Kamis, 29 Okt 2020 11:11
  • Home
  • Opini
  • Dinilai Tak Lazim, SBY Protes Konsep Kampanye Akbar Prabowo-Sandi

Dinilai Tak Lazim, SBY Protes Konsep Kampanye Akbar Prabowo-Sandi

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Rika Prasatya, Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)
Rabu, 10 Apr 2019 10:10
@beritasatu
SBY
Suasana Gelora Bung Karno berhasil berubah menjadi nuansa putih- putih saat kampanye akbar Prabowo- Sandi berlangsung. Gegap gempita masa pendukung Paslon nomor 02 tersebut ternyata dipantau oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Seperti yang telah kita ketahui bahwa Partai Demokrat merupakan salah satu partai koalisi yang mendukung Prabowo- Sandi untuk Pilpres 2019.

SBY yang saat itu masih berada di Singapura untuk mendampingi Istrinya yang sedang dirawat di Rumah Sakit, ternyata tidak setuju dengan konsep kampanye akbar yang dimulai dari Shalat Subuh itu. Mantan Presiden 2 periode tersebut menilai bahwa kampanye tersebut cenderung ekslusif. Padahal, kampanye harusnya terbuka atau lebih inklusif. Kegelisahan SBY tersebut terungkap dalam surat yang dikirimkan kepada pengurus Partai Demokrat.

"Sore hari ini, Sabtu, 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah air tentang 'set up', 'rundown' dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres- cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampaye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif," tulis SBY dalam surat tersebut.


"Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandung kebenaran," tambahnya.

Dalam surat tersebut, SBY memohon kepada pengurus Demokrat untuk menyampaikan masukan kepada Prabowo yang intinya kampanye akbar harusnya lebih inklusif dan menghindari politik identitas. Namun, tak dirinci oleh SBY konsep apa yang disebut inklusif tersebut.

Berikut ini kutipan surat SBY:

Salam Sejahtera
Salam Demokrat !
Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu konsentrasi perjuangan politik jajaran Partai Demokrat di tanah air, utamanya tugas kampanye pemilu yang tengah dilakukan saat ini, karena terhitung mulai tanggal 1 Maret 2019 yang lalu saya sudah memandatkan dan menugaskan Kogasma dan para pimpinan partai untuk mengemban tugas penting tersebut. Sungguhpun demikian, saya tentu memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan agar kampanye yang dijalankan oleh Partai Demokrat tetap berada dalam arah dan jalur yang benar, serta berlandaskan jati diri, nilai dan prinsip yang dianut oleh Partai Demokrat. Juga tidak menabrak akal sehat dan rasionalitas yang menjadi kekuatan partai kita.

Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah air tentang "set up, rundown" dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres- cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto- Bapak Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif. Melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya dengar itu benar. Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandung kebenaran.


Sehubungan dengan itu, saya meminta kepada Bapak bertiga agar dapat memberikan saran kepada Bapak Prabowo Subianto, Capres yang diusung Partai Demokrat, untuk memastikan hal- hal berikut :

Penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian dalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan "inclusiveness", dengan sasanti "Indonesia untuk semua", juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan, "Unity in Diversity". Cegah demonstrasi apalagi "show of force" identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan maupun yang bernuansa ideologi paham dan polarisasi politik yang ekstrim.

Dalam surat tersebut SBY juga berterus terang tidak suka apabila rakyat Indonesia harus dibelah sebagai pro Pancasila dan pro Khilafah. Dirinya justru khawatir apabila dalam kampanye dibangun polarisasi seperti itu, nantinya Bangsa Indonesia akan terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya.

Kampanye ekslusif nyatanya bukanlah kampanye yang cocok untuk negara demokrasi. Indonesia tentu membutuhkan pemimpin yang dapat menyatukan perbedaan dan menjunjung toleransi lintas etnis dan agama.
Editor: Iman

T#g:demokratSBY
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Minggu, 11 Okt 2020 13:31

    Anggota DPRD Sumut dari Partai Demokrat Terancam Di-PAW Karena Tidak Tampak Saat Aksi Demo Tolak UU Cipta Kerja

    Masuk dalam daftar nama enam anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari fraksi Partai Demokrat yang dianggap tidak patuh pada instruksi DPP Partai Demokrat dan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)

  • Sabtu, 12 Sep 2020 20:32

    Ketua DPC Partai Demokrat Batu Bara Bantu Korban Kebakaran Di Kuala Indah

    Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Batu Bara Wan Helmi bersama Ketua Fraksi DPRD Batu Bara dari Partai Demokrat Sri Wahyuni memberikan bantuan bagi warga korban kebakaran yang menghanguskan 7 rumah w

  • Rabu, 26 Agu 2020 13:46

    Pengurus DPD Demokrat Sumut sebut Akhyar gagal sebagai Plt. Walikota Medan

    Kota Medan menjadi pemasok terbesar kasus baru Covid-19 di Sumut. Dari data yang dikutip dari website resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 provinsi Sumatera Utara, per 25 Agustus 2020, war

  • Selasa, 11 Agu 2020 10:51

    Demokrat, Akhyar Nasution dan Pileg 2024

    Hingga saat ini, partai Demokrat dinilai sebagai pihak yang paling diuntungkan dalam perhelatan Pilkada Walikota Medan 2020.Pengamat politik dari Sumut Institut, Osriel Limbong, SPd, M.Si mengungkapka

  • Kamis, 19 Mar 2020 22:49

    Antisipasi Covid-19, Tangkas Manimpan Minta Pengawasan Bandara Silangit dan FL.Tobing Diperketat

    Bandar Udara (Bandara) Internasional Silangit yang kini sudah berganti nama menjadi Bandara Sisingamangaraja XII di Tapanuli Utara dan juga Bandara F.L Tobing di Tapanuli Tengah diminta semakin diperk

  • Kamis, 02 Mei 2019 10:52

    Demokrat Ingatkan Prabowo, "Tak Mesti Patuhi Saran Rizieq"

    Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik menyarankan Prabowo Subianto tidak melakukan apa yang dikehendaki Imam Besar FPI Rizieq Shihab. Menurut Rachland, usul Rizieq tidak harus selalu dijalank

  • Sabtu, 20 Apr 2019 11:10

    Amien Rais Sebut SBY 'Safety Player', Demokrat: Jangan Sok Jago

    Andi Arief meminta Amien Rais untuk tidak menantang SBY. Hal ini dikatakannya menanggapi pernyataan Amien Rais yang menyindir soal tokoh peragu dan main aman.

  • Jumat, 19 Apr 2019 04:39

    Demi keselamatan bangsa dan negara, SBY Tarik Kadernya dari BPN 02

    Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Umum Partai Demokrat menarik semua kadernya yang "berdinas" di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk kembali ke kantor Dewan P

  • Senin, 15 Apr 2019 06:15

    Prabowo: Saya Tidak Menyalahkan Bapak, Ini Kesalahan Besar Presiden Sebelumnya

    Prabowo Subianto menjelaskan maksud pernyataannya mengenai Jokowi yang masih saja membolehkan impor.

  • Sabtu, 05 Jan 2019 09:45

    Kisruh Dana Kampanye sebagai Momentum Jatuhnya Prabowo-Sandi

    Lagi-lagi, Sandiaga Uno menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Sindirannya terhadap partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi yaitu PAN, Demokrat dan PKS cukup fantastis dan mampu memancing perhatian.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak