Senin, 06 Jul 2020 00:45

Ancaman Ideologi Menggrogoti NKRI

MEDAN (utamanews.com)
Jumat, 12 Feb 2016 06:54
Oleh: Fajri Permana *)


Meskipun usia NKRI sudah lebih dari tujuh dasawarsa, fakta menunjukkan anyaman kebangsaan kita belum sepenuhnya selesai. Masih ada di sana-sini yang mempertentangkan ideologi negara dan realitas kemajemukan bangsa dengan keyakinan individu dan hasrat menonjolkan kepentingan kelompok. Ibarat kain, Indonesia serupa tenunan yang robek karena simpulnya rapuh. Kerapuhan terjadi karena rupa-rupa alasan, seperti rasa frustrasi akibat kesejahteraan yang tidak kunjung datang, keadilan yang tidak sepenuhnya ditegakkan, dan keyakinan bahwa ideologi kelompoknya yang paling benar sehingga tergerak untuk memonopoli kebenaran.

Sekarang ini ancaman ideologi mengancam mengerogoti NKRI, dimana makin mengikisnya jiwa nasionalisme. Generasi muda perlu meneladani nilai-nilai kepahlawanan. Bentuk penghargaan yang lebih substantif, esensial adalah meneruskan perjuangannya dalam membela kepentingan orang banyak, mendedikasikan potensi dirinya untuk bangsa dan negara. Singkirkan pemahaman klasik tentang pahlawan yang masih sering disebut-sebut sebagai pejuang yang erat kaitannya dengan fenomena perang. Seperti gugur di medan perang atau di medan tugas. Ingat, sesungguhnya menjadi pahlawan di masa kini tidak harus seperti itu, masih banyak pahlawan-pahlawan yang berjuang di berbagai sektor lainnya, seperti pahlawan di bidang pembangunan, di bidang pendidikan, agama, budaya, dan banyak lagi. Mereka yang rela bertugas mengabdikan jiwa dan raganya tanpa pamrih untuk kepentingan bangsa dan negara.

Meski memperihatinkan, namun lembar pembuka kalender 2016 ini telah ternoda oleh perilaku terorisme di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Terorisme ini paling tidak menjadi penanda betapa masih cukup berpotensi karakter perusak toleransi, kerukunan dan kedamaian bangsa ini. Mengapa begitu mudahnya segelintir anak NKRI merusak fasilitas umum, meletuskan senjata ke kerumunan warga, dan akhirnya melukai dan mengorbankan nyawa sesamanya. Momentum aksi terorisme di medio Januari 2016 kemarin harus sekali lagi menjadi pengingat kita, bahwa kita harus secara serius menekankan pendidikan karakter dalam implementasi K13. Karakter yang mengedepankan toleransi atas aneka perbedaan keyakinan.Karakter yang mampu menghayati indahnya kebersamaan, kerukunan dan  kebangsaan dalam lingkungan kebhinekaan.

Adanya kelompok tertentu yang hendak memecah-belah NKRI, juga kelompok yang ingin mengubah asas negara, perlu diwaspadai. Kelompok itu kini terus berusaha untuk eksis ke permukaan dengan berbagai cara. Ada yang ingin mengubah sistem pemerintahan yang sudah berjalan menjadi khilafah, juga ada yang menghendaki berdirinya negara agama. Menariknya, kelompok yang ingin memecah-belah NKRI ini memakai simbol agama untuk memuluskan rencananya. Cara apa pun dilakukan, termasuk tindak kekerasan, sehingg terkesan memaksakan kehendak. Upaya kelompok itu sudah terkategori merongrong nasionalisme yang sudah terbangun. Sebab, jika misi yang dibawa sudah merasuki alam pikiran seseorang, maka nasionalisme yang ada akan pudar perlahan. Celakanya, kelompok itu kini tampaknya sudah banyak pengikut. Dengan kata lain, mereka sudah berhasil memecah NKRI dari dalam. Banyak orang tidak menganggap Pancasila sebagai asas negara, meski mereka masih berdiri di tanah Indonesia.

Peran negara juga sangat signifikan untuk memperkokoh nasionalisme pada tiap warga negaranya. Salah satu yang dilakukan (barangkali) adalah memasukkan pentingnya menjaga nasionalisme dalam materi-materi pelajaran di bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Tapi perlu disadari, kelompok-kelompok itu kini semakin mengakar. Negara tampaknya perlu memikirkan cara lain untuk menjaga keutuhan NKRI. Sebagian masyarakat yang masih kokoh nasionalismenya berupaya mengkonter gerakan kelompok itu melalui berbagai forum diskusi, maupun lewat tulisan di media massa. Bahkan juga terjun langsung ke masyarakat untuk berdiskusi dengan berbagai elemen tentang kewajiban mempertahankan kesatuan NKRI. Isu nasionalisme menjadi senjata yang mesti ditancapkan dalam pikiran tiap kepala yang ditemui. Dan upaya itu akan lebih sempurna bila sigap ketika melihat aksi anarkis dengan mengkomunikasikan langsung kepada negara. Selain itu, juga menjadi motor gerakan deradikalisasi untuk mengajak kelompok itu kembali mengakui Pancasila sebagai asas negara, karena bagaimanapun kelompok itu juga masih warga negara Indonesia.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosbud
T#g:martabatopini
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Selasa, 19 Mei 2020 23:19

    Irman: Gubernur Edy Minta Para Petugas dan Penyedia Bantuan Sosial Bekerja Jujur

    Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi meminta para petugas dan penyedia barang bantuan sosial (Bansos) berupa sembako kepada masyarakat miskin dan terdampak Covid-19 bekerja jujur dan penuh ta

  • Selasa, 21 Apr 2020 09:01

    Perempuan Indonesia Belum Merdeka 100%

    Perempuan saat ini masih belum memerdekakan diri dengan pilihanya sehingga perempuan Indonesia masih terkungkung dalam pikiran manusia bahwasanya memiliki kodrat hanya sebagai Ibu rumah tanga yang men

  • Rabu, 28 Agu 2019 16:28

    Pancasila adalah kunci keutuhan bangsa

    Pancasila adalah kunci keutuhan bangsa, pondasi bangsa Indonesia. Ideologi pemersatu semua perbedaan anak bangsa. Sejarah mencatat, bangsa ini lahir bukan karena persamaan suku, ras, agama atau golong

  • Rabu, 17 Jul 2019 15:27

    Martabat Sumut: Kaum Muda Harus Bisa Menguatkan Persatuan Bangsa

    Sejumlah elemen kembali mengajak anak bangsa, khususnya kawula muda Sumatera Utara, untuk menguatkan kembali persatuan yang sempat terkoyak akibat perbedaan pilihan politik. LSM Masyarakat Pemant

  • Kamis, 27 Jun 2019 08:37

    Plt. Bupati Labuhanbatu Tandatangani Pernyataan Komitmen Penyelesaian Peningkatan Opini

    Plt. Bupati Labuhanbatu Andi Suhaimi Dalimunthe telah menandatangani pernyataan komitmen penyelesaian peningkatan opini dan penyerahan matriks action plan penyelesaian tindak lanjut oleh Bupati/ Walik

  • Selasa, 25 Jun 2019 21:15

    Diskusi Terkait Peran Media Mengawal Proses Demokrasi Konstitusional & Merajut Persatuan Kembali

    Media massa melalui perannya sangat diharapkan memberikan informasi yang edukatif kepada masyarakat agar sistem demokrasi konstitusional yang menjadi kesepakatan bangsa dapat berjalan dengan baik dan

  • Jumat, 10 Mei 2019 19:00

    PMKRI Cabang Pematangsiantar Gelar Lomba Menulis Opini

    Sebagai wadah pembinaan dan pengkaderan organisasi, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Asissi tahun 2019, melaksanakan kegiatan Pelat

  • Rabu, 10 Apr 2019 23:30

    Relawan Martabat Door to Door Kampanyekan Jokowi-Ma'ruf di Sumut-Aceh

    Relawan Martabat Jokowi-Ma'ruf Amin, door to door mengkampanyekan Calon Presiden Joko Widodo dan Calon Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, di 18 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh."K

  • Jumat, 22 Mar 2019 20:12

    Relawan Martabat : Lawan Ormas Intoleran dengan Datang ke TPS dan Pilih Jokowi-Ma'ruf

    Relawan Martabat Sumatera Utara harus mampu mengajak kelompok 'silent majority' atau orang-orang yang pasif, bertindak untuk melawan radikalisme dengan cara memenangkan Joko Widodo-Ma'r

  • Selasa, 19 Mar 2019 18:29

    Ini Tugas Khusus Relawan Martabat Jokowi-Amin Pada Pilpres 2019

    Relawan Martabat Sumut menegaskan mereka bukan sekedar ikut-ikutan mendeklarasikan diri mendukung Jokowi- KH Ma'ruf Amin. Relawan Martabat Provinsi Sumatera Utara akan total memenangkan Calon Pre

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2020 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak