Jumat, 21 Sep 2018 08:15
  • Home
  • Opini
  • Kerukunan Umat Beragama Perekat Persatuan Bangsa

Kerukunan Umat Beragama Perekat Persatuan Bangsa

Medan (utamanews.com)
Oleh: Kapten Inf Suwandi (Pasilakpin Subdit Opini Bidpenum Puspen TNI)
Selasa, 13 Mar 2018 11:53
Puspen TNI
Suwandi

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang besar, bangsa yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Selain itu Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang plural memiliki beragam suku, etnik, budaya dan bahasa serta mempunyai enam agama yang resmi diakui oleh negara yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Melihat Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam tersebut, kerukunan antar masyarakat terutama antar umat beragama menjadi salah satu hal yang  sangat penting diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Kita ketahui bersama bahwa permusuhan yang dipicu agama merupakan salah satu penyebab utama permasalahan yang sangat krusial yang dapat membuat masyarakat di suatu negara terpecah belah, saling bermusuhan yang akhirnya berujung pada pertikaian yang berkepanjangan. Sudah banyak contoh negara-negara lain di dunia yang hancur akibat pertikaian terkait oleh isu agama yang tidak bisa ditangani dan diselesaikan dengan baik, antara lain seperti konflik antara Palestina dengan Israel yang hingga sekarang masih berlanjut, ISIS di Suriah dan diberbagai negara Arab lainnya, kelompok teroris yang mengatasnamakan agama dan yang baru-baru ini terjadi yaitu konflik Rohingya di Myanmar, serta masih banyak lagi konflik-konflik agama lainnya.



Demikian pula di Indonesia, isu agama menjadi isu sentral yang menyebabkan terjadinya beberapa konflik. Seperti kejadian yang pernah dialami saudara-saudara kita yaitu konflik antar agama di kota Ambon Maluku yang terjadi pada tanggal 19 Januari 1999, selanjutnya kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah yang merupakan contoh konflik agama yang berdampak cukup serius  dan berlarut larut karena kurang cepatnya penanganan, Poso I terjadi antara 25-29 Desember 1998, Poso II terjadi antara 17-21 April 2000 serta Poso III terjadi antara 16 Mei hingga 15 Juni 2000.

Dari konflik tersebut sampai sekarang tidak diketahui pasti seberapa besar korban dan kerugian yang diderita masyarakat, dan yang pasti kejadian tersebut menimbulkan trauma serta penderitaan yang mendalam bagi korban dan keluarganya.

Contoh terbaru yang masih hangat dalam benak kita dan menjadi pemberitaan utama di media massa nasional yaitu penyerangan terhadap tokoh-tokoh agama di berbagai daerah. Walaupun itu belum tentu dilakukan atas nama agama, namun persepsi yang terbentuk di masyarakat kejadian tersebut merupakan upaya untuk membenturkan umat agama satu dengan yang lainnya.

Apabila permasalahan tersebut  tidak segera ditangani dengan cepat dan tuntas oleh aparat keamanan maka dikhawatirkan masyarakat bisa terprovokasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah bangsa Indonesia.

Perlu juga menjadi perhatian kita bersama isu agama tersebut dikaitkan dengan Pilkada serentak 2018 dan pemilu legislatif maupun pemilihan presiden 2019. Kondisi tersebut tentunya dapat berpotensi meningkatkan suhu politik,  menimbulkan ancaman dan konflik yang dapat mengkoyak kebhinekaan bangsa Indonesia.

Kita berharap dalam gelaran pesta demokrasi tersebut tidak ada oknum partai politik memanfaatkan isu agama sebagai bagian dari kampanyenya, baik yang dilaksanakan secara terang-terangan  maupun secara tertutup dengan menggunakan media sosial. Dalam konteks ini, hendaknya masyarakat dapat menyikapinya secara bijak, masyarakat harus bisa memilah-milah mana informasi yang benar dan mana yang tidak benar atau hoax, termasuk menolak ajakan partai politik yang menggunakan isu agama dalam menjaring dukungan demi kemenangan partainya, serta jangan mudah terprovokasi dengan berita-berita yang belum tentu kebenarannya.

Untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, diperlukan peran serta seluruh komponen masyarakat, tokoh agama yang terutama adalah peran serta pemerintah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama ini, antara lain Kementerian Agama RI telah menyosialisasikan regulasi dan penguatan regulasi terkait Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KKB). Kemenag juga sedang menyiapkan RUU Perlindungan Umat Beragama (PUB) dengan melakukan pengembangan kemitraan, penelitian, dan pendampingan, termasuk saat terjadi masalah pada pemeluk keyakinan di luar enam agama yang resmi diakui negara.

Begitu juga dengan komitmen aparat keamanan terutama TNI untuk senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. telah menegaskan komitmennya terhadap toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang sesuai dengan semboyan bangsa  Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika, dengan memberikan pembekalan agama kepada prajurit TNI secara berkala.

"Prajurit TNI selalu diberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan mental dan sepiritual sebagai landasan keimananan dalam menjalankan tugas pokok menjaga keutuhan NKRI," ujar panglima TNI saat menerima tokoh agama di Cilangkap beberapa waktu yang lalu.

Perbedaan agama yang ada di masyarakat Indonesia tidak boleh menjadi hambatan untuk mewujudkan kehidupan yang  rukun dan damai. Kerukunan antar umat harus mengutamakan semangat kebersamaan, tetap saling menghormati persamaan hak dan kewajiban serta saling menghargai perbedaan dalam berkeyakinan yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 29 Tentang Kebebasan Beragama. Negara dalam hal ini menjamin dan melindungi kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama sesuai keyakinan dan kepercayaannya masing-masing.

Banyak contoh betapa masyarakat Indonesia itu sangat menghormati perbedaan, penuh kasih sayang dan saling menghargai pemeluk agama satu dengan yang lain. Kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh masing-masing agama selama ini dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar. Salah satunya adalah kegiatan aksi massa 212 di Jakarta yang diikuti oleh jutaan umat Islam yang sebelumnya diprediksi menimbulkan kerusuhan, namun dapat berjalan dengan tertib dan aman. Hal tersebut tidak lepas dari adanya sikap toleransi yang ditunjukkan oleh saudara-saudara kita yang beragama lain.

Untuk mewujudkan toleransi antar umat beragama di Indonesia setidaknya ada beberapa sikap dan tindakan yang perlu bersama-sama kita laksanakan yaitu, Pertama, mengembangkan sikap saling menghargai dan menerima adanya perbedaan. Kedua, menghormati kesetaraan antara pemeluk agama satu dengan yang lainnya dan memahami bahwa semua memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Ketiga,sesama warga negara harus mempunyai keinginan untuk saling melindungi dan menjaga dengan tidak memandang agama yang dianut. Agama mayoritas tidak boleh semena-mena terhadap minoritas. Begitupun sebaliknya sehingga akan terwujud sikap saling tolong menolong, kerjasama dan gotong royong yang tulus untuk membangun demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Keempat, dalam kehidupan berpolitik hendaknya elit politik tidak memanfaatkan isu agama untuk kepentingan kelompoknya, berikanlah program-program membangun yang dapat diterima oleh masyarakat.

Kita sadari bahwa dengan terciptanya kerukunan antar umat beragama menjadi pilar utama bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan, demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, hidup rukun dan damai. Selain itu dengan kerukunan antar umat beragama diharapkan akan mampu melahirkan kesadaran diri bahwa pada dasarnya manusia memang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan beraneka ragam dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.

Perlu diketahui, bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia di dunia kerukunan antar umat beragama merupakan penyumbang terbesar bagi terciptanya perdamaian di muka bumi. Akan tetapi karena pengetahuan dan kedewasaan sebagian masyarakat dalam memaknai toleransi umat beragama masih belum memadai, maka timbulah konflik-konflik antar manusia. Hal ini patut  menjadi perhatian kita terutama para pemuka agama agar memberikan pemahaman dan tauladan yang baik kepada umatnya tentang pentingnya toleransi antar umat beragama.

Jakarta,  Maret  2018
Editor: Herda

T#g:toleransi
iklan kaos garuda
Berita Terkait
  • Senin, 14 Mei 2018 03:14

    Prihatin Tragedi Bom di Surabaya, Sihar Ajak Jaga Pluralisme

    Cawagub Sumatera Utara Sihar Sitorus turut berduka dan mengutuk keras atas tragedi ledakan bom di sejumlah gereja di Kota Surabaya, Minggu (13/5/2018) pagi.

  • Jumat, 27 Apr 2018 09:17

    Sihar: Keberagaman Sumut Terbungkus Dalam Persaudaraan

    Pluralisme yang ada di Sumatera Utara, menjadikan provinsi ini tak menjadikan perbedaan sebuah jarak pemisah. Keberagaman adat istiadat dan suku di Sumut disatukan dalam sebuah ikatan persaudaraan. "S

  • Kamis, 26 Apr 2018 18:16

    Pergerakan Indonesia Gelar Dialog Interaktif Kawal Pilkada Serentak Dalam Bingkai Kebhinekaan

    Dewan Pengurus Provinsi Pergerakan Indonesia (DPP PI) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengawal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak dalam bingkai kebhinekaan suku, agama, RAS dan antar golongan.

  • Sabtu, 21 Apr 2018 11:41

    TNI-Polri Motivator Perekat Persatuan dan Kesatuan

    Eksistensi, kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipertaruhkan di pundak Prajurit TNI-Polri. Untuk itu, TNI dan Polri harus menjadi solusi dan motivator perekat persatuan dan kesatuan.

  • Rabu, 04 Apr 2018 06:34

    Djarot: Sumut Hidup Dalam Keberagaman

    Cagubsu Djarot Saiful Hidayat mendapat sambutan hangat dan meriah saat tiba di Dusun VIII, Desa Huta Padang, Kecamatan Bandar Pasir (BP) Mandoge, Kabupaten Asahan, Selasa (3/4/2018) sore.Tenda berwarn

  • Jumat, 23 Mar 2018 10:23

    Jangan ada etnis merasa terintimidasi, khususnya menjelang Pemilu

    Dalam konsep FPK (Forum Pembauran Kebangsaan), keberagaman adalah keniscayaan. Mengapa niscaya, karena itu adalah ketetapan Tuhan. Oleh karena itu jangan ada yang menghina umat agama atau etnis lain,

  • Rabu, 21 Mar 2018 19:31

    Sumut Institute dan UNPRI gelar diskusi terbuka, "Masyarakat Sumut Cinta Damai, Jaga Kebhinekaan dan Pluralisme"

    Secara umum, hubungan sosial kemasyarakatan di Sumatera Utara, khususnya antar etnis relatif baik, dibuktikan dengan bebasnya masyarakat minoritas untuk melaksanakan aktifitasnya sehari-hari. Namun, b

  • Minggu, 04 Mar 2018 11:34

    Di CFD Ada Deklarasi Toleransi Umat Beragama

    Aktifitas di Car Free Day di seputar Lapangan Merdeka Kota Medan terlihat berbeda hari ini, Minggu (4/3). Sekelompok pemuda yang mengatasnamakan dirinya sebagai Forum Komunikasi Cendekiawan Pemud

  • Minggu, 25 Feb 2018 20:15

    Sihar akan wujudkan keindahan keberagaman dalam tata kelola pemerintahan

    Keragaman suku, budaya dan agama yang dimiliki Sumatera Utara (Sumut) ternyata memberikan makna tersendiri bagi Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumut, Sihar Sitorus. Keragaman tersebut menurut Sih

  • Rabu, 21 Feb 2018 07:21

    Indonesia Bukan Hanya Milik Satu Golongan

    Sudah jadi pengetahuan umum, bahwa Indonesia menempati posisi peringkat ke 4 dengan penduduk terpadat atau terbanyak di dunia. Dan, di tahun 2018 Indonesia memiliki 262 juta penduduk yang menempati be

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak