Kamis, 23 Nov 2017 23:30
  • Home
  • Opini
  • Menilik Kinerja 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

Menilik Kinerja 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Kurniawan Hadi, Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Wilayah Jawa Barat.
Kamis, 12 Okt 2017 14:42
Dibaca: 181 kali
Dok
Presiden Jokowi

Selama 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK ada banyak tanggapan bernada sinis yang menilai pemerintah Indonesia tidak mampu menjalankan mandatnya untuk memajukan Negara, akan tetapi agaknya opini seperti itu terlalu tergesa-gesa dan terkesan menyudutkan pemerintah. 

Pencapaian kerja pemerintahan tidak dapat diukur dengan hanya melihat dari peningkatan signifikan yang terjadi secara tiba-tiba, karena sistem tata kelola kenegaraan tidak dapat disederhanakan antara kerja hari ini dan besok memetik hasil. 

Kinerja suatu sistem tata kelola kenegaraan mencakup banyak aspek yang kompleks dan membutuhkan banyak waktu. Selain itu, idealnya pertumbuhan nasional dilakukan secara bertahap. 

Akan tetapi, pemerintahan yang berkuasa juga tidak dapat mengelak begitu saja dari kritikan publik terkait pencapaian program pemerintahan, dan pemerintah juga harus mempertanggungjawabkan pencapaian program pemerintahannya, sehingga cita-cita bangsa Indonesia semakin dekat untuk tercapai.

Selama pemerintahan Jokowi-JK banyak pencapaian yang telah diperoleh melalui paket-paket kebijakan. Kebijakan tersebut mencakup realisasi program pembangunan, reformasi birokrasi dan pemerataan pembangunan ekonomi. Akan tetapi, tidak sedikit juga kritikan dan tanggapan negatif terkait kinerja Jokowi-JK, bahkan banyak beredar isu-isu yang menyudutkan Presiden Jokowi walaupun isu tersebut masih belum terbukti kebenarannya.

Pemberitaan negatif tentang public figure bukanlah hal yang baru di dalam ranah politik, mengingat jabatan Presiden adalah posisi strategis yang diinginkan banyak pihak, terlebih dengan banyaknya jumlah partai politik di Indonesia membuat perang kepentingan menjadi semakin kompleks. Akibatnya, gesekan kepentingan hampir selalu terjadi dan pihak-pihak yang kepentingannya terhalang oleh pemerintah akan mengupayakan berbagai cara untuk menjatuhkan pemerintah mealalui Presidennya. 

Sering sekali pelaku politik memanfaatkan media massa dalam menyebarkan opini berbobot politik untuk mempengaruhi masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting memiliki sikap kritis dan selalu mengklarifikasi informasi sensitif yang diterima. 

Selain itu juga jangan mudah terprovokasi hingga melakukan respon dalam bentuk emosi dan tindakan, karena kekuatan dari propaganda adalah seberapa jauh pesan dapat mempengaruhi pandangan dan tindakan penerima pesan tersebut.

Saat ini bangsa Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Pilkada serentak 2018 dan Pilpres tahun 2019, menjelang momen politik tersebut diperkirakan akan muncul isu-isu bermuatan politik yang menyebar untuk memperoleh kepercayaan publik atau malah menjatuhkan saingan politik yang memiliki elektabilitas tinggi. 

Di sisi lain, Presiden Jokowi sebagai petahana untuk Pilpres 2019 telah mendapat kepercayaan dari masyarakat. Kepercayaan tersebut merupakan imbas pencapaian kerja pemerintahselama tiga tahun terakhir. 

Menanggapi hal tersebut, diperkirakan akan muncul serangan-serangan politik dari pihak oposisi, untuk menurunkan elektabilitas petahana dan memperkuat dukungan politiknya.

Sebelumnya, di awal pemerintahan, Jokowi diserang dengan isu yang mengatakan bahwa Jokowi adalah boneka politik dari ketua umum PDIP, Megawati Soekarno Putri, dan kebijakan Presiden Jokowi merupakan kebijakan politik yang dilatarbelakangi kepentingan partai, akan tetapi, saat ini isu tersebut seperti menghilang dan tidak lagi dibahas seramai dulu, seakan-akan isu tersebut memang diniatkan dan dimunculkan secara sitematis untuk mengompori masyarakat yang masih terbawa suasana pesta demokrasi, kemudian setelah berlalu beberapa bulan pembahasan terkait isu tersebut semakin berkurang dan menghilang, melihat dari pola tersebut tidak menutup kemungkinan adanya setting issue yang dilakukan oleh pihak oposisi Jokowi.

Saat ini, memasuki 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK, kembali muncul isu terkait PKI yang menyerang Jokowi dengan tuduhan yang cukup serius, tuduhan tersebut menyudutkan Jokowi dengan mengatakan Presiden Jokowi memegang ideologi komunis. 

Kemunculan isu tersebut bukanlah hal yang baru, isu bahwa Jokowi anak PKI sudah sering dimunculkan oleh lawan politiknya untuk menurunkan elektabilitas dan kepercayaan publik kepada Jokowi, kemudian di akhir 2017 ini isu tersebut muncul kembali diawali dengan pemberitaan terkait dugaan adanya kelompok simpatisan komunis berkedok LBH yang melakukan pertemuan dan pembahasan untuk menegakkan ideologi komunis di Indonesia. 

Kemudian pemberitaan tersebut seakan-akan diarahkan kepada isu yang menyebutkan keterlibatan presiden Jokowi dalam grand strategy penegakkan ideologi komunis. 

Mengingat saat ini Indonesia tengah mempersiapkan momentum pesta demokrasi yaitu pilkada serentak tahun 2018 dan pilpres 2019, dimungkinkan isu PKI tersebut akan terus dikembangkan oleh lawan politik Jokowi untuk menjatuhkan elektabilitasnya menjelang pilpres 2019. Padahal di dalam TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 telah disebutkan secara tegas tentang pelarangan dan pembubaran partai komunis di Indonesia. 

Selain itu, presiden Jokowi secara langsung menegaskan, "Organisasi yang jelas-jelas bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila, Kebhinekaan, kalau saya, tidak bisa dibiarkan. Bahkan PKI, kalau nongol gebuk saja".

Di luar isu-isu yang terkesan bermuatan politik dan bertujuan untuk menyudutkan pemerintahan Jokowi-JK, masyarakat juga perlu memperhatikan pencapaian kinerja pemerintahan selama 3 tahun terakhir, sehingga masyarakat dapat memberikan penilaian objektif terkait kualitas pemerintahan Jokowi dan tidak hanya mengikuti isu-isu bermuatan politik yang diarahkan oleh pihak-pihak berkepentingan.

Karakteristik pemerintahan Jokowi-JK memfokuskan pembangunan pada sektor infrastruktur, hal tersebut bukan tanpa alasan, karena pemerintahan Jokowi meyakini, untuk mendukung pembangunan perlu dilandasi dengan pondasi yang kuat dan salah satu permasalahan fundamental yang menghambat proses pembangunan nasional adalah keterbatasan infrastruktur yang menyebabkan mobilisasi barang dan jasa menjadi lambat. 

Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga mempengaruhi kuantitas barang dan jasa yang diolah dan didistribusikan. Prioritas pembangunan tersebut tercermin pada 12 paket-paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah Jokowi-JK dimana pembangunan infrastruktur dimaksudkan untuk mendukung agenda prioritas kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kemaritiman, pariwisata, dan industri dengan fokus urgensi dalam rangka meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi menuju pembangunan nasional yang merata.

Seakan ingin mematahkan label masayarakat terhadap politikus, yang disebut hanya mampu memberikan janji-janji tanpa hasil nyata. Presiden Jokowi mewujudkan program pemerintahannya dalam bentuk nyata dengan tanpa mengesampingkan komitmen pemerataan pembangunan. Selama ini, konsep pembangunan difokuskan pada kajian lokasi yang memberikan manfaat ekonomis, hal tersebut juga tidak dapat dikatakan salah, karena pemerintah memang harus meminimalisir kerugian negara, akan tetapi konsep tersebut hanya memberikan manfaat ekonomis dalam jangka pendek, akibatnya jangka panjangnya adalah terjadi kesenjangan pembangunan antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Sementara dalam pemerintahan Presiden Jokowi, target pembangunan dilakukan dengan optimisme pencapaian kesejahteraan ekonomi jangka panjang dan merata. Untuk mencapai target pembangunan tersebut, dibutuhkan keterlibatan dan komitmen semua pihak bahkan hingga sistem masyarakat terkecil. Indonesia Bagian Timur merupakan salah satu contoh daerah yang sering diabaikan pembangunannya karena prospek ekonomisnya masih kecil, akan tetapi pemerintahan Jokowi mematahkan pendapat tersebut dengan membangun prospek ekonomi itu sendiri, diawali dengan penyediaan infrastruktur sehingga seluruh komponen masyarakat dapat membangun ekonomi daerah masing-masing dan hal tersebut akan berlaku jangka panjang dan permanen.

Selama 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK, realisasi pembangunan infrastruktur Indonesia Bagian Timur sudah mampu menunjukkan komitmen dan konsistensi pemerintah dalam meningkatkan pemerataan pembangunan. Pencapaian tersebut diantaranya, realisasi pembangunan jalan dan jembatan 100 KM, pembangunan tol laut untuk meningkatkan mobilisasi barang dan jasa antar pulau, BBM satu harga untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, eksplorasi migas untuk membangun ekonomi daerah dan serapan tenaga kerja, serta pembangunan smelter dan divestasi Freeport untuk meningkatkan dominasi Negara dalam pengolahan tambang Freeport. Dalam jangka pendek pembangunan tersebut memang belum akan memberikan hasil yang signifikan, karena target pembangunan Jokowi bukan finansial dalam jangka pendek, melainkan pembangunan budaya masyarakat untuk membangun ekonominya sendiri secara merata dan menyeluruh. Program tersebut sejatinya mewujudkan seluruh komponen Negara bersatu untuk membangun Bangsa.

Editor: Sam

T#g:Jokowi
Berita Terkait
  • Jumat, 17 Nov 2017 21:57

    Presiden Jokowi dan Tengku Erry Mampir Di Gubernuran

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendarat di Kualanamu International Airport (KNIA) dalam rangka kunjungan kerja meresmikan pembukaan Musyawarah Nasional ke-10 Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHM

  • Jumat, 17 Nov 2017 21:27

    Jokowi Buka Munas KAHMI

    Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) ditandai dengan pemukulan Gordang Sambilan di Hotel Santika Dyandra Medan

  • Jumat, 17 Nov 2017 14:57

    Presiden Hadiri Munas KAHMI di Medan

    Usai menghadiri acara Sarasehan Nasional DPD RI, Presiden Joko Widodo langsung bertolak menuju Provinsi Sumatera Utara guna melakukan kegiatan kunjungan kerja.Melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakus

  • Rabu, 15 Nov 2017 03:55

    Bijak Menyikapi Pembangunan di Era Presiden Jokowi

    Negara kurang ini, negara kurang itu. Banyak hal yang menjadi tuntutan kita kepada Negara. Hal ini menjadi wajar apabila didasari oleh motif kepentingan bangsa dan negara. Namun, apa kita sudah bersyukur dengan kondisi yang ada saat ini?

  • Senin, 13 Nov 2017 08:41

    Surya Paloh Sebut Dirinya & Jokowi Sepakat Dukung Tengku Erry

    Ketua Umum Partai Nasional Demokrasi (Nasdem) H Surya Paloh tidak dapat menutupi kegembiraannya menyaksikan belasan ribu masyarakat yang memadati Lapangan Merdeka Medan, Minggu (12/11/2017).Di hadapan

  • Senin, 13 Nov 2017 08:33

    Bertemu Presiden Jokowi, PM Abe Puji Iklim Investasi Indonesia

    Menjelang perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang, kedua negara sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.

  • Minggu, 12 Nov 2017 16:12

    Tiba di Filipina, Presiden Hadiri KTT ASEAN di Manila

    Tarian massal yang diikuti ratusan penari sambut kedatangan Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo di Bandar Udara Clark Pampanga, Filipina, Minggu, (12/11/2017). Info diperoleh dari B

  • Sabtu, 11 Nov 2017 19:31

    Presiden Jokowi Bertemu dengan PM Australia di Viet Nam

    Mengawali kegiatan hari kedua berada di Da Nang, Viet Nam, Sabtu, (11/11/2017), Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull di Furama Resort Da Nang

  • Sabtu, 11 Nov 2017 11:01

    Presiden Tekankan Pentingnya Pembangunan Ekonomi Terbuka dan Inklusif

    Setelah tiba di Da Nang, Vietnam, Presiden Joko Widodo langsung mengikuti pertemuan APEC Business Advisory Council (ABAC) Dialogue dan pertemuan APEC-ASEAN Leaders yang digelar pada Jumat, 10 November

  • Jumat, 10 Nov 2017 18:50

    Panglima TNI Hadiri Penyematan Nama Pesawat Nurtanio

    Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama Kepala Staf Angkatan menghadiri acara penyematan nama Nurtanio untuk pesawat transport nasional N-219, karya anak bangsa oleh Presiden RI Ir. Joko Wid

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2017 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak