Kamis, 19 Okt 2017 14:22
  • Home
  • Opini
  • Siaran Televisi dan Distorsi Nilai Kebangsaan

Siaran Televisi dan Distorsi Nilai Kebangsaan

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Abdiyanto Fikri, SH, MH., Ketua DPC PDIP Kabupaten OKI
Senin, 31 Jul 2017 03:50
Dibaca: 249 kali
Dok
Abdiyanto Fikri
Subbanul Yaumi, Rijalul Ghoddi (Pemuda Hari ini adalah pemimpin Masa depan). Syair itu demikian akrab di setiap santri pondok pesantren. Demikian pula bagi masyarakat yang juga sesekali mendengarkan pesan itu melalui ceramah para kiai, ustadz di masjid at

Pesan tersebut dapat dimaknakan sebagai bentuk motivasi bagi setiap orang tua yang berkewajiban, yang bukan sekadar melahirkan tetapi juga bertanggungjawab terhadap perkembangan mentalitas generasi bangsa; 20, 30 atau bahkan 100 tahun mendatang. Dengan kata lain, untuk melihat wajah bangsa ini 50 tahun ke depan ukurannya cukup melihat bagaimana sikap dan pola pikir anak-anak di era kini dalam menjalani proses hidup.

Hal ini tentu menjadi satu tanggungjawab yang tidak ringan bagi setiap orang dewasa, bukan hanya dalam rumah tangga: ibu dan ayah, melainkan juga orang dewasa di tengah masyarakat yang juga memilliki kewajiban sama terhadap proses pembentukan mentalitas generasi bangsa ke depan.

Proses pembentukan karakter, sikap dan cara pandang generasi hari ini tidak lepas dari pengaruh internal dan eksternal. Secara internal sosok generasi bangsa akan dibentuk dan diwarnai oleh sistem keluarga, yang diciptakan kedua orang tua: ayah dan ibu. Secara eksternal, dapat terbentuk dari sekolah dan lingkungan tempat anak itu bergaul dan bersosialisasi.

Pembentukan karakter dan perkebangan mentalitas anak bangsa di era digital juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan dunia teknologi, satu diantaranya dampak media televisi. Disebut oleh pakar komunikasi Indonesia, Jalalaudin Rahmat dalam bukunya "Islam Aktual" : media massa (cetak, elektronik) merupakan salah satu alat strategis untuk membentuk dan menciptakan opini kebaikan, namun sebaliknya media massa juga alat paling strategis dalam membentuk opini keburukan. Demikian halnya dalam teori komunikasi disebut; media massa sangat kuat dalam membentuk atau penciptaan opini publik.

Sadar dengan hal itu, tidak salah jika mulai hari ini dan di masa mendatang, dalam mengahadapi bombardir program siaran televisi dengan ragam variannya, orang tua wajib memposisikan diri sebagai "pengawal" putra-putrinya di rumah. Proses pendampingan orang tua bagi anak saat menonton televisi menjadi keniscayaan. Mengingat, tidak semua siaran televisi berdampak positif terhadap proses pembentukan karakter anak bangsa.

Nyaris, separo dari putaran waktu siaran televisi kita disuguhi dengan sejumlah siaran, baik reality show, sinetron dan lainnya yang mengabaikan nilai-nilai pendidikan bagi karakter anak bangsa. Pengelola televisi cenderung mengedepankan untung rugi dari sisi bisnis ketimbang mempertimbangan efek moral terhadap penonton. Ada distorsi nilai-nilai kebangsaan yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Tradisi lokal dan kearifan bangsa timur yang merupakan ciri khas nilai kebangsaan kita, sudah demikian rapuh. Budaya gotong royong, kepedulian, dan kesantunan, keadaban sudah tergerus oleh sikap individualisme, hedonisme dan konsumtifisme. Ini terjadi sebagai akibat dari rapuhnya mentalitas generasi bangsa ini dalam menangkal efek negatif tayangan televisi, iklan, teknologi dan informasi yang tidak tersekat lagi.

Sehingga, semua informasi yang diakses kemudian menjadi "guru digital" dalam proses pembentukan sikap, pola hidup dan karakter pada diri setiap anak bangsa. Disinilah diperlukan proses pengawalan ketat dari orang dewasa, sehingga dampak negatifnya tidak mendominasi dalam pembentukan karakter generasi di negeri ini.

Apalagi lagi, televisi dan teknologi lainnya, sudah menjelma menjadi "mini market" visual yang menawarkan 1000 keistimewaan dan menyimpan jutaan kelemahan. Pun demikian halnya paket program entertaintmen menyuguhkan kehidupan hedonisme artis, mengemas sinetron roman-roman picisan, pergaulan bebas antar remaja, budaya konsumtif dan sejenisnya. Semua tayang tanpa sensor moral dari pihak terkait.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang diberi peran sebagai pengawas semua program siaran, terkesan hanya sebatas formalitas. Misalnya pada pasal 8 (Tugas dan Kewenangan KPI). Pada point c disebutkan, fungsi KPI mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran. Point d; memberi sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyatan serta standar programn siaran.

KPI hanya diberi kewenangan memberi sanksi, yang pada praktiknya semua bersifat sementara, bukan mencabut izin paket program siaran. Ketika paket siaran yang dihentikan kemudian berganti judul lain, sementara secara konten tak berubah, dalam hitungan pekan, program serupa akan kembali tayang.

Lihat kasus penghentikan sementara program "Empat Mata" yang sempat tayang 11 tahun di Trans TV. Tapi kemudian diganti dengan "Bukan Empat Mata" dengan mata siar sama dan konten yang tak berbeda. Ibaratnya bungkus baru kaset lama. KPI sedikitnya sejak tayang lebih 6 kali teguran dan peringatan, tanpa ada kuasa menghentikan program. Sanksi yang dilakukan hanya pengurangan jam tayang menjadi 1 jam dalam tiga hari. Masih banyak program siaran lain yang juga mendapat teguran, peringatan sampai penghentian sementara oleh KPI.

Namun pada intinya, daya kontrol yang sangat strategis pada semua tayangan televisi bukan dibenakan pada KPI-an-sich, namun lingkungan keluarga menjadi dasar utama membentuk benteng mental bagi setiap anak bangsa yang lahir.

Tidak bisa orang tua hanya pasrah "bulat-bulat" pada sekolah atau lembaga apapun untuk membentuk karakter, atau membiarkan putra-putri kita tumbuh di lingkungan tanpa pengawasan orang dewasa yang kita percaya.

Sebab disebut oleh Slameto, pengamat pendidikan di Indonesia, pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan utama. Dengan kata lain, Slameto menegaskan; orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Disinilah peran orang tua (ayah dan ibu) atau orang dewasa yang berkewajiban mendampingi putra-putri kita ketika menonton televisi sehingga dampak negatifnya tidak menjadi racun pada diri anak kita.

Hal ini menjadi penting, sebab anak-anak kita adalah emas permata yang kelak harus menjadi pengemban amanah bangsa yang harus memiliki integritas moral guna mewujudkan masa depan bangsa yang berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan, sebagaimana digagas Bung Karno.

Editor: Sam

T#g:Abdiyanto FikriKPIopinitelevisi
Berita Terkait
  • Rabu, 18 Okt 2017 16:48

    Kerja Ala Jokowi

    Presiden RI ke-7 yaitu Ir. H. Joko Widodo atau biasa disapa dengan Jokowi menjadi sangat fenomenal bagi masyarakat Indonesia seiring dengan prestasinya yang besar dalam pembangunan Indonesia. Dim

  • Rabu, 11 Okt 2017 04:01

    PAW Anggota DPRD Tobasa, DPN PKPI Tunjuk Liston Hutajulu gantikan Usden Sianipar

    Dewan Pimpinan Nasional Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (DPN PKPI) resmi mengeluarkan surat persetujuan Pergantian Antar Waktu (PAW) Usden Sianipar ST, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (

  • Kamis, 31 Agu 2017 11:41

    Radikalisme dalam Spektrum Politik

    Radikalisme dan deradikalisasi merupakan dua istilah politik yang muncul dalam penanganan gerakan terorisme saat ini.

  • Minggu, 13 Agu 2017 12:23

    Letjen TNI Edy Rahmayadi daftar ke PKPI Sumut

    Tim pemenangan Letjen TNI Edy Rahmayadi mendaftar ke Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) Sumut, Sabtu (12/8).

  • Selasa, 08 Agu 2017 14:38

    Intervensi Pembangunan

    Pembangunan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan sebuah kesejahteraan suatu negara atau wilayah, yang meliputi beberapa faktor, di antaranya ekonomi, sosial, budaya dan politik.

  • Minggu, 23 Jul 2017 10:43

    Distorsi Opini Ala HTI

    Nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) akhir-akhir ini sering terdengar di berbagai media massa maupun media sosial.

  • Senin, 10 Jul 2017 22:00

    Tengku Erry Daftar Ke PDI Perjuangan

    Gubsu Tengku Erry Nuradi mengharapkan dukungan sebagai bakal calon Gubernur Sumut pada Pilgubsu 2018 dengan resmi mendaftar ke PDI Perjuangan di kantor PDIP Sumut, Senin (10/7/2017).

  • Kamis, 29 Jun 2017 03:59

    Ini Prediksi Pengamat Intelejen Bila Rizieq Ditangkap

    Kasus hukum yang disandang oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Syihab telah menimbulkan rumor dan pandangan serta prediksi sejumlah pengamat dan bahkan masyarakat awam.

  • Jumat, 16 Jun 2017 19:16

    Pembubaran HTI adalah penyelamatan ideologi negara

    Pemerintah akhirnya mengambil sikap terkait Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Menkopolhukam, Wiranto melalui konferensi pers pada 08 Mei 2017 mengumumkan rencana pembubaran Ormas HTI yang selama in

  • Rabu, 14 Jun 2017 22:04

    Bishop GKPI Pdt Oloan Pasaribu, Saksi Kasus Pencemaran Nama Baik di PN Medan

    Pdt Oloan Pasaribu STh., Bishop Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), memberikan kesaksian di Ruang Cakra II Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (14/6/2017).

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2017 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak