Rabu, 16 Okt 2019 07:58
  • Home
  • Opini
  • Jokowi dan Prabowo tempuh rekonsiliasi yang mengejutkan

Jokowi dan Prabowo tempuh rekonsiliasi yang mengejutkan

Medan (utamanews.com)
Oleh: Anggito Lazuardi, pengamat sosial politik
Sabtu, 27 Jul 2019 03:27
Istimewa
Prabowo menemui Megawati, Rabu (24/7/2019).
Masyarakat Indonesia cukup terkejut dengan pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Prabowo yang berlangsung penuh dengan kehangatan. Harapan yang ditunggu- tunggu akhirnya terwujud.

Kita semua tahu bahwa sejak Pilpres 2014 dan 2019, kedua tokoh tersebut seakan menjadi pintu ketegangan masyarakat hingga akhirnya polarisasi antar kedua kubu sulit untuk dihindarkan, istilah cebong dan kampret pun santer di sosial media. Tentu istilah tersebut tidak semestinya ada dalam kamus politik kita.

Meski keduanya bertarung secara sengit dalam merebut suara rakyat, Prabowo dan Jokowi tetap menunjukkan itikad baik untuk tetap menjaga hubungan persahabatan antara keduanya.

Kini Pemilu 2019 telah berlalu, pintu islah atau rekonsiliasi telah terbuka, menurut KBBI islah dapat berarti perdamaian atau penyelesaian pertikaian. Sedangkan rekonsiliasi adalah perbuatan memulihkan hubungan persabahatan pada keadaan semula atau perbuatan untuk menyelesaikan perbedaan.


Dalam konteks relasi sosial, islah dapat menghindarkan adanya fasad (kerusakan moral) dan anarki di tengah khalayak ramai. Secara garis besar, dalam urusan islah ini, kita memerlukan rekonsiliasi politik dan reharmonisasi hubungan sosial kemasyarakatan. Jikalau dua hal itu tercapai niscaya carut marut wajah masyarakat kita sebagai ekses konstestasi pemilu yang sangat keras pada beberapa waktu lalu, dapat segera dipulihkan.

Rekonsiliasi politik dapat dicapai melalui proses perdamaian dan reharmonisasi hubungan diantara kelompok- kelompok politik yang bertikai. Dalam hal ini, kedua kelompok harus berkomitmen untuk membangun rasa saling percaya dalam semangat siap berkolaborasi.

Jika kedua tokoh tersebut sudah saling berjabat tangan dan berpelukan, tentu sudah tidak ada lagi saling mengejek satu sama lain. Tidak ada lagi kezaliman dan hoax politik yang menyesatkan.

Sementara itu, rekonsiliasi sosial- kemasyarakatan dilakukan melalui proses pendinginan suasana, pengurangan intensitas perseteruan politik secara terbuka dan mengedepankan semangat kerjasama.

Jika hal tersebut dapat diwujudkan dengan baik, maka masyarakat akan disuguhi sebuah pertunjukan hubungan antar kekuatan politik yang harmonis dan tanpa syak wasangka, dan bagaimanapun juga pertunjukkan itu memerlukan sikap rendah hati dan kebesaran jiwa para pelakunya.


Kontestasi seakan harus dibayar dengan mahar yang tidak sedikit, pesta demokrasi tersebut telah melahirnya konflik horizontal tidak hanya pada kalangan elite, tetapi juga sampai pada akar rumput masyarakat yang paling bawah. Berita fitnah seakan muncul hampir setiap hari. Narasi anti agama dan komunisme juga berseliweran dimana- mana.

Hal tersebut tentu merupakan landasan bahwa upaya rekonsiliasi menjadi sesuatu yang urgent. Semata- mata untuk meredakan ketegangan politik diantara para pendukung kedua kubu. Bukan untuk bagi- bagi kekuasaan (power sharing) sebagaimana jamak terjadi dalam dunia perpolitikan di Indonesia saat ini.

Narasi yang digemakan oleh Jokowi dan Prabowo cukup membuat panasnya suhu politik mereda. Narasi cebong dan kampret sudah semestinya dibuang jauh- jauh setelah Prabowo dan Jokowi saling berpelukan layaknya kawan lama. Kita saat ini bukanlah pihak 01 atau 02, namun kita semua berada dalam naungan merah putih untuk merajut persatuan yang sempat terkoyak.

Meski keduanya sudah bertemu guna menstabilkan suhu politik di Indonesia, hal tersebut ternyata tidak membuat semua masyarakat yang ada di akar rumput mengikuti arahan dari Prabowo. Bahkan Pertemuan Prabowo dengan Jokowi di MRT diklaim bahwa Prabowo telah berkhianat karena bertemu dengan presiden yang menurut mereka hasil dari sebuah kecurangan.


Kondisi tersebut tentu tidak dapat dibiarkan secara terus- menerus dan berkepanjangan. Karena jika dibiarkan maka persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. Oleh karena itu rekonsiliasi juga tidak hanya di kalangan elite saja, tetapi juga sampai pada akar rumput.

Hal ini tentu bisa kita mulai dari diri kita sendiri, kita harus ingat bahwa membangun Indonesia tidak hanya tugas Presiden saja, tetapi kita juga bisa mengambil bagian dalam memajukan pembangunan di Indonesia, salah satunya adalah dengan bergaul kembali dengan teman atau rekan yang sebelumnya berbeda pilihan agar suasana pertemanan menjadi mencair.

Ketegangan politik memang wajar terjadi ketika menjelang pemilihan, namun saat ini KPU, Bawaslu dan MK juga telah menunjukkan putusannya, jika kita hanya bisa protes, lalu kapan kita turut serta dalam membangun bangsa, masa kita sesama warga Indonesia mau marah- marahan terus.

Editor: Iman

T#g:Prabowo
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Senin, 08 Jul 2019 03:08

    Menanti Rekonsiliasi Para Tokoh Bangsa Pasca Pilpres 2019

    Ribuan massa yang mengawal sidang MK akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Namun mereka tampaknya belum puas dengan apa yang menjadi putusan Mahkamah Konstitusi. Bahkan mereka tetap tidak mengakui

  • Jumat, 21 Jun 2019 03:21

    Kans Tipis Prabowo-Sandiaga Memenangi Sengketa Pilpres

    Proses Pemilu selalu menjadi ketegangan tersendiri, hingga situasi yang tadinya aman tiba-tiba bisa berubah menjadi memanas, apalagi jika terdapat pihak yang merasa dirugikan atau dicurangi, gugatan p

  • Jumat, 14 Jun 2019 15:14

    Kita Semua Saudara Sebangsa, Mari Dukung Hasil Sidang MK dengan Damai dan Bermartabat

    Pengumuman Pemilu 2019 sudah dilakukan oleh KPU dan Capres 01 sebagai pemenangnya, namun masih tertunda hasil finalnya dikarenakan pihak Capres 02 mengajukan gugatan sengketa pemilu ke Mahkamah Konsti

  • Sabtu, 08 Jun 2019 15:08

    Sulit Buktikan Pemilu Curang, Prabowo Harus Legowo

    Tuduhan Pemilu curang seakan menjadi lagu lama yang sering didengar, hal tersebut juga hampir bersamaan dengan klaim kemenangan yang cenderung berlebihan, padahal saat itu KPU belum memberikan pengumu

  • Jumat, 17 Mei 2019 03:17

    Surat Wasiat Prabowo dan Narasi Kecurangan Pemilu 2019

    Capres nomor 02 Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya bersama Sandiaga Uno dan BPN, akan melawan  dugaan kecurangan pemilu. Prabowo juga mengatakan bahwa dirinya akan terus berjuang bersama r

  • Minggu, 12 Mei 2019 23:32

    Menangkal Kaum Pengusung Isu Kecurangan Pemilu

    Sejak tahun 1994, oleh panggilan konstitusi dan iman, saya melibatkan diri dalam kepemiluan. Bersama Mas Gunawan Muhamad (Pemred Tempo, sering disebut Mas GM), Nurcholis Madjid (Cak Nur), Mulyana Kusu

  • Jumat, 10 Mei 2019 17:10

    Bentrok tidak terjadi, massa pendukung KPU tinggalkan bundaran Bawaslu Sumut

    Apa yang dikhawatirkan masyarakat tidak terjadi. Bentrokan dapat dihindarkan karena massa pendukung KPU meninggalkan bundaran Bawaslu Sumut dan bundaran Adam Malik-Amir Hamzah.Amatan media ini, massa

  • Sabtu, 04 Mei 2019 16:14

    Amien Rais: PAN akan tetap berada di koalisi Prabowo-Sandi

    Amien Rais, selaku Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), menjamin partainya tidak akan pindah haluan ke koalisi Jokowi-KH Ma'ruf Amin."Itu (isu) omong-kosong," kata Rais, di Seknas

  • Kamis, 02 Mei 2019 10:52

    Demokrat Ingatkan Prabowo, "Tak Mesti Patuhi Saran Rizieq"

    Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik menyarankan Prabowo Subianto tidak melakukan apa yang dikehendaki Imam Besar FPI Rizieq Shihab. Menurut Rachland, usul Rizieq tidak harus selalu dijalank

  • Minggu, 28 Apr 2019 10:48

    KPU Tak Masalah Bila Paslon 01 dan 02 Adu Data C1

    Komisioner KPU RI, Pramono Ubaid Tanthowi, menanggapi perang data antara Paslon 01 dan 02. Secara umum Pramono tak mempermasalahkan adu data tersebut."Ya kalau KPU kan menyajikan data itu sebagaimana

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak