Kamis, 05 Des 2019 21:53
  • Home
  • Opini
  • Memberantas Virus Demokrasi dan Kebhinnekaan Bernama Hoax

Memberantas Virus Demokrasi dan Kebhinnekaan Bernama Hoax

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Bayu Rahman, pegiat Rumah Pers Mahasiswa
Minggu, 21 Jul 2019 03:21
Istimewa
Ilustrasi
Dunia maya kita sedang dilanda penyakit hati. Sampah informasi bertebaran secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Hoaks, fitnah, dan hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti. Kabar burung datang silih berganti. Penyakit ini kini mewabah nyaris tak terperi. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, pada akhir 2016 terdapat sedikitnya 800 situs yang diduga menjadi produsen virus hoax, berita palsu, dan ujaran benci. Tersebar melalui Facebook, Twitter, hingga grup-grup Whatsapp, virus itu langsung menyerang otak mengoyak nalar insani, dan menyebabkan hilangnya kebijaksanaan akal serta keluhuran budi.

Hoax adalah informasi atau berita yang tidak benar. Hoax biasanya digunakan oleh seseorang mulai dari untuk lelucon sampai suatu hal yang serius seperti politik, berita tersebut digunakan sebagai alat untuk menghancurkan kesatuan. Berita hoax sekarang ini banyak disebarkan melalui media sosial seperti aplikasi-aplikasi chatting, instagram, facebook dan twitter, para pengguna media sosial banyak yang menerima berita-berita hoax, ada yang langsung mempercayai berita yang diterima tersebut ada juga yang mencari tahu kebenaran berita tersebut.

Di Indonesia sendiri saat ini banyak sekali orang-orang yang menyebarkan berita hoax, di dalam berpolitik berita hoax digunakan oleh orang-orang yang mencari kesempatan untuk mengadu domba, memecah belah persatuan masyarakat, jika dalam pilkada berita hoax disebarkan untuk mengfitnah lawan calon pasangan tersebut biasanya berita hoax itu disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung guna untuk kepentingan pribadi atau untuk kepentingan kelompok tertentu.


Jika berita-berita hoax terus dibiarkan di Indonesia hal ini akan berdampak lebih buruk lagi terhadap demokrasi Indonesia, apalagi berita-berita hoax biasanya muncul di saat momen-momen demokrasi seperti saat pilkada DKI Jakarta 2017, dimana Pilkada DKI Jakarta saat itu memang menjadi membicaraan seluruh masyakarat Indonesia. Yang kita ketahui dalam pilkada tersebut kedua kubu saling serang dan saling menujukan keunggulan masing-masing pasang calon gubernur.

Pilkada yang diwarnai dengan konflik SARA itu membuat sebagian orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan momen itu untuk membuat berita-berita hoax yang akhirnya menyebabkan keributan antara pendukung, momen seperti itu lah berita hoax tersebar luas sehingga mengakibatkan perdebatan dan perpecahan antara pendukung masing-masing calon gubernur dan berita hoax pengaruhi kepercayaan masyarakat kepada pemerintah masyarakat akan berpikir buruk karena berita tersebut padahal berita tersebut belum tentu benar faktanya.

Jika hoax terus dibiarkan hal ini akan mengakibatkan kecemasan dan dapat menjadi ancaman dalam berdemokrasi dan berpolitik masyarakat, demokrasi yang seharusnya menjadi ajang masyarakat untuk menciptakan suatu langkah baru untuk politik Indonesia kedepannya tetapi menjadi suatu menghancur masyarakat Indonesia.


Di tengah kecemasan masyarakat akan berita berita hoax yang mengancam demokrasi di Indonesia, hoax dimanfaatkan oleh kaum elite sebagai  yang mengklaim mengatas namakan kecemasan sosial, ketika fakta yang ada tidak dapat menunjang klaim permasalahan yang diciptakan. Hoax menjadi ancaman di tengah masyarakat yang semakin kehilangan rasa demokrasinya dan semakin melemahnya habitus literasi. Dengan demikian sebagai masyarakat Indonesia kita sendiri yang harus memperjuangkan melawan berita-berita hoax yang ada, dimana prinsip-prinsip kemerdekaan, demokratisasi pengetahuan, dan partisipasi public yang setara adalah cara yang tepat untuk mencegah fenomena hoax di Indonesia.

Didik Haryadi, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercubuana Yogjakarta mengatakan bahwa penyebaran hoaks memiliki motif yang merujuk pada pertarungan dan kekuasaan di dunia maya. "Menurut saya ada tiga tujuan hoax disebarkan. Pertama, motif ekonomis; kedua, motif ideologis-politis; dan ketiga, motif asal berbagi/kesenangan. Motif ekonomis merujuk pada akumulasi modal dan kalkulasi laba dari si pembuat hoax melalui naiknya rating kunjungan website, darinya ia mendapat rating tinggi dan iklan pun masuk. Motif ideologis-politis, motif ini cenderung membuat dan atau menyebar hoaks untuk tujuan-tujuan ideologis dan politis yang muaranya adalah menghantam lawan-lawan berbeda ideologi dan menghantam lawan-lawan politik melalui ruang virtual", ujarnya.

Dalam jurnal penelitian Christiany Juditha, yang berjudul 'Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial Serta Antisipasinya', dikatakan bahwa ada tiga pendekatan penting yang diperlukan untuk mengantisipasi penyebaran berita hoaks di masyarakat yaitu pendekatan kelembagaan, teknologi dan literasi.

Pendekatan kelembagaan, dengan terus menggalakkan komunitas anti hoax. Dari sisi pendekatan teknologi, dengan aplikasi hoax checker yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk mengecek kebenaran berita yang berindikasi hoaks. Pendekatan literasi, dengan gerakan anti berita hoax maupun sosialisasi kepada masyarakat mulai dari sekolah hingga masyarakat umum yang ditingkatkan dan digalakkan, bukan saja oleh pemerintah tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk institusi-institusi non pemerintah lainnya.
Editor: Iman

T#g:hoax
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Kamis, 21 Nov 2019 07:51

    Kalangan Insan Media Bersama KMI Siap Berantas Hoax dan Radikalisme untuk Indonesia Maju

    Kalangan insan media berkomitmen berantas hoax dan radikalisme serta mengawal secara independen program pemerintahan Jokowi jilid 2 guna wujudkan Indonesia Maju.Hal ini disampaikan pada Diskusi yang d

  • Selasa, 05 Nov 2019 09:25

    Masyarakat Bersinergi Lawan Propaganda-Hoax Demi Perdamaian dan Pembangunan Papua Menuju Indonesia Maju

    Berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi beberapa waktu lalu di Papua yang menimbulkan kerugian materi bahkan jiwa salah satunya disebabkan oleh berita hoax yang dijadikan sebagai propaganda berbagai

  • Kamis, 17 Okt 2019 21:07

    Insan Media Sumatera Barat Sepakat Lawan Hoax dan Mendukung Keberlanjutan Program Pembangunan 5 Tahun Kedepan

    Puluhan media dan warganet kota Padang bertekad melawan hoax dan mensukseskan program pembangunan nasional 5 tahun kedepan. Para insan media yang terdiri dari awak media cetak, elektronik dan online m

  • Jumat, 11 Okt 2019 11:11

    Ladang Hoaks dan Propaganda Radikalisme, Ujian Berat Bagi Peranan Media Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

    Masifnya berita Hoaks dan bad news serta penyebaran propaganda radikalisme bukan hanya masalah segelintir orang tetapi sudah menjadi masalah bangsa karena dapat memecah-belah persatuan dan mengancam f

  • Senin, 23 Sep 2019 03:22

    Jangan Mudah Percaya Berita Hoax

    Melawan hoax adalah hal yang perlu kita lakukan. Pasalnya hoax benar-benar menjadi momok bagi keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Misalnya, belum lama ini terjadi kerusuhan di Papua yang d

  • Minggu, 22 Sep 2019 03:22

    Hoax Berbahaya Bagi Kehidupan Masyarakat

    Berita hoax sangat mengerikan dan mampu membuat perpecahan di tengah masyarakat. Misalnya, terjadinya kerusuhan di Papua yang awalnya ditenggarai karena ketersinggungan masyarakat Papua atas ujaran ra

  • Sabtu, 31 Agu 2019 09:41

    Mewaspadai Konten Provokasi Isu Papua: Utamakan Dialog dan Bijaklah Bermedsos

    Isu rasisme kembali menyeruak ke publik. Insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua oleh sejumlah orang pada Jumat (16/8) di Surabaya, serta dugaan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Malang, men

  • Kamis, 29 Agu 2019 03:29

    Generasi Muda Berani Tolak Radikalisme

    Kita semua tahu bahwa aksi terorisme tidak hanya terjadi di Timur Tengah saja, aksi teror juga ternyata telah merambah ke Tanah Air bahkan sudah sejak lama.Dari berbagai peristiwa seperti bom Bali, bo

  • Senin, 29 Jul 2019 17:59

    GESIT Deklarasikan Gerakan Posting Konten Positif Guna Lawan Hoax dan Radikalisme Di Sosmed

    Sebagai wujud menguatkan kesadaran warganet dalam memperkokoh persatuan dan mewujudkan kemajuan bangsa, Gerakan Literasi Terbit (GESIT) mendeklarasikan gerakan posting konten positif dan lawan hoax se

  • Jumat, 28 Jun 2019 15:28

    Menjaga Rasa Persatuan Setelah Pemilu Usai

    Berbeda pilihan dalam demokrasi adalah warna tersendiri. Tetapi hal itu bukan alasan untuk memecah belah bangsa Indonesia.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak