Selasa, 23 Apr 2019 22:04
  • Home
  • Opini
  • Generasi Muda dan Radikalisme Tempat Ibadah

Generasi Muda dan Radikalisme Tempat Ibadah

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Aldia Putra, pegiat media sosial
Rabu, 13 Feb 2019 01:13
Istimewa
Ilustrasi
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah menegaskan bahwa generasi muda harus memahami soal radikalisme dan ekstrimisme. Tujuannya agar bisa menangkis penanaman paham tersebut dari oknum pelaku terorisme.

Kasubdit Kontra Propaganda Bidang Pencegahan Kolonel Sujatmiko mengungkapkan, bahwa saat ini siapapun bisa tercuci otaknya dengan paham radikalisme serta ekstrimisme. Apabila terseret arus maka bukan mustahil penganutnya bisa berujung pada aksi terorisme. 

Pihaknya menambahkan, bahwa salah satu faktor yang membuat seseorang mudah terseret paham radikalisme adalah ketidaksukaan atau penolakan terhadap perbedaan.

Tentu masyarakat mesti meningkatkan kewaspadaan terhadap upaya penyebaran ujaran kebencian di rumah ibadah oleh kelompok tertentu.

Ketua LD PBNU Maman Imanulhaq mengatakan, penting kiranya melibatkan anak muda dan masyarakat secara luas sehingga masjid tidak kosong. Masjid yang tidak ada pengelola biasanya mudah disusupi kelompok radikal.

Ia juga menambahkan bahwa perlu adanya perumusan kembali tema dalam khutbah agar berisi muatan agama yang menjadi semangat kebersamaan dalam keberagaman dan perdamaian. Dengan demikian diharapkan tidak ada orang yang memanfaatkan khotbah keagamaan lainnya yang berisi ajakan menjauhkan umat dari nilai Ketuhanan.

Tentu akan menjadi sebuah keprihatinan sendiri bagi negara yang menjunjung kebhinekaan, dimana rumah ibadah yang semestinya sakral, justru digunakan untuk menyebarkan hate speech, kedengkian atau permusuhan. Jika hal ini benar terjadi, tentu ini menjadi early warning bagi kita untuk mengembalikan masjid kembali kepada fungsi utama yaitu mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa, dan menjalin persatuan umat.

Maman juga menilai, terkait keberadaan kelompok radikal dan intoleran, sebenarnya mayoritas umat Islam di Indonesia masih moderat dan toleran. Tapi kelemahannya umat Islam lebih memilih diam, sementara kelompok yang radikal dengan jumlah yang sedikit, bisa masuk secara masif dan militan.

Alasan pertama seseorang menjadi radikal adalah untuk memenuhi kebutuhan personalnya, hal ini menyangkut urusan ideologi maupun finansial. Kelompok radikal bisa menyebar dengan luas dengan janji- janji kebutuhan finansial yang tercukupi. Selain itu, seseorang bisa tertarik terhadap radikalisme karena adanya propaganda politik yang menarik.

Fasilitas seperti pelatihan dan transportasi juga dapat dijadikan alasan seseorang bergabung kedalam perekrutan anggota kelompok radikal. Bahkan beberapa takmir masjid yang dianggap terpapar radikalisme juga menjembatani proses tersebut. Selain itu pemahaman terkait penyucian diri juga menjadi alasan kuat bagi seseorang yang masuk ke dalam lingkaran radikalisme.

Faktor lain yang mempengaruhi meningkatnya radikalisme di Indonesia, adalah etika para elit politik yang buruk. Hal tersebut menyebabkan publik menjadi apatis terhadap demokrasi dan menjadikan radikalisme sebagai jalan alternatif. Permusuhan antar elit politik yang tidak baik, juga dapat menimbulkan sinisme bahwa demokrasi bukanlah sistem yang terbaik.

Kaum radikal menggunakan masjid, acara pengajian, sosial untuk menyemai kebencian itu. Oleh karena itu sudah sepantasnya kelompok moderat bangkit dan kembali ke masjid sebagai tempat untuk mencerdaskan, memberdayakan dan menguatkan ukhuwah baik itu islamiyah dan wathoniyah.

Menurut Prof Masdar Hilmy, fenomena radikalisme agama ini, diakui muncul dalam ayat-ayat di dalam kitab suci, yang diterapkan tanpa adanya pertimbangan relevansi konteks yang menyertainya. Akar munculnya radikalisme ternyata juga dipengaruhi pemahaman ilmu agama yang dangkal, terkait maksud diturunkannya agama yang sesungguhnya menarik orang pada kebaikan dan menghindarkan dari keburukan.

Selain pengetahuan agama yang rendah, radikalisme juga dipengaruhi oleh wawasan yang kurang luas dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara, khusunya yang berkaitan dengan ideologi pancasila dengan semboyan bhineka tunggal ika.

Selain meningkatkan kewaspadaan akan potensi radikalisme di tempat ibadah, masyarakat pemeluk agama di Indonesia harus kembali pada ajaran agamanya masing-masing, yang mengajarkan kebaikan dan cinta kasih dalam hidup di dunia.

Umat beragama harus mau belajar agama secara benar, dengan tuntunan pemuka agama atau ulama yang terpercaya keilmuannya. Karena orang yang betul- betul mendalami ilmunya dan cinta tanah air, tidak akan membuat kerusakan di tanah air, dan tidak akan berbuat dzalim kepada orang lain.

Ketua Umum Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) KH Ahmad Satori Ismail, mengingatkan agar masyarakat tetap waspada akan adanya pemanfaatan sarana ibadah sebagai tempat penyebaran provokasi terhadap umat untuk saling membenci dan melakukan tindakan kekerasan terhadap yang berbeda keyakinan.

Fenomena masjid yang terpapar paham radikalisme juga dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Setara Institute. Direktur Riset Setara Institute Halili menyatakan, paham radikalis di Indonesia hingga ke tempat Ibadah sebenarnya terjadi sebagai warisan dari pergantian rezim di masa reformasi. Pasca reformasi berhasil menggulingkan orde baru, ada ketidakjelasan antara batasan kebebasan dengan proteksi arena-arena publik dari infiltrasi ideologi.

Pihaknya mencontohkan praktik radikalisme dengan penyebaran doktrin takfiri. Mereka yang meyakini doktrin ini dapat dengan mudahnya menyebut orang lain yang bersebrangan dengan pandangannya sebagai kafir. Sifatnya yang ekslusif membuat penganutnya cenderung menutup diri dari perbedaan.

Kaum radikal menggunakan pemahaman absolutisme dalam Islam sehingga mereka dalam bertindak tanpa memikirkan hal lain yang sebenarnya juga penting dan mempunyai pengaruh yang kuat dalam Islam seperti pertimbangan budaya dan nilai historistik masyarakat.

Editor: Budi

T#g:radikalisme
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Rabu, 01 Mei 2019 03:01

    Hati-hati Masjid Berpaham Radikal

    Pada awalnya, alasan utama dari radikalisme agama atau gerakan- gerakan Islam garis keras tersebut adalah dilatarbelakangi oleh politik lokal dari ketidakpuasan politik, keterpinggiran politik dan sem

  • Selasa, 02 Apr 2019 15:02

    Waspada Radikalisme di Tengah Euforia Pemilu

    Pemilu merupakan wujud dari sebuah negara untuk menunjukkan eksistensinya dalam sistem demokrasi dalam rangka mencari pemimpin pilihan rakyat. Namun Pemilu kali ini juga mendapatkan sorotan dari beber

  • Selasa, 26 Feb 2019 17:06

    Radikalisasi Masjid, Ancaman Nyata Bangsa Indonesia

    Di Indonesia tempat ibadah yang terpapar radikalisme juga cukup meresahkan, dimana dari hasil survei yang dilakukan oleh P3M NU menunjukkan sebagai early warning untuk ditindaklanjuti dengan pendalama

  • Minggu, 16 Des 2018 15:16

    Gencarnya Pemerintah Menangkal Radikalisme

    Maraknya penyebaran paham radikal semakin masif di tanah air. Tidak hanya di wilayah pelosok saja, kini penyebaran paham radikal sudah mulai bergerak di lingkungan aparat maupun lembaga pemerintah.&nb

  • Kamis, 06 Des 2018 21:26

    Pendidikan Sekolah Melawan Paham Radikalisme Di Indonesia

    Fenomena pemahaman radikalisasi relatif terabaikan pada tahap awal rantai pengaruh radikalisasi pada usia remaja di institusi/lembaga pendidikan sekolah. Para kalangan akademisi dan pengamat masih fok

  • Minggu, 28 Okt 2018 18:18

    Ponpes Jabal Noor Deli Serdang Bahas Isu Radikalisme dan Islam

    Sebagai pemuda Islam yang mendalami ajaran agama, kita harus mampu menjadi benteng pertahanan untuk keutuhan persatuan bangsa Indonesia dan agama Islam. Umat Islam harus bersatu, jangan saling menyala

  • Jumat, 08 Jun 2018 16:48

    Staf Khusus Menrisetdikti: Tidak Ada Radikalisme dari Kampus

    Tidak ada radikalisme dari kampus, yang ada, orang-orang berpikir radikal masuk ke kampus-kampus mencari teman untuk menyamakan pemahaman tersebut.

  • Jumat, 08 Jun 2018 04:08

    Panglima TNI: Radikalisme Berujung Pada Tindakan Terorisme

    Selaku umat Islam dan bagian dari bangsa yang besar, sebagai warga negara Indonesia harus menyadari adanya radikalisme di sekitar kita. Radikalisme ini berawal dari pemahaman yang salah, yang kemudian

  • Selasa, 05 Jun 2018 01:05

    Radikalisme Dapat Dicegah Melalui Kepedulian Masyarakat

    Radikalisme dapat dicegah melalui kepedulian warga masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya dan mau membuka wawasan serta mengembangkan cara berpikir dengan seluas-luasnya, karena didalam Al Qur&acir

  • Kamis, 31 Mei 2018 08:31

    HIMMAH Tebing Tinggi Ajak Generasi Muda Perangi Terorisme

    Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) Kota Tebing Tinggi mengajak generasi muda untuk berperan aktif perangi aksi terorisme di Indonesia.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak