Sabtu, 21 Jul 2018 22:22

Bersatu Melawan Aksi Terorisme

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Mayor Suwandi, Pasilakpin Bidpenum Puspen TNI
Minggu, 27 Mei 2018 14:27
Dok Pribadi
Mayor Suwandi
Terorisme identik dengan kekerasan. Tindakan teroris menyebabkan keresahan, rasa takut di tengah masyarakat, melukai atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan orang lain dengan tujuan tertentu. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Mereka memanfaatkan media massa untuk mengekpos aksi teror yang mereka lakukan guna menunjukan eksistensi perjuangannya. Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara yang dapat terjadi di negara manapun, tidak terkecuali di negara Indonesia tercinta.

Indonesia menjadi sasaran empuk bagi teroris untuk melaksanakan aksinya, tercatat dari rentang waktu tahun 2000 hingga 2018 sudah banyak Bom meledak di Indonesia, antara lain bom Bursa Efek Jakarta tahun 2000, Plaza Atrium 2001, hotel JW. Mariot 2003, di depan Kedutaan Australia 2004 dan bom Bali tahun 2005. Kejadian terakhir yang baru-baru ini terjadi yaitu serangan teror bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya, Markas Polrestabes Surabaya, penyerangan di Polda Riau dan ledakan bom rakitan di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur.  

Kejadian tersebut sangatlah memprihatinkan kita semua, banyak korban dari masyarakat yang tidak bersalah, dari data kepolisian menyebutkan, total korban tewas ada 25 orang baik dari terduga pelaku maupun warga. Jumlah korban tewas tersebut terdiri dari 18 orang di tiga gereja, di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo tiga orang dan korban tewas bom bunuh diri empat orang di Poltabes Surabaya. Selain itu ada tiga orang yang ditembak petugas saat penyergapan. Sementara korban luka-luka baik dari warga masyarakat maupun petugas kepolisian berjumlah 57 orang dan kejadian tersebut menjadi head line media nasional maupun luar negeri.



Para pelaku teror menurut pihak kepolisian terindikasi sebagai sel-sel kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) atau Jamaah Ansharut Tauhid yang merupakan kelompok teroris sel ISIS di Indonesia. Selama ini, mereka mengklaim bahwa kegiatan yang mereka lakukan berjihad atas nama agama, mereka menyebut semua pihak yang diserang adalah sebagai kaum kafir. Tak cuma membunuh, kelompok ini juga sering melakukan propaganda seolah-olah apa yang mereka lakukan ada dalam ajaran agama Islam. Padahal, paham yang mereka anut bertolak belakang dengan ajaran Islam yang sebenarnya, Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan keadilan, Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin.

Kegiatan teroris di Indonesia saat ini sudah terlihat sangat nyata, terstruktur mereka terus bergerak membuat jaring dan sel-sel baru dengan merekrut anak-anak muda sebagai anggota. Mereka mendoktrin siap mati membela agama dengan dasar dalil-dalil yang disalah artikan, membenarkan kekerasan, menyerang membabi buta bahkan tidak ragu-ragu mengorbankan sanak keluarga dalam mencapai tujuan perjuangannya. Kalau hal ini tidak segera ditangani dengan tuntas maka dampaknya akan mengancam kerukunan antar umat beragama dan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Dengan berkembangnya aksi terorisme di Indonesia yang semakin komplek tersebut aparat penegak hukum perlu miliki kewenangan yang cukup jelas, sehingga bisa mendeteksi, mencegah dan menggagalkan serangan teroris sejak dini. Kewenangan penindakan terhadap aksi terorisme tidak bisa dibebankan pada Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) saja namun perlu peran serta seluruh komponen bangsa termasuk TNI.

Terkait pelibatan TNI dalam menangani aksi terorisme, perlu adanya payung hukum yang jelas, revisi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang saat ini dibahas oleh DPR harus mengatur dengan jelas wewenang TNI agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya di lapangan.

Keterlibatan TNI dalam menanggulangi aksi terorisme sejalan dengan peran dan fungsi TNI sesuai UU TNI Nomor 34 tahun 2004. Dalam pelaksanaannya TNI akan membentuk Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) yang saat ini dalam proses pengajuan Peraturan Pemerintah sebagai payung hukumnya. Selanjutnya untuk menguatkan pembentukan Koopsusgab tersebut Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. akan mendorong pemerintah untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah tersebut.

"Sehingga apa yang kita inginkan nanti dalam tindakan untuk menanggulangi aksi terorisme dengan satuan khusus ini benar-benar bisa efektif dan payung hukum yang tepat," ujar Panglima TNI saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi I DPR RI.

Panglima TNI menjelaskan bahwa sebelum ada Peraturan Pemerintah, TNI memiliki MoU dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam rangka Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, dimana TNI mem-BKO-kan anggotanya untuk menjaga keamanan, khususnya masyarakat luas.

"MoU tersebut adalah payung perbantuan TNI kepada Polri, sehingga apabila diperlukan saat ini dalam menanggulangi aksi teroris, TNI bisa mem-BKO Pasukan Khusus TNI di dalam kekuatan Kepolisian," ungkapnya.

Di dalam menangani aksi terorisme di Indonesia perlu adanya tindakan yang tegas, total dan berkelanjutan, namun tetap mengutamakan upaya pencegahan dari pada penindakan dan berpedoman pada nilai-nilai Hak Asasi Manusia, sehingga tidak timbul ekses yang tidak kita inginkan dikemudian hari.

Masyarakat berharap dengan disahkannya revisi undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme tersebut peran TNI dapat dilaksanakan secara optimal dan efektif untuk mencegah dan menindak jaringan teroris di Indonesia hingga tuntas.



Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam menanggulangi aksi terorisme di Indonesia antara lain:  

Pertama, mengoptimalkan peran serta orang tua untuk memberikan pemahaman agama yang benar sejak dini kepada putra-putrinya, hal ini dibutuhkan agar anak-anak memiliki bekal ilmu agama yang baik, dengan keyakinan agama yang baik generasi penerus bangsa tidak mudah terpengaruh oleh paham radikal yang mengarah pada aksi  terorisme.  

Kedua, mengoptimalkan peran tokoh agama, tokoh masyarakat dan tenaga pendidik dalam membantu pemerintah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas terutama di sekolah-sekolah, di perguruan tinggi dan di ruang publik terkait bahaya terorisme dan dampak yang ditimbulkan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Agar masyarakat luas memahami sehingga tidak terperangkap bujuk rayu teroris yang mengatasnamakan agama.

Ketiga, instansi terkait harus melaksanakan upaya kogkrit dan tegas untuk menutup konten-konten di media sosial yang digunakan jaringan teroris dalam menyebarkan ajaran-ajaran radikal. Karena saat ini mereka intens memanfaatkan media sosial  untuk melaksanakan propaganda dan merekrut anggota baru.

Keempat, mengoptimalkan peran seluruh jaring intelijen yang ada guna menemukan sel-sel teroris agar dapat dideteksi dan dicegah secara dini terhadap kemungkinan teroris berkembang di Indonesia.

Kelima, mendukung dan memperkuat upaya program deradikalisasi yang dilakukan oleh BNPT, salah satunya dengan meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat khususnya tokoh agama dalam upaya pembinaan terhadap mantan teroris yang sudah kembali ke lingkungan masyarakat.

Keenam, media massa adalah "oksigen" bagi teroris untuk mengembangkan aksinya, untuk itu media massa hendaknya tidak mempublikasikan aksi terorisme secara berlebihan dan fulgar, sehingga dengan berita yang sedikit diharapkan dapat meredam aksi teror yang dilakukan jaringan teroris lainnya. Media massa harus berkomitmen untuk menjadi bagian dalam memerangi aksi terorisme itu sendiri.

Mari kita bersatu bergandeng tangan untuk menangkal faham radikalisme berkembang subur di Indonesia. Perlu kita ingat dalam sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia dilakukan dengan cara damai melalui sosio kultural dan budaya, tidak dengan kekerasan. Sehingga, Islam yang ada di Indonesia bercirikan dengan kedamaian dan keramahan. Damai dan ramah tidak hanya berlaku pada sesama muslim saja, tetapi juga damai dan ramah bagi semua umat. Islam bukan teroris, teroris musuh bersama yang harus kita lawan.

Editor: Sam

T#g:terorisme
Berita Terkait
  • Selasa, 17 Jul 2018 13:17

    Panglima TNI: Cyber Narcoterorism Gunakan Dunia Maya Biayai Terorisme

    Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, telah muncul kelompok baru yaitu "Cyber Narcoterorism" yaitu kelompok yang menggunakan dunia maya sebagai wahana untuk mengedarkan dan menya

  • Selasa, 10 Jul 2018 17:10

    Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

    Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara. Aksinya dapat terjadi di negara mana saja yang mereka targetkan, tidak terkecuali di negara Indonesia tercinta.

  • Jumat, 08 Jun 2018 04:08

    Panglima TNI: Radikalisme Berujung Pada Tindakan Terorisme

    Selaku umat Islam dan bagian dari bangsa yang besar, sebagai warga negara Indonesia harus menyadari adanya radikalisme di sekitar kita. Radikalisme ini berawal dari pemahaman yang salah, yang kemudian

  • Selasa, 29 Mei 2018 01:29

    BEM NUS Dukung Kapolri & BIN Berantas Terorisme Sampai ke Akarnya

    Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEM-NUS) Wilayah Sumatera meminta dan mendukung langkah Kapolri dan BIN untuk memberantas teroris hingga ke akarnya.Hal ini disampaikan Kordinator BEM NUS Wilayah

  • Minggu, 20 Mei 2018 11:00

    Polres Nias Selatan Deklarasi Anti Terorisme

    Polres Nias Selatan menggelar deklarasi anti terorisme yang dirangkai dengan buka puasa bersama puluhan anak anak yatim, di Aula Mapolres Nias Selatan, Jumat sore (18/05).

  • Kamis, 17 Mei 2018 15:17

    Teror Bom Surabaya dan Urgensi Revisi UU Terorisme

    Setelah kasus serangan narapadina terorisme di Mako Brimob, berita tentang terorisme datang dari Surabaya. Publik digegerkan dengan aksi satu keluarga yang meledakkan bom bunuh diri di tiga gereja. Mi

  • Rabu, 16 Mei 2018 02:16

    Tetap Tenang Menghadapi Aksi Terorisme

    Kejadian Terorsime di Indonesia saat ini menjadi sangat kritis, Pasca serangan di Mako Brimob Kelapa Dua minggu lalu, kemarin, teror kembali terjadi diSurabaya. Ledakan yang diduga bom bunuh diri di S

  • Kamis, 25 Jan 2018 10:45

    Panglima TNI: Penanggulangan Terorisme Demi Keutuhan NKRI

    Sesuai UU TNI Nomor 34 tahun 2004 Pasal 7 Ayat (2) menjelaskan bahwa Tugas Pokok TNI melaksanakan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang di dalamnya tertera b

  • Jumat, 10 Nov 2017 05:20

    KASAU: Faktor Ekonomi dan Kemiskinan Tidak Selalu Jadi Penyebab Aksi Terorisme

    Faktor ekonomi dan kemiskinan tidak selalu menjadi alasan utama munculnya aksi aksi terorisme maupun gerakan radikalisme di manapun termasuk Indonesia.

  • Jumat, 07 Jul 2017 17:17

    Dandim 0824 Hadiri Sosialisasi Ancaman Terorisme & Pencegahannya

    Polres Jember menggelar Sosialisasi Ancaman Terorisme dan Pencegahannya dengan pembicara tunggal Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Bigjen Polisi Ir. Hamli, M.E.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak