Selasa, 22 Mei 2018 18:49
  • Home
  • Opini
  • Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

Insiden Surabaya, Momentum Bangsa Indonesia Untuk Memiliki Satu Musuh Bersama

Medan (utamanews.com)
Oleh: Teguh Wibowo, Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)
Jumat, 18 Mei 2018 15:18
Twitter/Birgaldo S.
2 anak ini menjadi korban ledakan bom pelaku terorisme di gerejanya di Surabaya
Setelah aksi penyanderaan di Markas Komando Brigade Mobil (MAKO) Brimob di Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) lalu, teror kembali terjadi dua hari berturut-turut. Kali ini teror dilakukan di Kota Surabaya, serangan bom bunuh diri di tiga gereja pada Minggu (13/5) pagi. Para teroris juga melancarkan aksinya di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya pada, Senin (14/5) pagi serta di Polda Riau, Rabu (16/5).

Bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel pada pukul 06.30 WIB. Lantas bom kedua meletup di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro pukul 07.15 WIB, disusul serangan bom ketiga di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, Surabaya pada pukul 07.53 WIB.

Serangan ini dilakukan ketika jemaat sedang melakukan misa Minggu pagi. Menurut keterangan polisi sampai saat ini jumlah korban meninggal dunia sudah 13 orang enam di antara pelaku teror. Sementara ada 41 orang luka-luka dalam tragedi yang memilukan ini.



Teror ini terkesan brutal dan sporadis tapi dapat diketahui bahwa targetnya satu tempat. Surabaya dan daerah sekitarnya menjadi sasaran para teroris kali ini. Belum diketahui alasan pastinya. Yang baru dipastikan Surabaya tidak akan tumbang dan takut dengan teror ini. Kota terbesar di Indonesia tersebut sudah hapal bagaimana rasanya diserang.

Seperti yang telah diketahui Belanda pernah menyerang Surabaya pada agresi militer I. Pada Oktober dan November 1945 Belanda habis-habisan menyerang Surabaya. Ketika itu Inggris juga mengirimkan banyak pasukan untuk melucuti senjata Jepang yang sudah menyerah.

Rakyat Surabaya melakukan perlawanan dan sejarah mencatat peristiwa 10 November tersebut menjadi hari Pahlawan Indonesia. Dari sejarah kita semua tahu Surabaya tidak akan pernah goyah dengan gertakkan teror seperti ini.

Kepolisian Republik Indonesia pun sebenarnya sudah mengetahui jaringan dan sel-sel teroris. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (KaPolri) Jenderal Tito Karnavian sudah mampu memberikan penjelasan motif pelaku teror kali ini.

Menurut Tito pelaku pengeboman di tiga gereja di Surabaya merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid atau (JAT). Kelompok tersebut merupakan pendukung utama ISIS yang ada di Indonesia. "JAT ini didirikan dan dipimpin oleh Aman Abdurrahman yang sekarang ditahan di Mako Brimob. Kemudian kelompok yang satu keluarga ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya. Ini adalah ketuanya Dita ini," ujar Tito, seperti dilansir dari Republika.  

Polisi sudah mengetahui bagaimana jaringan teroris ini berkerja serta siapa saja otak di balik penyerangan ini. Tapi mereka kesulitan melakukan tindakan karena revisi Rancangan Undang-undang Terorisme belum selesai di DPR.

"Karena kami tahu sel-sel mereka, tapi kami tidak bisa menindak kalau mereka tidak melakukan aksi," kata Tito saat jumpa pers bom Surabaya di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, Ahad, 13 Mei 2018.

Tito pun berharap revisi RUU Terorisme dapat segera diselesaikan. Presiden Joko Widodo juga sudah mengatakan akan menerbitkan Peraturan Perundang-undangan (Perppu) Tindak Pidana Terorisme apabila DPR tak juga merampungkan pembahasan Revisi UU Terorisme hingga bulan depan. "Kalau Juni pada akhir masa sidang belum selesai saya akan keluarkan Perppu," kata Jokowi di JIExpo, Senin (14/5) pagi.

Pemerintah bergerak cepat dengan melakukan berbagai langkah penangkap dan antisipasi. Karena itu yang diperlukan saat ini ketenangan masyarakat untuk mampu menjaga persatuan dan kerukunan antar umat beragama. Sebab tidak menutup kemungkinan aksi-aksi yang dilakukan para teroris dua hari terakhir ini untuk mengganggu dan meruskan harmonisasi kerukanan umat beragama di Indonesia.

Kelompok teroris ini melakukan serangan ke rumah ibadah yang menjadi simbol agama. Jika harmonisasi kerukanan beragama memudar maka seluruh sektor dan lapisan Indonesia sebagai negara pun akan goyah.

Oleh sebab itu serangan teror dua hari berturut-turut ini seharusnya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk bisa kembali bersatu. Karena saat ini seluruh elemen bangsa Indonesia baik rakyat maupun pemerintah memiliki satu musuh bersama, yakni teroris. Dengan adanya satu musuh bersama tersebut maka tujuan berbangsa menjadi jelas yaitu menjaga hormanisasi kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Editor: Sam

T#g:isisteroris
Berita Terkait
  • Kamis, 17 Mei 2018 15:17

    Teror Bom Surabaya dan Urgensi Revisi UU Terorisme

    Setelah kasus serangan narapadina terorisme di Mako Brimob, berita tentang terorisme datang dari Surabaya. Publik digegerkan dengan aksi satu keluarga yang meledakkan bom bunuh diri di tiga gereja. Mi

  • Rabu, 16 Mei 2018 15:16

    Kondisi Polisi Korban Samurai Teroris Mulai Membaik

    Anggota Polri Riau yang kepalanya terkena samurai teroris tadi pagi, Kompol Farid Abdullah, telah selesai menjalani operasi di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau dan kondisinya sudah stabil dan terus

  • Rabu, 16 Mei 2018 02:16

    Tetap Tenang Menghadapi Aksi Terorisme

    Kejadian Terorsime di Indonesia saat ini menjadi sangat kritis, Pasca serangan di Mako Brimob Kelapa Dua minggu lalu, kemarin, teror kembali terjadi diSurabaya. Ledakan yang diduga bom bunuh diri di S

  • Minggu, 13 Mei 2018 22:03

    Teroris: Kita Tidak Takut!

    Pasca aksi teroris di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Indonesia kembali berduka. Puluhan orang yang akan mengikuti ibadah pagi ini menjadi korban kebiadaban teroris. Tetes darah dan air mata anak bangsa

  • Minggu, 13 Mei 2018 17:33

    AM Hendropriyono: Singkirkan Semua Bualan Tentang HAM Teroris!

    Masyarakat jangan panik. Kekuatan mereka yang seperti puncak gunung Krakatau ini berpotensi meletus lagi, tapi Polri dan TNI akan mampu meredamnya. Program deradikalisasi yang sudah jalan, sudah

  • Kamis, 10 Mei 2018 20:30

    PascaKerusuhan di Mako Brimob Depok, Kapoldasu Ingatkan Polres Deliserdang Siaga

    Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Paulus Waterpauw meninjau Polres Deliserdang pada Rabu (9/5/2018) sekira pukul 23.45 Wib.

  • Kamis, 10 Mei 2018 15:40

    5 Polisi Tewas Diserang Teroris, Negara Sampaikan Bela Sungkawa

    Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) memberikan kenaikan pangkat luar biasa kepada lima prajurit Polri yang gugur dalam insiden penyerangan di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua."Saya juga tel

  • Kamis, 25 Jan 2018 10:45

    Panglima TNI: Penanggulangan Terorisme Demi Keutuhan NKRI

    Sesuai UU TNI Nomor 34 tahun 2004 Pasal 7 Ayat (2) menjelaskan bahwa Tugas Pokok TNI melaksanakan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang di dalamnya tertera b

  • Senin, 11 Des 2017 19:01

    Densus Tangkap 4 Terduga Teroris dari Riau

    Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88 AT) Kepolisian Republik Indonesia melakukan penangkapan terhadap empat terduga teroris di berbagai wilayah di Provinsi Riau.Kepala Bidang Hubungan Masyarakat

  • Sabtu, 09 Des 2017 16:29

    Seorang terduga teroris ditangkap Densus 88 di Surabaya

    Tim Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menangkap seorang terduga teroris di Jalan Ampel Kembang Nomor 25 Surabaya, Sabtu, (9/12/2017).Kapolres Pelabuhan Tanju

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak