Selasa, 19 Jun 2018 01:52
Iklan Paslon Paluta
  • Home
  • Opini
  • Pancasila Menyatukan Keberagaman Kita

Pancasila Menyatukan Keberagaman Kita

Medan (utamanews.com)
Oleh: Sulaiman Rahmat, Pengamat Sosial Politik, LSISI. tinggal di Jakarta.
Kamis, 31 Mei 2018 13:31
Twitter
Ilustrasi
Selamat Puasa Paluta
Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai banyak bahasa, budaya, suku ,kepercayaan dan semua itu disatukan oleh Pancasila sebagai pendoman bagi warga negara Indonesia dengan semboyannya adalah "Bhinneka Tunggal Ika" yang mempunyai arti meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu.

Dalam sila ke 5 di dalam Pancasila, bahwa kita harus selalu hidup rukun bersama di negara Indonesia ini. Dan dengan memberikan peraturan-peraturan atau hukum serta undang-undang untuk mengatur warga negara agar tetap hidup rukun berdampingan. Sehingga hukum yang ada pada negara Indonesia akan menajmin dan memberikan kebebasan kepada rakyat Indonesia, dan hukum tersebut akan mengikat untuk rakyat Indonesia agar semua rakyat dapat saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Dengan begitu terciptalah toleransi yang tinggi terhadap saudara-saudara satu bangsa.

Beberapa waktu belakangan, pemberitaan media cukup ramai memperbicangkan mengenai rangkaian kejadian terorisme di Indonesia. Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Centre (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai "September Kelabu", yang memakan 3000 korban.



Mereka yang menjadi aktor di balik kejadian ini menganggap bahwa ideologi merekalah yang paling benar sedangkan ideologi lain adalah suatu bentuk kesalahan. Inilah yang menyebabkan sebagian teroris ini menganggap Pancasila adalah ideologi yang "thogut" yang mana bila diartikan adalah sesuatu yang bertentangan dengan hukum Islam. Mereka menganggap yang mereka lakukan adalah kebenaran hakiki dan sempurna sehingga menutup hati mereka dari hal-hal lainnya.

Sumber pokok kesalahan tidak terletak pada Pancasila dan tak ada yang salah dengan Pancasila karena isi Pancasila tidak melenceng dari nilai-nilai yang ada. Kesalahan yang sesungguhnya terletak pada penerapan Pancasila sebagai ideologi. Hal itu terjadi karena banyaknya orang Indonesia tidak dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dengan benar. Terlebih para teroris, mereka adalah orang-orang yang tidak konsisten dalam melaksanakan isi Pancasila. Mereka mengerti dan memahami Pancasila namun tidak menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Itulah yang terjadi sekarang, dimana Pancasila hanya diucapkan di bibir saja. Diajarkan di sekolah-sekolah hanya sebagai suatu pengetahuan. Sebagai sebuah sejarah, bahwa dahulu Bung Karno pernah mendengung-dengungkan Pancasila sebagai dasar Negara. Para siswa hafal dengan urutan sila-sila dari Pancasila, tetapi tidak paham artinya, filosofinya, dan hakekat manfaatnya bagi kehidupan berbangsa dan bertanah air satu, NKRI. Inilah penyebab saat ini paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila ini mulai masuk ke dalam diri masyarakat Indonesia.


Pancasila Sangat Selaras Dengan Nilai Islam

Nila-nilai luhur dari agama (termasuk dan terutama Islam) dan budaya yang terintegrasi dalam ideologi negara telah menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang relatif kokoh. Kokohnya ideologi Pancasila telah terbukti dengan daya tahannya yang tinggi terhadap segala gangguan dan ancaman dari waktu ke waktu, sehingga sampai saat ini tetap eksis sebagai falsafah dan landasan serta sumber dari segala sumber hukum bagi negara-bangsa Indonesia.

Namun akhir-akhir ini, gangguan dan ancaman terhadap ideologi Pancasila semakin kuat, terlebih pada era gelobalisasi di mana percaturan dan pergumulan bahkan benturan antar berbagai pemikiran dan ideologi dunia begitu keras. Hal ini ditandai semakin melemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila pada generasi penerus bangsa, karena semakin banyaknya anak bangsa yang kian tertarik kepada ideologi-ideologi dan budaya lain yang memang gencar memasarkan dan menjajakan kepada siapa pun melalui metode dan media yang sangat menarik. Bahkan, kondisi ini juga melanda para pemimpin bangsa yang mestinya telah memahami sejarah dan dinamika perjuangan bangsa dan menjiwai-menghayati nilai-nilai ideologi Pancasila.




Momentum Menjiwai Kembali Nilai-Nilai Pancasila

Tahun ini merupakan peringatan Hari lahir Pancasila yang ke 73, dihitung sejak 1 Juni 1945. Saat Ir Soekarno menyampaikan pidato di hadapan BPUPK dan memperkenalkan lima sila dengan nama Pancasila. Dari hal tersebut kemudian diformalkan dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Bung Karno tegas-tegas berkata: "Bila bangsa Indonesia melupakan Pancasila, tidak melaksanakan dan mengamalkannya maka bangsa ini akan hancur berkeping-keping" juga dinyatakan bahwa barang siapa, atau kelompok manapun yang hendak menentang atau membelokkan Pancasila, niscaya akan binasa.

Pada hakikatnya, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia memiliki konsep dasar yang relatif berbeda dengan pandangan hidup bangsa lain karena Pancasila menyerap nilai-nilai kearifan lokal nusantara. Jika menengok konsep pandangan hidup bangsa Barat contohnya, pada pandangan hidup mereka menekankan kebebasan individu yang seluas-luasnya. Pancasila juga berbeda konsep Sosialisme-Komunisme yang menekankan pada kepentingan komunal atau sesuatu yang bersifat kebersamaan.

Secara hakikat, Pancasila menitikberatkan pada kepentingan individu dan kepentingan nasional dengan memberikan keikutsertaan bangsa dalam melakukan perlindungan, pertanggungjawaban dan pengelolaan agar terciptanya tata kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila dan nilai luhur bangsa Indonesia.

Pancasila juga diyakini sebagai saripati dari kebudayaan bangsa yang dapat menampung dan menjembatai segala perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, sudah saatnya momentum hari lahir Pancasila ini dijadikan untuk alat untuk kembali mengingat dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di tengah ancaman radikalisme, terorisme, hingga separatisme yang membayangi Indonesia. Dengan cara ini, Pancasila diharapkan tidak hanya menjadi simbol semata, namun juga sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.
Editor: Sam

T#g:teroris
Berita Terkait
  • Jumat, 08 Jun 2018 04:08

    Panglima TNI: Radikalisme Berujung Pada Tindakan Terorisme

    Selaku umat Islam dan bagian dari bangsa yang besar, sebagai warga negara Indonesia harus menyadari adanya radikalisme di sekitar kita. Radikalisme ini berawal dari pemahaman yang salah, yang kemudian

  • Minggu, 03 Jun 2018 08:33

    Rektor Tak Sangka Ada Teroris Di Kampus Unri

    Prof. Dr Aras Mulyadi, Rektor Universitas Riau (Unri), sangat tidak menduga adanya tindakan terkait teror di kampus universitas negeri di Kota Pekanbaru, Riau itu."Universitas Riau sangat menyayangkan

  • Selasa, 29 Mei 2018 01:29

    BEM NUS Dukung Kapolri & BIN Berantas Terorisme Sampai ke Akarnya

    Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEM-NUS) Wilayah Sumatera meminta dan mendukung langkah Kapolri dan BIN untuk memberantas teroris hingga ke akarnya.Hal ini disampaikan Kordinator BEM NUS Wilayah

  • Minggu, 27 Mei 2018 14:27

    Bersatu Melawan Aksi Terorisme

    Terorisme identik dengan kekerasan. Tindakan teroris menyebabkan keresahan, rasa takut di tengah masyarakat, melukai atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan orang lain dengan tujuan tert

  • Minggu, 20 Mei 2018 11:00

    Polres Nias Selatan Deklarasi Anti Terorisme

    Polres Nias Selatan menggelar deklarasi anti terorisme yang dirangkai dengan buka puasa bersama puluhan anak anak yatim, di Aula Mapolres Nias Selatan, Jumat sore (18/05).

  • Jumat, 18 Mei 2018 15:18

    Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

    Setelah aksi penyanderaan di Markas Komando Brigade Mobil (MAKO) Brimob di Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) lalu, teror kembali terjadi dua hari berturut-turut. Kali ini teror dilakukan di Kota Surabay

  • Kamis, 17 Mei 2018 15:17

    Teror Bom Surabaya dan Urgensi Revisi UU Terorisme

    Setelah kasus serangan narapadina terorisme di Mako Brimob, berita tentang terorisme datang dari Surabaya. Publik digegerkan dengan aksi satu keluarga yang meledakkan bom bunuh diri di tiga gereja. Mi

  • Rabu, 16 Mei 2018 15:16

    Kondisi Polisi Korban Samurai Teroris Mulai Membaik

    Anggota Polri Riau yang kepalanya terkena samurai teroris tadi pagi, Kompol Farid Abdullah, telah selesai menjalani operasi di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau dan kondisinya sudah stabil dan terus

  • Rabu, 16 Mei 2018 02:16

    Tetap Tenang Menghadapi Aksi Terorisme

    Kejadian Terorsime di Indonesia saat ini menjadi sangat kritis, Pasca serangan di Mako Brimob Kelapa Dua minggu lalu, kemarin, teror kembali terjadi diSurabaya. Ledakan yang diduga bom bunuh diri di S

  • Minggu, 13 Mei 2018 22:03

    Teroris: Kita Tidak Takut!

    Pasca aksi teroris di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Indonesia kembali berduka. Puluhan orang yang akan mengikuti ibadah pagi ini menjadi korban kebiadaban teroris. Tetes darah dan air mata anak bangsa

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak