Sabtu, 23 Sep 2017 07:04
  • Home
  • Opini
  • Karakter Propaganda dan Radikalisme Dunia Maya

Karakter Propaganda dan Radikalisme Dunia Maya

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Bento Ahmadi, Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia
Selasa, 11 Jul 2017 10:31
Dibaca: 214 kali
Ist
Ilustrasi
Berdasarkan Data Pusat Media Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang tidak dipublikasi, situs dan akun media sosial radikal melakukan sejumlah upaya untuk melancarkan bentuk propaganda kelompok mereka.

Umumnya, upaya propaganda yang mereka bangun selalu menyiratkan bahwa kelompok mereka merupakan golongan eksklusif dan memiliki pemahaman sebagai pihak yang paling benar. Sementara pihak lain yang tidak mendukung aksi mereka, dianggap telah keluar dari jalur agama dan layak disudutkan di media sosial. Seperti halnya beberapa aksi propaganda kelompok radikal yang terdeteksi melakukan teknik operasi di dunia maya.

Pertama, mendeskreditkan hingga menghancurkan reputasi para ulama yang dinilai tidak sejalan dengan pemikiran dan gagasan radikal dengan sejumlah fitnah dan tuduhan di dunia maya. Seperti halnya salah satu nama ulama besar di Indonesia yakni Quraish Shihab, Said Aqil Siradj, Mustofa Bisri dan lain-lain yang merupakan beberapa nama yang masuk dalam daftar pembunuhan karakter oleh kelompok radikal. Seperti halnya tuduhan Syiah, liberal, hingga tuduhan negatif lainnya yang intinya dinilai tidak islami. Padahal secara umum, reputasi mereka di mata umat Islam secara luas sudah tidak diragukan lagi.

Kedua, sikap saling mengkafirkan kepada kelompok lain (kelompok yang tidak sejalan dengan kelompok-kelompok radikal). Dari segi pola pikir sejatinya sikap seperti itu bukan barang baru di dunia Islam. Di masa awal perkembangan peradaban Islam, sesaat setelah mangkatnya Nabi, muncul sebuah kelompok radikal atau yang saat ini dikenal sebagai kelompok Khawarij, datang dengan sebuah gagasan ekstrim perihal agama dan menganggap kelompok-kelompok di luar mereka sebagai kafir. Bahkan hal yang paling parah, mereka tidak segan-segan melakukan eksekusi secara lugas dan main hakim sendiri. 

Ketiga, tidak hanya umat seagama yang menjadi target kebencian kelompok khawarij, namun demikian, umat agama lain acapkali dianggap sebagai sumber malapetaka di muka bumi. Kesesatan umat lain karena tidak mau menyembah Tuhan yang satu. Permusuhan terhadap agama lain terus dan selalu dikembangkan oleh kelompok radikal.

Keempat, setelah berhasil membentuk semangat juang dan perlawanan sasaran berikutnya adalah ajakan melawan pemerintah dan antek-anteknya yang dianggap zalim. Perlawanan terhadap kezaliman ini mereka kategorikan sebagai perang suci alias jihad dengan alasan akan mendapatkan surga di kemudian hari. Pemerintah yang dinilai tidak mendukung radikalisme, menurut mereka merupakan kaum yang harus dimusnahkan dan diganti dengan pemerintahan yang pro terhadap kekerasan (sejalan dengan mereka).

Kelima, kelompok radikal selalu menurunkan materi tentang ketertindasan umat islam di dunia. Umat Islam dalam propaganda mereka selalu ditempatkan sebagai kelompok marjinal dan tertindas. Adapun tujuan memarjinalisasikan Islam dalam propaganda adalah untuk menumbuhkan semangat juang dan perlawanan.

Keenam, propaganda juga dilakukan dengan cara merilis gambar, foto, video, meme, hingga seruan-seruan dalam bentuk rilisan secara umum atau go public. Materi visual dan audio inilah yang dishare atau disebar ke banyak media. Materi ini pula yang mengandung slogan dan jargon radikalisme. Dengan tersebarnya audio dan video tersebut, besar harapan dapat menarik respon dan pandangan masyarakat awam hingga diterima dengan mudah oleh kalangan masyarakat.

Ketujuh, upaya kampanye sikap permusuhan kepada negara-negara barat yang dianggap terus melukai dan membantai umat Islam. Barat dalam hal ini acapkali menjadi sasaran empuk kelompok radikal lantaran rasa dendam sejarah di masa lampau yang konon masih membekas. Sikap fobia dan diskriminasi barat terhadap Islam selalu dibesar-besarkan hingga menciptakan perlawanan dan membangkitkan rasa ketertindasan umat.

Tak sedikit dari ketujuh fakta di atas dapat kita temui dewasa ini di beberapa kelompok yang mendengungkan semangat juang ekstrimis dan radikal. Meskipun dengan kriteria tersebut kita tidak dapat melabel suatu kelompok secara gamblang, namun demikian, melalui ketujuh kriteria tersebut, kita selaku masyarakat yang cerdas harus paham dan pintar dalam bersikap, pintar dalam memfilter, dan pintar dalam mengadopsi segala macam informasi yang berkembang di dunia maya maupun dunia nyata. 

Mari lindungi Indonesia dari hagemoni kelompok radikal dan ekstrimis.

Editor: Sam

T#g:KafirmedsospropagandaRadikal
Berita Terkait
  • Senin, 04 Sep 2017 11:54

    Aiptu O. Daeli, PS. Kanit Binmas Polsek Sirombu, diberi penghargaan

    Salah Seorang dari 16 Personil Polres Nias yang mendapat Reward/Penghargaan dari Kapolres Nias adalah Aiptu O. Daeli Ps. Kanit Binmas Polsek Sirombu yang juga Mantan Ps. Paur Humas Polres Nias.Aiptu O

  • Kamis, 31 Agu 2017 11:41

    Radikalisme dalam Spektrum Politik

    Radikalisme dan deradikalisasi merupakan dua istilah politik yang muncul dalam penanganan gerakan terorisme saat ini.

  • Sabtu, 19 Agu 2017 09:09

    Pengajar di Pesantren ini lampiaskan kebencian pada NKRI dengan membakar Merah Putih

    Aparat Kepolisian dari Polres Bogor, Jawa Barat, mengamankan seorang pria berinisial MS, 25 tahun, karena melakukan pembakaran umbul-umbul merah putih HUT Kemerdekaan RI ke-72, di Kecamatan Tamansari, Kamis (17/8/2017).

  • Selasa, 01 Agu 2017 20:21

    Grup Facebook K2AM Rayakan HUT Ke-8

    Hari ini 1 Agustus 2017, genap sudah Delapan tahun usia grup Koyok-Koyok Anak Medan (K2AM). Grup yang berada di media sosial Facebook ini tetap eksis dan terjaga kekompakannya walaupun dihuni oleh ber

  • Minggu, 23 Jul 2017 10:43

    Distorsi Opini Ala HTI

    Nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) akhir-akhir ini sering terdengar di berbagai media massa maupun media sosial.

  • Senin, 17 Jul 2017 18:27

    Ini Kegunaan Internet Untuk Teroris

    Masih lemahnya upaya kontrol dan pengawasan secara masif dan komprehensif dari pemerintah terkait tindak terorrisme di internet, seringkali dimanfaatkan oleh beberapa kelompok radikal dan ekstrimis tidak hanya pada sarana prasarana propaganda.

  • Kamis, 13 Jul 2017 08:53

    Bertemu Irjen Paulus Waterpauw, ini yang disampaikan Kelompok Cipayung Plus

    Dukungan pada Polri terus mengalir dari sejumlah elemen masyarakat. Kali ini elemen mahasiswa memberi dukungan pada Polri melalui Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw.

  • Senin, 26 Jun 2017 06:16

    Medsos berisi foto syur SPG Samarinda belum diblokir

    MK diduga tak akan bisa lagi meng-upload foto-foto syur dirinya. Ia telah diamankan polisi pekan lalu. Namun, ternyata siapa saja masih bisa melihat kemolekan tubuh mantan sales promotion girl (SPG) p

  • Senin, 19 Jun 2017 08:39

    Tengku Erry Ajak Masyarakat Santun Menggunakan Medsos

    Gubsu Tengku Erry Nuradi mengajak masyarakat untuk cerdas, bijak dan santun menggunakan media sosial (medsos).

  • Sabtu, 17 Jun 2017 14:07

    Bupati Himbau Para Pejabat Hati-Hati Gunakan Medsos

    Foto dan video syur istri pejabat yang beredar luas di media sosial menjadi perhatian Bupati Jembrana I Putu Artha. Apalagi ini merupakan yang kedua kali terjadi dengan unsur pemerasan. Orang nomor sa

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2017 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak