Rabu, 14 Nov 2018 04:17
HUT Pemkab Labuhanbatu

Kebutaan Di Balik Aksi 211

Medan (utamanews.com)
Oleh: Nayli Rochmah, Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya
Jumat, 09 Nov 2018 10:49
Istimewa
Bendera hitam yang terpasang di pintu rumah Habib Rizieq di Arab Saudi, membuat tokoh umat Islam di Indonesia tersebut harus berurusan dengan aparat keamanan setempat.
Dampak dari kejadian hari santri yang diselenggarakan oleh Ormas Islam di Garut pada 22 Oktober 2018 lalu, berujung panjang hingga adanya Aksi Bela Tauhid 211. Aksi membela kalimat Tauhid dipelopori oleh sekelompok muslim maupun muslimah yang tidak terima bendera HTI telah dibakar, namun dibelokkan sebagai bendera bertuliskan tauhid.

Jika kita lihat bersama, Aksi Bela Tauhid yang berlangsung pada 2 November 2018 lalu seharusnya tidak perlu terjadi mengingat penegakan hukum terhadap tersangka pembakaran bendera telah dilakukan oleh pihak yang berwenang dan pelaku pengibar bendera juga telah memberikan klarifikasi bahwa bendera yang dibawa merupakan bendera HTI, bukan bendera tauhid yang banyak disuarakan masyarakat umum. 

Bila kita mau jujur dengan kondisi kehidupan beragama saat ini, adanya Aksi Bela Tauhid itu sebenarnya sangat disayangkan. Belum tuntasnya meredam bahaya perpecahan antar umat pemeluk agama Islam atas kejadian pembakaran bendera di Garut. Aparat berserta jajaran lain yang berwenang harus ditimpa dengan gerakan massa yang memanfaatkan momen tersebut untuk menggerakan kembali ormas terlarang HTI, melihat munculnya atribu-atribut HTI dalam kegiatan aksi. Jadi sebenarnya apa esensi aksi-aksi yang kalian lakukan?

Pasalnya, indikasi-indikasi adanya pihak yang mengadu domba melalui pembakaran bendera tauhid itu sangat kental. Belakangan menurut penyelidikan pihak kepolisian, terdapat upaya secara sistematis dari pihak tertentu yang sengaja memancing kegaduhan di tengah momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018. Munculnya anggapan bahwa kejadian tersebut merupakan settingan telah viral dan dapat dipastikan memiliki tujuan untuk memprovokasi umat Islam, sehingga muncul keributan sebagaimana yang terjadi dan akan berujung tidak adanya lagi sikap saling percaya diantara umat pemeluk agama Islam.


Ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mulai angkat bicara tentang permasalahan yang terjadi di Garut. Kedua ormas keagamaan yang biasanya berbeda pandangan terhadap setiap permasalahan keagamaan, saat ini sepakat untuk menyatukan pemahaman terkait kejadian pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Kesamaan pandangan tersebut juga didukung oleh beberapa Ormas Islam lainnya.

NU dan Muhammadiyah bersama Ormas Islam lainnya membuat kesepakatan untuk berperan dalam meredam emosi masyarakat yang tidak terima dengan pembakaran bendera HTI di Garut oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya juga setuju untuk tidak memperbesar masalah tersebut demi persatuan dan kesatuan, serta Indonesia yang damai. 

Melihat rangkaian kejadian tersebut, maka seharusnya kita mulai sadar dan mawas diri. Tak perlu lagi kita memunculkan reaksi yang terlalu spontan seperti ini. Kita harus berpikir lebih cermat dalam menilai suatu permasalahan yang muncul. Yang perlu kita ingat kembali, para pembakar bendera sudah meminta maaf. Mereka juga telah mengakui tindakannya itu salah. Apalagi, pelaku pembakaran bendera itu juga saudara seiman yang beragama Islam. Mereka juga anggota dari ormas Islam.

Selain itu, pihak kepolisian juga sudah bergerak cepat untuk mengamankan pelaku sekaligus menyelidiki kasus ini. Jadi, apa lagi yang mau dituju? Akan lebih baik apabila kita mulai meredam dan menghilangkan ketegangan yang saat ini sedang bergejolak. Kita harus menguatkan kembali rajutan tali persaudaraan antar umat beragama. Jangan sampai sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman suku, ras, budaya, agama, dan adat istiadat dapat dengan mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Sebab, meskipun kita berbeda keyakinan, suku, ras, budaya, dan adat istiadat ataupun berbeda hobi sekalipun, pada dasarnya kita tetap satu saudara sebangsa setanah air, yaitu Indonesia.

Editor: Sam

T#g:HTIisis
iklan kaos garuda
Berita Terkait
  • Jumat, 02 Nov 2018 08:22

    Upaya Politis HTI Tunggangi Aksi Bela Tauhid II

    Sebagai organisasi trans-nasional, HTI tidaklah berdiri sendiri. Di belakangnya masih ada Hizbut Tahrir Internasional (HT-IN). Tentu saja mereka tak akan tinggal diam setelah HTI dibubarkan oleh pemer

  • Jumat, 26 Okt 2018 03:26

    Menyalahgunakan Kalimat Tauhid, HTI Berhasil Memecah Belah Umat Islam

    Baru-baru ini Indonesia kembali digemparkan dengan kejadian pembakaran bendera berkalimat tauhid di Garut. Pembakaran bendera berkalimat tauhid yang merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ole

  • Jumat, 19 Okt 2018 14:29

    Terima Demo BBM Gema Pembebasan, DPRDSU: Kita Berdoa Minta Kepada Allah Supaya Turun

    Unjuk rasa mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan di Kantor DPRD Sumatera Utara, Jum'at (19/10/2018), diterima oleh anggota Komisi D DPRD Sumatera Utara, Arfan Maksum.P

  • Minggu, 23 Sep 2018 04:23

    Gerakan #2019GantiPresiden Cermin Dari HTI

    Ada Mekanisme tertentu dalam gerakan #2019GantiPresiden yang memang terlihat rekat dengan organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mekanisme ini terkait dengan gerakan anti-demokrasi.

  • Jumat, 01 Jun 2018 18:21

    Dandim 0824: Pancasila Satu-satunya Ideologi Bangsa Indonesia

    Bupati Jember dr Hj Faida MMR. bertindak sebagai Inspektur Upacara Memperingati Hari Lahirnya Pancasila Ke 73, di Alun-alun Jember, Jum'at (01/06/2018). Hadir pada upacara tersebut di antara

  • Jumat, 18 Mei 2018 15:18

    Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

    Setelah aksi penyanderaan di Markas Komando Brigade Mobil (MAKO) Brimob di Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) lalu, teror kembali terjadi dua hari berturut-turut. Kali ini teror dilakukan di Kota Surabay

  • Kamis, 10 Mei 2018 20:30

    PascaKerusuhan di Mako Brimob Depok, Kapoldasu Ingatkan Polres Deliserdang Siaga

    Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Paulus Waterpauw meninjau Polres Deliserdang pada Rabu (9/5/2018) sekira pukul 23.45 Wib.

  • Kamis, 03 Mei 2018 08:23

    Pembubaran HTI dan Upaya Menangkal Radikalisme

    Seusai pembubaran Hizbut Tahrir oleh pemerintah lewat jalur hukum, hal tesebut kemudian menghasilkan keputusan dari pengadilan berupa pencabutan status badan hukum. Namun, sepertinya kasus ini belum a

  • Rabu, 02 Mei 2018 13:02

    Hizbut Tahrir Sudah Sepatutnya Dibubarkan

    Paham khilafah yang diusung Hizbut Tahrir menggegerkan publik. Paham yang seolah berpihak terhadap Islam tersebut, jika dipelajari lebih jauh tidak cocok dengan sistem pemerintahan di Indonesia. Meski

  • Kamis, 23 Nov 2017 08:53

    Waspada Model Serangan ISIS

    Meskipun tidak seintens tahun-tahun sebelumnya, pergerakan kelompok radikal dan ekstrimis Islamic State of Syria and Iraq atau yang dikenal dengan ISIS masih terus mencari pandangan publik dengan mela

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak