Jumat, 16 Nov 2018 09:12
HUT Pemkab Labuhanbatu
  • Home
  • Opini
  • Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

Medan (utamanews.com)
Oleh: Teguh Wibowo, Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)
Jumat, 18 Mei 2018 15:18
Twitter/Birgaldo S.
2 anak ini menjadi korban ledakan bom pelaku terorisme di gerejanya di Surabaya
Setelah aksi penyanderaan di Markas Komando Brigade Mobil (MAKO) Brimob di Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) lalu, teror kembali terjadi dua hari berturut-turut. Kali ini teror dilakukan di Kota Surabaya, serangan bom bunuh diri di tiga gereja pada Minggu (13/5) pagi. Para teroris juga melancarkan aksinya di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya pada, Senin (14/5) pagi serta di Polda Riau, Rabu (16/5).

Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel pada pukul 06.30 WIB. Lantas bom kedua meletup di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro pukul 07.15 WIB, disusul serangan bom ketiga di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, Surabaya pada pukul 07.53 WIB.

Serangan ini dilakukan ketika jemaat sedang melakukan misa Minggu pagi. Menurut keterangan polisi sampai saat ini jumlah korban meninggal dunia sudah 13 orang enam di antara pelaku teror. Sementara ada 41 orang luka-luka dalam tragedi yang memilukan ini.



Teror ini terkesan brutal dan sporadis tapi dapat diketahui bahwa targetnya satu tempat. Surabaya dan daerah sekitarnya menjadi sasaran para teroris kali ini. Belum diketahui alasan pastinya. Yang baru dipastikan Surabaya tidak akan tumbang dan takut dengan teror ini. Kota terbesar di Indonesia tersebut sudah hapal bagaimana rasanya diserang.

Seperti yang telah diketahui Belanda pernah menyerang Surabaya pada agresi militer I. Pada Oktober dan November 1945 Belanda habis-habisan menyerang Surabaya. Ketika itu Inggris juga mengirimkan banyak pasukan untuk melucuti senjata Jepang yang sudah menyerah.

Rakyat Surabaya melakukan perlawanan dan sejarah mencatat peristiwa 10 November tersebut menjadi hari Pahlawan Indonesia. Dari sejarah kita semua tahu Surabaya tidak akan pernah goyah dengan gertakkan teror seperti ini.

Kepolisian Republik Indonesia pun sebenarnya sudah mengetahui jaringan dan sel-sel teroris. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (KaPolri) Jenderal Tito Karnavian sudah mampu memberikan penjelasan motif pelaku teror kali ini.

Menurut Tito pelaku pengeboman di tiga gereja di Surabaya merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid atau (JAT). Kelompok tersebut merupakan pendukung utama ISIS yang ada di Indonesia. "JAT ini didirikan dan dipimpin oleh Aman Abdurrahman yang sekarang ditahan di Mako Brimob. Kemudian kelompok yang satu keluarga ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya. Ini adalah ketuanya Dita ini," ujar Tito, seperti dilansir dari Republika.  

Polisi sudah mengetahui bagaimana jaringan teroris ini berkerja serta siapa saja otak di balik penyerangan ini. Tapi mereka kesulitan melakukan tindakan karena revisi Rancangan Undang-undang Terorisme belum selesai di DPR.

"Karena kami tahu sel-sel mereka, tapi kami tidak bisa menindak kalau mereka tidak melakukan aksi," kata Tito saat jumpa pers bom Surabaya di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, Ahad, 13 Mei 2018.

Tito pun berharap revisi RUU Terorisme dapat segera diselesaikan. Presiden Joko Widodo juga sudah mengatakan akan menerbitkan Peraturan Perundang-undangan (Perppu) Tindak Pidana Terorisme apabila DPR tak juga merampungkan pembahasan Revisi UU Terorisme hingga bulan depan. "Kalau Juni pada akhir masa sidang belum selesai saya akan keluarkan Perppu," kata Jokowi di JIExpo, Senin (14/5) pagi.

Pemerintah bergerak cepat dengan melakukan berbagai langkah penangkap dan antisipasi. Karena itu yang diperlukan saat ini ketenangan masyarakat untuk mampu menjaga persatuan dan kerukunan antar umat beragama. Sebab tidak menutup kemungkinan aksi-aksi yang dilakukan para teroris dua hari terakhir ini untuk mengganggu dan meruskan harmonisasi kerukanan umat beragama di Indonesia.

Kelompok teroris ini melakukan serangan ke rumah ibadah yang menjadi simbol agama. Jika harmonisasi kerukanan beragama memudar maka seluruh sektor dan lapisan Indonesia sebagai negara pun akan goyah.

Oleh sebab itu serangan teror dua hari berturut-turut ini seharusnya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk bisa kembali bersatu. Karena saat ini seluruh elemen bangsa Indonesia baik rakyat maupun pemerintah memiliki satu musuh bersama, yakni teroris. Dengan adanya satu musuh bersama tersebut maka tujuan berbangsa menjadi jelas yaitu menjaga hormanisasi kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Editor: Sam

T#g:isisteroris
iklan kaos garuda
Berita Terkait
  • Jumat, 09 Nov 2018 10:49

    Kebutaan Di Balik Aksi 211

    Dampak dari kejadian hari santri yang diselenggarakan oleh Ormas Islam di Garut pada 22 Oktober 2018 lalu, berujung panjang hingga adanya Aksi Bela Tauhid 211. Aksi membela kalimat Tauhid dipelopori o

  • Kamis, 16 Agu 2018 04:26

    Persiapan Pengamanan Jelang Asian Games 2018

    Asian Games merupakan salah satu agenda besar yang saat ini sedang dipersiapkan oleh Indonesia. Pasalnya, Indonesia akan menjadi tuan rumah dari even berskala Internasional tersebut. Tepatnya berada d

  • Kamis, 02 Agu 2018 00:02

    Simulasi Penanggulangan Teror Bukti Kesiapan Satuan Gultor TNI

    Dalam waktu dekat ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian Games baik di Jakarta maupun di Palembang. Satuan Penanggulangan Teror (Sat Gultor) memandang perlu untuk melakukan latihan d

  • Selasa, 17 Jul 2018 13:17

    Panglima TNI: Cyber Narcoterorism Gunakan Dunia Maya Biayai Terorisme

    Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, telah muncul kelompok baru yaitu "Cyber Narcoterorism" yaitu kelompok yang menggunakan dunia maya sebagai wahana untuk mengedarkan dan menya

  • Selasa, 10 Jul 2018 17:10

    Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

    Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara. Aksinya dapat terjadi di negara mana saja yang mereka targetkan, tidak terkecuali di negara Indonesia tercinta.

  • Jumat, 08 Jun 2018 04:08

    Panglima TNI: Radikalisme Berujung Pada Tindakan Terorisme

    Selaku umat Islam dan bagian dari bangsa yang besar, sebagai warga negara Indonesia harus menyadari adanya radikalisme di sekitar kita. Radikalisme ini berawal dari pemahaman yang salah, yang kemudian

  • Minggu, 03 Jun 2018 08:33

    Rektor Tak Sangka Ada Teroris Di Kampus Unri

    Prof. Dr Aras Mulyadi, Rektor Universitas Riau (Unri), sangat tidak menduga adanya tindakan terkait teror di kampus universitas negeri di Kota Pekanbaru, Riau itu."Universitas Riau sangat menyayangkan

  • Kamis, 31 Mei 2018 13:31

    Pancasila Menyatukan Keberagaman Kita

    Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai banyak bahasa, budaya, suku ,kepercayaan dan semua itu disatukan oleh Pancasila sebagai pendoman bagi warga negara Indonesia dengan semboyannya adalah

  • Selasa, 29 Mei 2018 01:29

    BEM NUS Dukung Kapolri & BIN Berantas Terorisme Sampai ke Akarnya

    Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEM-NUS) Wilayah Sumatera meminta dan mendukung langkah Kapolri dan BIN untuk memberantas teroris hingga ke akarnya.Hal ini disampaikan Kordinator BEM NUS Wilayah

  • Minggu, 27 Mei 2018 14:27

    Bersatu Melawan Aksi Terorisme

    Terorisme identik dengan kekerasan. Tindakan teroris menyebabkan keresahan, rasa takut di tengah masyarakat, melukai atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan orang lain dengan tujuan tert

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak