Selasa, 17 Jul 2018 22:34
  • Home
  • Opini
  • Karakter Propaganda dan Radikalisme Dunia Maya

Karakter Propaganda dan Radikalisme Dunia Maya

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Bento Ahmadi, Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia
Selasa, 11 Jul 2017 10:31
Ist
Ilustrasi
Berdasarkan Data Pusat Media Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang tidak dipublikasi, situs dan akun media sosial radikal melakukan sejumlah upaya untuk melancarkan bentuk propaganda kelompok mereka.

Umumnya, upaya propaganda yang mereka bangun selalu menyiratkan bahwa kelompok mereka merupakan golongan eksklusif dan memiliki pemahaman sebagai pihak yang paling benar. Sementara pihak lain yang tidak mendukung aksi mereka, dianggap telah keluar dari jalur agama dan layak disudutkan di media sosial. Seperti halnya beberapa aksi propaganda kelompok radikal yang terdeteksi melakukan teknik operasi di dunia maya.

Pertama, mendeskreditkan hingga menghancurkan reputasi para ulama yang dinilai tidak sejalan dengan pemikiran dan gagasan radikal dengan sejumlah fitnah dan tuduhan di dunia maya. Seperti halnya salah satu nama ulama besar di Indonesia yakni Quraish Shihab, Said Aqil Siradj, Mustofa Bisri dan lain-lain yang merupakan beberapa nama yang masuk dalam daftar pembunuhan karakter oleh kelompok radikal. Seperti halnya tuduhan Syiah, liberal, hingga tuduhan negatif lainnya yang intinya dinilai tidak islami. Padahal secara umum, reputasi mereka di mata umat Islam secara luas sudah tidak diragukan lagi.

Kedua, sikap saling mengkafirkan kepada kelompok lain (kelompok yang tidak sejalan dengan kelompok-kelompok radikal). Dari segi pola pikir sejatinya sikap seperti itu bukan barang baru di dunia Islam. Di masa awal perkembangan peradaban Islam, sesaat setelah mangkatnya Nabi, muncul sebuah kelompok radikal atau yang saat ini dikenal sebagai kelompok Khawarij, datang dengan sebuah gagasan ekstrim perihal agama dan menganggap kelompok-kelompok di luar mereka sebagai kafir. Bahkan hal yang paling parah, mereka tidak segan-segan melakukan eksekusi secara lugas dan main hakim sendiri. 

Ketiga, tidak hanya umat seagama yang menjadi target kebencian kelompok khawarij, namun demikian, umat agama lain acapkali dianggap sebagai sumber malapetaka di muka bumi. Kesesatan umat lain karena tidak mau menyembah Tuhan yang satu. Permusuhan terhadap agama lain terus dan selalu dikembangkan oleh kelompok radikal.

Keempat, setelah berhasil membentuk semangat juang dan perlawanan sasaran berikutnya adalah ajakan melawan pemerintah dan antek-anteknya yang dianggap zalim. Perlawanan terhadap kezaliman ini mereka kategorikan sebagai perang suci alias jihad dengan alasan akan mendapatkan surga di kemudian hari. Pemerintah yang dinilai tidak mendukung radikalisme, menurut mereka merupakan kaum yang harus dimusnahkan dan diganti dengan pemerintahan yang pro terhadap kekerasan (sejalan dengan mereka).

Kelima, kelompok radikal selalu menurunkan materi tentang ketertindasan umat islam di dunia. Umat Islam dalam propaganda mereka selalu ditempatkan sebagai kelompok marjinal dan tertindas. Adapun tujuan memarjinalisasikan Islam dalam propaganda adalah untuk menumbuhkan semangat juang dan perlawanan.

Keenam, propaganda juga dilakukan dengan cara merilis gambar, foto, video, meme, hingga seruan-seruan dalam bentuk rilisan secara umum atau go public. Materi visual dan audio inilah yang dishare atau disebar ke banyak media. Materi ini pula yang mengandung slogan dan jargon radikalisme. Dengan tersebarnya audio dan video tersebut, besar harapan dapat menarik respon dan pandangan masyarakat awam hingga diterima dengan mudah oleh kalangan masyarakat.

Ketujuh, upaya kampanye sikap permusuhan kepada negara-negara barat yang dianggap terus melukai dan membantai umat Islam. Barat dalam hal ini acapkali menjadi sasaran empuk kelompok radikal lantaran rasa dendam sejarah di masa lampau yang konon masih membekas. Sikap fobia dan diskriminasi barat terhadap Islam selalu dibesar-besarkan hingga menciptakan perlawanan dan membangkitkan rasa ketertindasan umat.

Tak sedikit dari ketujuh fakta di atas dapat kita temui dewasa ini di beberapa kelompok yang mendengungkan semangat juang ekstrimis dan radikal. Meskipun dengan kriteria tersebut kita tidak dapat melabel suatu kelompok secara gamblang, namun demikian, melalui ketujuh kriteria tersebut, kita selaku masyarakat yang cerdas harus paham dan pintar dalam bersikap, pintar dalam memfilter, dan pintar dalam mengadopsi segala macam informasi yang berkembang di dunia maya maupun dunia nyata. 

Mari lindungi Indonesia dari hagemoni kelompok radikal dan ekstrimis.

Editor: Sam

T#g:KafirmedsospropagandaRadikal
Berita Terkait
  • Minggu, 24 Jun 2018 12:54

    Komunikonten Gelar Diskusi Strategi Mempromosikan Wasatiyah Islam Lewat Diplomasi Media Sosial

    Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi) akan mengadakan diskusi bertema, "Strategi Mempromosikan Wasatiyah Islam Lewat Diplomasi Media Sosial," pada Selasa 26 Juni 2018, pukul 13.30 sampai

  • Jumat, 15 Jun 2018 16:05

    Tertangkap Kamera Netizen di Labura, Mobil Gendong Keranda Mayat

    Mudik di saat menjelang datangnya Libur Lebaran, Hari Raya Idul Fitri memang punya nuansa cerita tersendiri.

  • Kamis, 14 Jun 2018 06:54

    Konten Politik Saat Libur Lebaran

    Libur lebaran adalah waktu yang tepat untuk memproduksi, menyebarkan berbagai konten (tulisan, video, infografis, dll). Itulah mengapa para produser film berebut agar film mereka tayang di bioskop saa

  • Jumat, 08 Jun 2018 16:48

    Staf Khusus Menrisetdikti: Tidak Ada Radikalisme dari Kampus

    Tidak ada radikalisme dari kampus, yang ada, orang-orang berpikir radikal masuk ke kampus-kampus mencari teman untuk menyamakan pemahaman tersebut.

  • Jumat, 08 Jun 2018 04:08

    Panglima TNI: Radikalisme Berujung Pada Tindakan Terorisme

    Selaku umat Islam dan bagian dari bangsa yang besar, sebagai warga negara Indonesia harus menyadari adanya radikalisme di sekitar kita. Radikalisme ini berawal dari pemahaman yang salah, yang kemudian

  • Selasa, 05 Jun 2018 01:05

    Radikalisme Dapat Dicegah Melalui Kepedulian Masyarakat

    Radikalisme dapat dicegah melalui kepedulian warga masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya dan mau membuka wawasan serta mengembangkan cara berpikir dengan seluas-luasnya, karena didalam Al Qur&acir

  • Kamis, 31 Mei 2018 08:31

    HIMMAH Tebing Tinggi Ajak Generasi Muda Perangi Terorisme

    Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) Kota Tebing Tinggi mengajak generasi muda untuk berperan aktif perangi aksi terorisme di Indonesia.

  • Sabtu, 28 Apr 2018 20:18

    BIN: 3 Universitas Diawasi Khusus Terkait Penyebaran Radikalisme

    Badan Intelejen Negara (BIN) mengungkap 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal. Bahkan 3 universitas menjadi perhatian khusus karena bisa menjadi basis penyebaran paham radikal.

  • Rabu, 11 Apr 2018 20:11

    Walikota Buka Diskusi Menjaga Kerukunan dan Antisipasi Ujaran Kebencian SARA di Medsos

    Walikota Tebing Tinggi Ir.H.Umar Zunaidi Hasibuan, MM membuka resmi kegiatan menjaga kerukunan dan antisipasi ujaran kebencian SARA di media sosial, Selasa (10/4) bertempat di Aula Kemenag Kota Tebing Tinggi.

  • Sabtu, 24 Feb 2018 17:24

    KNPI Tebing Tinggi Laksanakan Diskusi Deradikalisasi

    Komite Nasional Pemuda Indonesia Kota Tebing Tinggi melaksanakan diskusi kebangsaan pemuda, Sabtu (24/2), di salah satu cafe di KotaTebing Tinggi. Kegiatan itu mengangkat tema  "Menumbuhkan

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak