Sabtu, 04 Jul 2020 10:33

Kebutaan Di Balik Aksi 211

Medan (utamanews.com)
Oleh: Nayli Rochmah, Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya
Jumat, 09 Nov 2018 10:49
Istimewa
Bendera hitam yang terpasang di pintu rumah Habib Rizieq di Arab Saudi, membuat tokoh umat Islam di Indonesia tersebut harus berurusan dengan aparat keamanan setempat.
Dampak dari kejadian hari santri yang diselenggarakan oleh Ormas Islam di Garut pada 22 Oktober 2018 lalu, berujung panjang hingga adanya Aksi Bela Tauhid 211. Aksi membela kalimat Tauhid dipelopori oleh sekelompok muslim maupun muslimah yang tidak terima bendera HTI telah dibakar, namun dibelokkan sebagai bendera bertuliskan tauhid.

Jika kita lihat bersama, Aksi Bela Tauhid yang berlangsung pada 2 November 2018 lalu seharusnya tidak perlu terjadi mengingat penegakan hukum terhadap tersangka pembakaran bendera telah dilakukan oleh pihak yang berwenang dan pelaku pengibar bendera juga telah memberikan klarifikasi bahwa bendera yang dibawa merupakan bendera HTI, bukan bendera tauhid yang banyak disuarakan masyarakat umum. 

Bila kita mau jujur dengan kondisi kehidupan beragama saat ini, adanya Aksi Bela Tauhid itu sebenarnya sangat disayangkan. Belum tuntasnya meredam bahaya perpecahan antar umat pemeluk agama Islam atas kejadian pembakaran bendera di Garut. Aparat berserta jajaran lain yang berwenang harus ditimpa dengan gerakan massa yang memanfaatkan momen tersebut untuk menggerakan kembali ormas terlarang HTI, melihat munculnya atribu-atribut HTI dalam kegiatan aksi. Jadi sebenarnya apa esensi aksi-aksi yang kalian lakukan?

Pasalnya, indikasi-indikasi adanya pihak yang mengadu domba melalui pembakaran bendera tauhid itu sangat kental. Belakangan menurut penyelidikan pihak kepolisian, terdapat upaya secara sistematis dari pihak tertentu yang sengaja memancing kegaduhan di tengah momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018. Munculnya anggapan bahwa kejadian tersebut merupakan settingan telah viral dan dapat dipastikan memiliki tujuan untuk memprovokasi umat Islam, sehingga muncul keributan sebagaimana yang terjadi dan akan berujung tidak adanya lagi sikap saling percaya diantara umat pemeluk agama Islam.


Ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mulai angkat bicara tentang permasalahan yang terjadi di Garut. Kedua ormas keagamaan yang biasanya berbeda pandangan terhadap setiap permasalahan keagamaan, saat ini sepakat untuk menyatukan pemahaman terkait kejadian pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Kesamaan pandangan tersebut juga didukung oleh beberapa Ormas Islam lainnya.

NU dan Muhammadiyah bersama Ormas Islam lainnya membuat kesepakatan untuk berperan dalam meredam emosi masyarakat yang tidak terima dengan pembakaran bendera HTI di Garut oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya juga setuju untuk tidak memperbesar masalah tersebut demi persatuan dan kesatuan, serta Indonesia yang damai. 

Melihat rangkaian kejadian tersebut, maka seharusnya kita mulai sadar dan mawas diri. Tak perlu lagi kita memunculkan reaksi yang terlalu spontan seperti ini. Kita harus berpikir lebih cermat dalam menilai suatu permasalahan yang muncul. Yang perlu kita ingat kembali, para pembakar bendera sudah meminta maaf. Mereka juga telah mengakui tindakannya itu salah. Apalagi, pelaku pembakaran bendera itu juga saudara seiman yang beragama Islam. Mereka juga anggota dari ormas Islam.

Selain itu, pihak kepolisian juga sudah bergerak cepat untuk mengamankan pelaku sekaligus menyelidiki kasus ini. Jadi, apa lagi yang mau dituju? Akan lebih baik apabila kita mulai meredam dan menghilangkan ketegangan yang saat ini sedang bergejolak. Kita harus menguatkan kembali rajutan tali persaudaraan antar umat beragama. Jangan sampai sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman suku, ras, budaya, agama, dan adat istiadat dapat dengan mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Sebab, meskipun kita berbeda keyakinan, suku, ras, budaya, dan adat istiadat ataupun berbeda hobi sekalipun, pada dasarnya kita tetap satu saudara sebangsa setanah air, yaitu Indonesia.

Editor: Sam

T#g:HTIisis
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Sabtu, 23 Mei 2020 03:33

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme Menyasar Anak Muda

    Penyebaran radikalisme masih menjadi ancaman bagi kelangsungan bangsa dan negara Indonesia. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, target radikalisme pun kini juga menyasar generasi muda

  • Rabu, 22 Apr 2020 22:42

    Dampak Covid-19, Polres Sergai Buka Layanan Besuk Tahanan Secara Online

    Satuan Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti) Kepolisian Resort Serdang Bedagai membuka pelayanan besuk tahanan secara online, selama pandemi Virus Corona (Covid-19).

  • Minggu, 16 Feb 2020 03:16

    Mengapresiasi Sikap Tegas Pemerintah Menolak Kepulangan ISIS Eks WNI

    Pemerintah dengan tegas menolak memulangkan ISIS eks WNI ke Tanah Air. Kepulangan mereka  dikhawatirkan menjadi teroris baru yang membahayakan nyawa 267 juta rakyat Indonesia. Beberapa pekan

  • Minggu, 09 Feb 2020 08:29

    WNI Alumni ISIS, Pulang Atau Tidak?

    Setelah pertarungan ideologi Pancasila dengan Khilafah, di era pilpres 2019, yang  berawal dari penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahajaahaya Purnama atau Ahok, aksi dan opini te

  • Selasa, 04 Feb 2020 17:24

    Pemerintah Masih Kaji Rencana Pemulangan Eks ISIS

    Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan ISIS saat ini berada di beberapa negara di Timur Tengah. Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan bahwa pemerintah saat ini masih mengka

  • Kamis, 19 Des 2019 07:49

    Bubarkan Ormas Anti Pancasila

    Pancasila merupakan rumusan yang sudah final dan sudah disepakati sebagai ideologi negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Jika terdapat Ormas yang terbukti tidak berazaskan Pancasila, tentu pemeri

  • Minggu, 25 Agu 2019 03:25

    Ancaman Kehidupan Berbangsa Berwujud Ijtima' Ulama IV

    Point kelima hasil ijtima ulama disebutkan bahwa perlu dibangun kerja sama antara ormas Islam dan politik. Seperti yang kita tahu bahwa atmosfer Islam sebagai politik identitas sedang marak-maraknya d

  • Jumat, 23 Agu 2019 03:23

    WNI Eks ISIS, Pergi Sembunyi- sembunyi Kemudian Minta Kembali

    Beberapa WNI pada awal tahun 2011 pergi ke luar negeri dengan berbagai tujuan,  namun hal itu hanyalah kamuflase belaka, ternyata tujuan mereka adalah untuk menuju Suriah dan tergabung dalam kelo

  • Senin, 12 Agu 2019 03:12

    Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Indonesia

    Radikalisme merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia telah menjadi merekam bagaimana bahaya dan ancaman mereka yang telah mampu melulu lantakkan sendi- sendi keh

  • Sabtu, 10 Agu 2019 03:10

    Mewaspadai Ideologi Hizbut Tahrir Berkedok Komunitas

    Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang telah dibubarkan, namun gerak ideologis mereka ternyata tetap ada dan bermetamorfosa dalam bentuk komunitas. Dimana komunitas royatul Islam (KARIM) telah membawa i

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak