Selasa, 25 Jun 2019 23:57

Menuju Pilpres 2019 Tanpa Hoax

Medan (utamanews.com)
Oleh: Rosa Aulia, Alumni Universitas Negeri Medan
Kamis, 07 Mar 2019 03:07
Istimewa
Saat ini, kita sudah memasuki era revolusi industri 4.0 yang menyebabkan dunia menjadi tanpa batas (borderless).

Masyarakat bisa mendapatkan informasi yang mereka inginkan melalui internet maupun media sosial dengan sangat mudah. Namun, hal ini menyebabkan banyaknya informasi yang diterima masyarakat sehingga sulit untuk membedakan antara yang benar dan salah.

Salah satu permasalahan yang dihadapi rakyat Indonesia adalah tersebarnya berita hoax. Teknologi media sosial yang canggih pada saat ini memudahkan bagi penggunanya untuk menyebarkan informasi yang diterima atau biasa disebut reshare sehingga informasi yang salah pun bisa menyebar ke seluruh kalangan masyarakat. Hal ini menyebabkan terjadinya kegelisahan di dalam masyarakat Indonesia karena tidak ada yang dapat menyaring informasi yang ada.

Internet dapat diakses oleh siapa saja, dimana pun, dan kapan pun. Tidak ada yang dapat membatasi orang untuk menerima dan menyebarkan berita. Hal ini menyebabkan informasi yang beredar di internet menjadi tidak tersaring sehingga banyak hoax muncul. Banyak informasi yang muncul di internet yang tidak sesuai dengan fakta yang ada.


Menurut KBBI, hoaks adalah kata yang berarti ketidak benaran suatu informasi. Survey MASTEL (2017) menyatakan bahwa dari 1,146 responden, 90,30% mendefinisikan hoax sebagai berita bohong yang disengaja. Bentuk hoax yang paling mendominasi yang diterima oleh responden yaitu 62,10% dalam bentuk tulisan. Saluran penyebaran berita hoax yaitu 92,40% media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path dan juga aplikasi chatting seperti Whatsapp, Line, dan Telegram.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut bahwa ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar hoax dan ujaran kebencian (Pratama, 2016).


Tahun 2019 merupakan tahun dimana akan diadakan pesta demokrasi yang dilaksanakan sekali dalam lima tahun. Rakyat Indonesia akan memilih pemimpin yang akan menduduki DPD, DPRD, DPR, dan juga presiden. Tim sukses dari masing-masing calon legislatif dan calon presiden pun kian berlomba-lomba untuk memberikan impresi yang baik kepada masyarakat dalam bentuk aksi langsung turun ke lapanan, tulisan, gambar, dan sebagainya.

Namun sayangnya, banyak juga yang melakukan kampanye yang tidak sehat dengan kampanye negatif dan kampanye hitam. Kampanye negatif atau negative campaign adalah kampanye yang dilakukan dengan mengungkit isu-isu yang merupakan fakta namun tidak terlalu digubris masyarakat. Hal ini sangat lazim di politik dan digunakan untuk menjatuhkan lawan yang lebih kuat. Namun, berbeda dengan kampanye hitam atau black campaign yang merupakan metode dengan menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut, dan menyebarkan berita yang mengandung hoax yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok orang/partai politik/pendukung terhadap lawan mereka yang bertujuan agar menimbulkan pandangan yang tidak etis.

Komunikasi dalam bentuk kampanye hitam mengakibatkan adanya sikap resistensi calon pemilih sehingga mereka tidak dapat memilih dengan efektif. Biasanya kampanye tersebut mempermainkan emosi calon pemilih dan tidak jarang membawa isu SARA yang membuat masyarakat tidak dapat menerima informasi dengan baik. Selain itu, masyarakat cenderung mencari pembenaran atas apa yang diyakininya benar, sehingga masyarakat cenderung mengkonsumsi informasi yang cocok dengan kenginannya meski informasi tersebut menjerumuskan.

Menjelang Pilpres yang diadakan pada 17 April 2019, semakin banyak penyebar hoaks yang menyerang kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung di Pilpres 2019. Pada bulan Januari ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika mendeteksi hoax yang menyebar di internet. Bukan main-main, dalam satu bulan dideteksi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas hoax. Berdasarkan yang dikatakan oleh Surwajono (2016), dalam www.kominfo.go.id, upaya pemberantasan hoax ini sudah mulai dirancang di mana akan muncul gerakan anti-berita hoax yang nantinya akan dibuat dalam bentuk aplikasi. Menurutnya, jika tidak ada alat yang dapat memastikan kevalidan suatu berita bahwa berita tersebut hoax atau tidak, maka masyarakat nanti akan berpandangan bahwa semua informasi baik yang mereka akses maupun yang disebar oleh orang lain itu merupakan berita.

Terdapat  lima langkah sederhana agar masyarakat dapat mengidentifikasi mana berita asli dan mana berita hoax, yang diuraikan oleh Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho.

Pertama, hati-hati dengan judul-judul provokatif. Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif dan langsung menuding pihak tertentu.

Kedua, cermati alamat situs. Maksudnya, periksalah apakah alamat URL situs tersebut sudah terverifikasi atau belum. Jika belum, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Ketiga, periksa fakta. Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Keempat, cek keaslian foto. Caranya yaitu dengan menggunakan mesin pencari google. Terakhir, ikut serta grup diskusi anti-hoax. Dengan langkah-langkah tersebut, masyarakat dapat memilah informasi-informasi.

Kita, sebagai individu, juga memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang diterima. Pencegahan informasi yang salah dan berita hoax juga harus dimulai dari diri sendiri agar tidak menyebarkan informasi palsu. Oleh karena itu, pencegahan berita hoax dilakukan dengan pembekalan pengetahuan masyarakat tentang media sosial dan literasi digital.

Selain itu, pencegahan pun juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat anti-berita hoax. Diharapkan nantinya setelah dilaksanakan upaya pencegahan tersebut, masyarakat dapat mengenali ciri-ciri berita hoax dan melakukan pola internet yang sehat agar terhindar dan tidak terjerumus dalam maraknya hoax.

Editor: Iman

T#g:hoax
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Jumat, 24 Mei 2019 22:44

    Kapuspen TNI: Tidak Benar Provokator di Masjid Petamburan Anggota BAIS TNI

    Video viral https://youtu.be/cOFapD_1TzE dengan judul 'Terciduk! Diduga Oknum BAIS TNI Provokasi Massa di Aksi 22 Mei dan Menyudutkan POLRI'. Informasi/ tulisan yang terdapat pada video ters

  • Jumat, 24 Mei 2019 03:24

    Waspada dan Jangan Terprovokasi Hoaks Menjelang Pengumuman Hasil Pemilu 2019

    Pada era globalisasi saat ini teknologi berkembang sangat pesat. Sebagian besar individu telah mengenal smartphone dan komputer yang terhubung dengan internet. Mereka memanfaatkan smartphone untuk akt

  • Senin, 22 Apr 2019 10:22

    Pemilu Sudah Selesai, Komunitas GESIT Ajak Warganet Dukung Hasil Pemilu Secara Konstitusional Tanpa Hoax

    Pemilu 2019 baik Pileg maupun Pilpres sudah berlangsung lancar dan aman pada 17 April 2019 lalu, dimana sepanjang musim kampanye berlangsung, berita hoax dan fitnah marak di lini media sosial dan perd

  • Minggu, 21 Apr 2019 23:21

    Sebelum Tuduh KPU Curang, Kroscek Terlebih Dahulu

    Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) khawatir bahwa informasi- informasi yang sesat dan tidak benar alias hoax dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan Pemilu. Hal ini tid

  • Jumat, 19 Apr 2019 15:09

    Anak Bantah Ustaz Arifin Ilham Meninggal Dunia

    Kabar Ustaz Arifin Ilham meninggal dunia beredar lagi. Kabar itu dipastikan hoax.

  • Selasa, 16 Apr 2019 20:56

    Isu Surat Suara Tercoblos 01, KPU Medan: Surat Suara Belum Didistribusikan Ke Kelurahan

    Beredarnya rekaman percakapan yang menyebut terjadinya praktik kecurangan pencoblosan surat suara untuk Paslon 01 di Kecamatan Medan Amplas mengundang reaksi Ketua KPU Medan."Rekaman berisi percakapan

  • Minggu, 14 Apr 2019 17:14

    TGB: Beredar Video Editan Orasi '2019 Jokowi Kalah di NTB'

    Video orasi Tuan Guru Bajang (TGB) yang menyerukan 2019 Jokowi kalah di NTB sedang viral. TGB memastikan bahwa video tersebut merupakan hoaks, hasil editan oleh pihak tak bertanggung jawab.Budaya Hoak

  • Kamis, 04 Apr 2019 08:54

    Milineal Warganet Harus Bersatu Melawan Hoax dan Intimidasi Agar Tidak Takut Memilih

    Akhir-akhir ini banyak muncul informasi dan berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah hoax di dunia maya. Hoax banyak dimunculkan oleh sejumlah oknum tidak bertanggung jawab yang memiliki kepenti

  • Rabu, 03 Apr 2019 21:03

    Kominfo: [HOAKS] Pendukung Jokowi Di Acara Debat Memakai Pin Di Topi Lambang PKI

    Beredar foto seorang lelaki yang memakai jaket bertuliskan Jokowi-Ma'ruf yang menghadiri acara debat Capres ke empat pada tanggal 30 Maret 2019. Pria tersebut menggunakan topi hitam dan tampak pi

  • Rabu, 03 Apr 2019 05:03

    Kapuspen TNI: Penyebaran Berita Bohong Bahayakan Persatuan dan Kesatuan

    Penyebaran informasi dan berita-berita bohong atau hoax melalui media sosial dapat menyebabkan perpecahan yang membahayakan persatuan dan kesatuan, serta ke-bhinneka tunggal ika-an.Demikian ditegaskan

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak