Selasa, 21 Agu 2018 02:08
  • Home
  • Pemilukada
  • Pengamat: Relawan Jokowi Jadi Faktor Trend Elektabilitas DJOSS Menanjak

Pengamat: Relawan Jokowi Jadi Faktor Trend Elektabilitas DJOSS Menanjak

Medan (utamanews.com)
Oleh: Sam
Jumat, 20 Apr 2018 21:30
Ist
Tim relawan D'ROSSI mengkampanyekan Paslon Djarot-Sihar melalui media topi.
Dari empat lembaga survey yang melakukan survey Pemilihan Gubernur Sumatera Utara, Pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus mendapat trend positif. Dari survey itu, elektabilitas Djarot-Sihar, terus mengalami peningkatan. 

Berbeda dengan elektabilitas pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah yang masih terbilang kumulatif. Dalam survey terakhir yang baru diumumkan lembaga riset PRC, elektabilitas DJOSS berada di angka 38,4 persen. Selisih 13 persen dengan ERAMAS yang berada di angka 48,7 persen. 

Pengamat Politik dari Universitas Sumatera Utara Dadang Darmawan mengatakan, trend positif DJOSS dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah strategi.



Kata Dadang, sejak awal ERAMAS memang menunjukkan strategi mempertahankan kemenangan. Karena sejak digadang-gadang akan menjadi Cagub, elektabilitas Edy Rahmayadi memang tinggi. Apalagi Edy pernah menjabat sebagai Pangkostrad. 

"Ektabilitas yang tinggi sejak awal tidak kelihatan lagi sekarang. Karena, Djarot berhasil mengidentifikasi kelemahan yang ada pada mereka. Dan adanya faktor eksternal yang turut mempengaruhi suara Djarot," kata Dadang, Jumat (20/4). 

Peningkatan elektabilitas DJOSS juga dipengaruhi oleh mundurnya pasangan JR Saragih-Ance Selian dari pertarungan. Dukungan  massa JR-Ance tampaknya beralih ke DJOSS. 

Lebih jauh lagi, menurut Dadang, Pasangan ERAMAS seperti tidak punya strategi lain selain strategi agama. "Jadi mereka kehilangan variabel-variabel pengaruh yang lain. Jadi hanya satu variabel saja yang dominan. Dan itu, seolah -olah kalau menurut yang kita lihat, terjebak pada opini yang dikembangkan di tengah-tengah masyarakat, bahwa satu-satunya cara agar ERAMAS bisa menang adalah dengan isu agama," ujarnya. 

Hal itu dimanfaatkan betul oleh DJOSS yang masuk ke segala lini. Mereka terus melakukan penetrasi untuk menggaet dukungan. 

"Mereka tidak mau terjebak, pada isu primordial, keagamaan, SARA, sehingga membuat begitu banyak upaya lain untuk mempengaruhi pemilih. Mereka masuk ke kelompok mana saja, tanpa ikatan primordial, Djarot berbagi peran dengan Sihar," jelasnya. 

DJOSS juga mendapat tambahan amunisi dari relawan yang dulunya mendukung Jokowi saat bertarung di Pilpres. Sedangkan ERAMAS hanya mendapat dukungan dari upaya sendiri. 

Relawan Jokowi menjadi keuntungan sendiri bagi DJOSS. Sehingga mereka tinggal mencari dukungan dari variabel yang lain. 

Selisih 13 persen dalam survey PRC memang bukan hal yang mudah untuk DJOSS. Belum lagi, faktor lain yang bisa berpengaruh pada pendulangan dukungan. 

"Variabel non politik yang akan berpengaruh. Misalnya, urusan saksi dan lainnya, itu akan cukup mempengaruhi," ujarnya. 

Sedangkan untuk ERAMAS, Dadang mengatakan, Tim ERAMAS harus melakukan evaluasi agar tidak kecolongan suara. ERAMAS juga harus bisa lebih terbuka terhadap masukan dari masyarakat. 

"Intinya, ERAMAS harus evaluasi dan buka diri. Hanya itu yang bisa mendorong dan mengimbangi DJOSS," tandasnya.

Editor: Herda

T#g:survey
Berita Terkait
  • Selasa, 12 Jun 2018 20:12

    Survei Terbaru, Djarot-Sihar Unggul

    Pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS) nomor urut 2, mengungguli Edy Rahmayadi-Musa Rajeck Shah (Eramas) nomor urut 1, beberapa hari menjela

  • Kamis, 10 Mei 2018 18:30

    Berbalik.... Survey Terkini, Djarot-Sihar Tinggalkan ERAMAS dengan selisih 5,6%

    Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Nomor Urut 2, Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus mengungguli pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah dalam survei di media sosial, yang dilakukan di website http://pilkada.org/survey/

  • Sabtu, 24 Mar 2018 06:34

    Pemimpin Jujur Bersih lebih diinginkan daripada Tegas Berwibawa

    Masyarakat Sumatera Utara lebih menginginkan pemimpin yang jujur dan bersih dibandingkan yang tegas dan berwibawa.

  • Senin, 04 Des 2017 07:04

    Survey: PDIP 30,2 persen, Golkar 12,5 persen, Gerindra 10,8 persen

    Indo Barometer merilis hasil survei mengenai sosok potensial di Pilpres 2019 mendatang. Berkaitan dengan itu, tidak mau ketinggalan dengan lembaga survei lainnya, Indo Barometer juga merilis hasil ele

  • Kamis, 14 Sep 2017 05:34

    Rumah Konstituen: Petahana Masih Diunggulkan Netizen

    Ada yang unik dari poling Rumah Konstituen yang mengambil tema "Memetakan Masa Depan Pembangunan di Sumatera Utara: Survei Harapan Netizen Melalui Pilgub 2018."

  • Sabtu, 19 Agu 2017 07:49

    Jokowi samakan kompetisi Paskibraka dengan persaingan negara

    Menurut Presiden Jokowi, mereka yang terpilih sebagai anggota Paskibraka adalah yang terbaik dari proses seleksi berjenjang yang cukup panjang. Mulai dari seleksi di Kabupaten Kota, naik ke Provinsi.

  • Senin, 10 Jul 2017 08:20

    The Research on the Image of the Caliphate Ideological and Political Doctrine and HTI by SMRC

    Various analysis tend to conclude the Caliphate ideological and political doctrine is the political system to be implemented by ISIS in Syria and Iraq now.

  • Kamis, 06 Jul 2017 06:56

    The Lastest Survey of SMRC is too earlier

    A survey released on Thursday suggests that the Jakarta gubernatorial election has not significantly altered the national political map ahead of the 2019 presidential and legislative elections.

  • Sabtu, 24 Jun 2017 14:14

    Survey: Pelajar se-Jawa Timur Tolak Full Day School

    Lembaga Student Research Center (SRC) IPNU Jawa Timur (Jatim) mengungkapkan bahwa berdasarkan poling yang mereka sebar, sebanyak 79.05 persen pelajar dari 420 responden tak setuju terkait kebijakan "full day school" yang ditempuh selama 5 hari.

  • Senin, 05 Jun 2017 07:35

    Hampir Semua Warga Indonesia Menolak HTI, Hasil Survey

    Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang bercita-cita mendirikan khilafah atau negara yang bersyariat Islam terbukti ditolak oleh sebagian besar warga negara Indonesia.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak