah memberitakan bahwa ISIS mengalami kekalahan di Suriah, mereka memaksa mundur setelah diserang oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di bulan Maret 2019 ditandai dengan jatuhnya pertahanan t

  • Minggu, 02 Des 2018 03:02

    Operasi Intelijen? Tuduhan Tanpa Landasan!

    Bendera bertuliskan kalimat tauhid menjadi kontroversi di Tanah Air akhir akhir ini. Polemik itu berawal dari pembakaran bendera oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama di Garut

  • Jumat, 09 Nov 2018 10:49

    Kebutaan Di Balik Aksi 211

    Dampak dari kejadian hari santri yang diselenggarakan oleh Ormas Islam di Garut pada 22 Oktober 2018 lalu, berujung panjang hingga adanya Aksi Bela Tauhid 211. Aksi membela kalimat Tauhid dipelopori o

  • Jumat, 18 Mei 2018 15:18

    Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

    Setelah aksi penyanderaan di Markas Komando Brigade Mobil (MAKO) Brimob di Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) lalu, teror kembali terjadi dua hari berturut-turut. Kali ini teror dilakukan di Kota Surabay

  • Kamis, 10 Mei 2018 20:30

    PascaKerusuhan di Mako Brimob Depok, Kapoldasu Ingatkan Polres Deliserdang Siaga

    Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Paulus Waterpauw meninjau Polres Deliserdang pada Rabu (9/5/2018) sekira pukul 23.45 Wib.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak