Rabu, 20 Jun 2018 05:15
Iklan Paslon Paluta
  • Home
  • Opini
  • Peran Masyarakat Dalam Menangkal Isu SARA di Tahun Politik

Peran Masyarakat Dalam Menangkal Isu SARA di Tahun Politik

Medan (utamanews.com)
Oleh: Sulaiman Rahmat, Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)
Senin, 15 Jan 2018 06:05
Istimewa
Ilustrasi
Selamat Puasa Paluta
"Pilihan boleh beda tapi jauh dari issue SARA"

Kata-kata tersebut mungkin sudah tidak terdengar asing lagi. Ya, itu adalah salah satu spanduk yang berisi ajakan oleh para pemuda ibukota kepada warga negara menjelang PIlkada sebelumnya. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana akan tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Indonesia, negara berkependudukan terbesar ke-empat di dunia, dan dipadati lebih kurang duaratus enam puluh lima juta jiwa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku, etnis dan agama ini akan segera melangsungkan rangkaian pesta rakyat pada tahun 2018 ini. Yang paling ditunggu-tunggu adalah pemilihan kepala daerah atau lebih yang dikenal dengan Pilkada.

Sebagai negara yang besar, bukanlah hal yang mengejutkan jika banyak isu-isu merebak kedalam kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari isu perekonomian, kebudayaan dan banyak lagi. Akan tetapi isu yang paling sering di jumpai pada saat menjelang Pilkada atau pun pemilihan umum lainnya adalah isu SARA. Seiring dengan perkembangan zaman, isu SARA ini pun memulai perbincangan dan juga perdebatan di antara para pengguna media sosial.

Menjelang Pilkada, isu SARA pun lalu mulai dikait-kaitkan dengan unsur politik. Hal ini dapat kita lihat ketika isu SARA mulai menjulang lagi pada saat pemilihan kepala daerah 2017 silam. Banyak yang tidak menyadari bahwa munculnya isu SARA di dalam politik adalah disebabkan oleh politik itu sendiri. 

Lalu, sebagai warga negera Indonesia, bagaimanakah masyarakat harus bertindak ketika isu SARA mulai tersebar luas menjelang masa Pilkada 2018 ini?
 
Ada lima hal yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia dalam menanggapi isu SARA yang ingin mempecah belah persatuan dan kesatuan indonesia. Kelima hal tersebut adalah tidak lain dari 5 dasar negara Republik Indonesia, yaitu 5 sila yang ada di dalam Pancasila yang  telah menjadi lambang dan dasar negara kita.



1. Ketuhanan Yang Masa Esa

Hal yang paling pertama yang harus dilakukan masyarakat Indonesia dalam menanggapi isu SARA yang menyebar menjelang pilkada adalah bahwa mengingat kembali bahwa Indonesia menghargai agama seluruh rakyatnya dan dimana kita sebagai sesama warga juga sudah seharusnya menghargai dan menghormati saudara-saudara kita apapun agama yang dianut mereka. Sila pertama dari Pancasila ini juga menekankan pada semua ciptaan yang ada berasal dari Tuhan, sehingga sebagai sesama ciptaan Tuhan, walaupun kita berbeda warna kulit, ras, atau pun etnik kita harus tetap menghargai ciptaan Tuhan dan tidak boleh terprovokasi oleh isu-isu SARA yang menyebar luas. Hal selanjutnya yang ditekankan pada sila pertama ini dan dapat dijadikan salah satu model untuk menangkal konflik bernuansa SARA adalah dengan toleransi. Dalam hal ini, toleransi yang dimaksud adalah kebebasan yang diberikan oleh negara bagi para warga negaranya dalam beribadah dan praktek agamanya secara damai. 

Toleransi juga ditekankan pada saat terjadinya konflik agama di antara para warga negaranya adalah dengan adanya mediator pada saat konflik tersebut terjadi. Mediator ini adalah sangatlah penting terutama pada saat adanya isu SARA yang menganggu masyarakat. Hal ini disebabkan karena kebanyakan dari isu SARA sendiri berawal dari kekeliruan yang terjadi di dalam masyarakat dan ada juga karena tersebar berita hoax atau yang dikenal berita yang tidak benar. Dengan berkembangnya zaman maka informasi yang disebarkan pun menjadi semakin banyak dan cepat. Jadi, ketika kita menjadi tidak lihai dalam memilah informasi tersebut, banyak informasi yang bersalahan menjadi tersebar ke publik dan menjadi awal mulanya isu SARA tersebut. Cara terbaik untuk menanggapinya adalah dengan mediator dimana isu munculnya SARA tersebut dibahas dan diselesaikan. Dengan demikian isu SARA tersebut tidak lagi dapat mempecah belah warga negara Indonesia.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, isu SARA yang bermunculan pada saat menjelang Pilkada kebanyakan disebabkan oleh berita-berita hoax ataupun berita-berita yang dapat menyebabkan kekeliruan. Sehingga, sebagai manusia yang beradab, yang memilki arti sebagai manusia yang memiliki akal dan budi, kita harus bisa bertindak dan menyesuaikan tindakan kita berdasarkan nilai-nilai da norma-norma yang kita percayai. Seperti peribahasa yang menyatakan tidak ada asap maka tidak ada api, yang berarti tidak ada akibat tanpa sebab. Hal yang sama juga terjadi dengan isu SARA yang disebarluaskan melalui media online. 

Menunjuk kembali pada sila kedua dari Pancasila, dimana sebagai warga negara, kita harus menyadari bahwa sikap dan tindakan kita harus diikuti dan didasari pada norma-norma, moral dan budi murni terhadap diri kita sendiri dan terhadap sesama warga negara lainnya. Hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi lebih bijak dalam menggunakan social media atau berbagai media online dimana sekarang media onlinelah yang menjadi tempat menyebarkan isu SARA. Sehingga, pada saat kita melihat atau membaca berita berita yang meyebarkan isu SARA pada saat PILKADA ini, jadilah lebih bijak dalam men-share berita tersebut kepada teman anda. Lebih baik kita memastikan dulu apakah berita tersebut benar adanya.

3. Persatuan Indonesia

Cara selanjutnya yang dapat digunakan masyarakat dalam menanggapi isu SARA menjelang pilkada adalah dengan tetap menjaga nasionalisme. Tujuan dari tersebar isu SARA adalah untuk merusak persatuan dan kesatuan Indonesia. Oleh sebab itu sebagai warna negara Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, kita harus menggunakan politik dan PILKADA untuk menumbuhkan kembali rasa cinta tanah air, senasib dan sepananggungan. Dimana hal tersebut hanya dapat dicapai ketika kita menghilangkan semua perbedaan berdasarkan kekuasaan, agama, rasa dan warna kulit.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Cara ke-empat dalam menanggapi isu SARA adalah dengan demokrasi sebagaimana dianut pada sila ke-empat Pancasila. Dimana pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah. Inti dari musyawarah ini sendiri adalah untuk mendengarkan masukkan dari semua pihak terkait tanpa memandang bulu. Hal tersebut dapat kita aplikasikan pada saat isu SARA mulai tersebar luas, sehingga warga negara dapat mengatasi isu SARA tersebut dengan keputusan bersama dan kejujuran.  

5.Keadilan sosial bagi seluruh rakya Indonesia

Cara terakhir untuk menanggapi isu SARA adalah dengan melindungi yang lemah atau yang diserang dengan isu SARA  sebagaimana yang di sampaikan pada sila kelima Pancasila. Sebagai sesama warga negara sudah menjadi tanggung jawab kita untuk melindungi sesama warga dan tidak ikut menyerang sekelompok warga dengan isu SARA, dan ketika kita melihat hal itu terjadi, maka sudah menjadi tanggung jawab kita juga untuk melindungi mereka dan tidak terprovokasi. 

Marilah kita wujudkan PILKADA yang bebas SARA dengan menanamkan kelima sila Pancasila di dalam diri kita.

Editor: Sam

T#g:PilkadaSARA
Berita Terkait
  • Selasa, 19 Jun 2018 14:19

    KPU Deli Serdang Gelar Rapat Pleno DPS Pemilu 2019

    Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Deli Serdang melaksanakan rapat pleno Daftar Pemilih Sementara (DPS) Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2019 di Aula Cadika, Lubuk Pakam pada Minggu (17/06/2018).

  • Rabu, 13 Jun 2018 20:23

    Djarot dan Sihar Terbahak-bahak Dengar Guyonan Syamsul Arifin

    Dato' Seri H Syamsul Arifin SE berbincang santai dengan Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus, saat ketiganya bertemu dalam silaturahmi di kediaman Djarot, jalan RA Kartini Medan, Selasa (12/6/

  • Senin, 11 Jun 2018 12:11

    KPU Terima Surat Suara Pilbup Deli Serdang

    Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Deli Serdang menerima surat suara untuk pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Deliserdang Tahun 2018.

  • Minggu, 10 Jun 2018 16:50

    "Handphone saya mati, Bagaimana negara luas tanpa komunikasi?"

    Berikut adalah potongan pidato kampanye calon Bupati Dairi Eddy Keleng Ate Berutu di Desa Pardomuan Kecamatan Siempat Nempu Hilir, kemarin, Sabtu (9/6/2018). Kampanye ini dihadiri juga oleh calon Waki

  • Selasa, 05 Jun 2018 16:05

    Jelang Pilgubsu, KPU Deli Serdang Terima 598 Kotak Surat Suara

    Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Deli Serdang menerima 598 kotak surat suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Sumatera Utara (Sumut).

  • Selasa, 05 Jun 2018 04:05

    KPU Palas Nyatakan Berkas 2 Cawabup Palas "MS"

    Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Padang Lawas (KPU Palas) menyatakan bahwa Surat pengunduran diri Ahmad Zarnawi Pasaribu (AZP) dan Syahrul Effendi Hasibuan (SEH), keduanya sebagai Calon Wakil Bupati (C

  • Senin, 04 Jun 2018 08:04

    Logistik Pilgub Sumut 2018 Tiba Di Padang Lawas Utara

    Surat suara pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara tahun 2018 untuk wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) tiba di gudang Komisi Pemilihan Umum (KPU) Palut

  • Kamis, 31 Mei 2018 22:31

    Amran Pulungan: Pengunduran Diri AZP dan SEH Memenuhi Syarat

    Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Padang Lawas menyatakan bahwa Surat pengunduran diri Ahmad Zarnawi Pasaribu (AZP) dan Syahrul Effendi Hasibuan (SEH) sebagai Calon Wakil Bupati Palas telah memenu

  • Senin, 28 Mei 2018 10:28

    KPU Lakukan Penajaman Visi Misi Pilkada Deli Serdang

    Pasca ditolaknya kasasi yang diajukan bakal pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Deli Serdang jalur perseorangan (independen) Sofyan Nasution-Hj Jamilah oleh Mahkamah Agung (MA), Komisi Pem

  • Minggu, 27 Mei 2018 17:17

    Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilu [tidak hanya] Tanggung Jawab KPU

    Pada Pemilu yang pertama (tahun 1955) Partisipasi Masyarakat mencapai angka 91,1% dan Golput 8,6%, selanjutnya meningkat di masa Orde Baru, yaitu pada pemilu (tahun 1971) partisipasi masyarakat berada

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak