Rabu, 17 Jan 2018 04:09
  • Home
  • Opini
  • Belajar Dari Pilkada Jakarta: Perlunya Kedewasaan Masyarakat Menghadapi Tahun Politik

Belajar Dari Pilkada Jakarta: Perlunya Kedewasaan Masyarakat Menghadapi Tahun Politik

Medan (utamanews.com)
Oleh: Adi Ginanjar, Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)
Jumat, 12 Jan 2018 17:22
Dibaca: 71 kali
Int
Ilustrasi

Tahun 2017 adalah tahun-tahun dimana terjadi banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menghebohkan. Peristiwa yang paling sering dan mudah dijumpai adalah merebaknya isu-isu SARA yang perlahan menjadikan Indonesia terkotak-kotak. Isu-isu SARA ini menyebar dengan cepat dan menjadi buah bibir secara luas di Indonesia karena di zaman digital ini informasi bisa menyebar dengan menggunakan berbagai sosial media. 

Banyaknya aksi-aksi yang mengatasnamakan agama belakangan adalah bukti nyata bahwa isu-isu ini kemudian dapat dijadikan alat penggerakan massa.

Entah apa yang menjadi penyebab isu-isu semacam ini merebak beberapa tahun belakangan, padahal bila ditilik lebih ke belakang tak pernah ada isu-isu SARA yang sebesar ini. Hal ini kemudian menstimulus pertanyaan, Mengapa muncul dengan mendadak dan melibatkan massa dalam jumlah besar? Isu ini mulai masif dan menyebar luas sejak Pilkada DKI Jakarta setahun silam yang kemudian menimbulkan pertanyaan soal maksud dan tujuannya. 



Dengan kata lain, kemungkinan ada yang memanfaatkan dan isu-isu semacam ini dan sengaja untuk disebarluaskan secara masif dengan motif politik yang secara tidak langsung menimbulkan kerugian bagi pemerintah. Kerugian tersebut meliputi aspek finansial dan terganggunya program-program pemerintah karena pergerakan massa yang masif ini tentunya akan membuat pemerintah menyiapkan perhatian khusus dan anggaran pengamanan yang tak sedikit. Selain itu, dampak dari isu-isu SARA ini adalah kembali digunakannya politik sektarian atau politik identitas berbasis agama sebagai referensi publik dalam politik elektoral.

Tak hanya sampai disitu, isu-isu yang muncul telah cukup meresahkan masyarakat dan telah menjadi perdebatan publik dengan berbagai spekulasi yang menyebabkan terjadinya konflik horizontal. Eksploitasi agama dalam kepentingan politik telah menggiring terciptanya sentimen SARA yang berujung pada kebencian, kekerasan dan bahkan radikalisme sehingga berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Hal ini tentunya harus dan wajib segera dihentikan agar tak mengganggu kepentingan nasional.


Bersiap menghadapi tantangan 2018

Jika memang benar isu-isu SARA yang merebak beberapa tahun belakangan memiliki tujuan politik praktis, kita sebagai warga negara Indonesia harus waspada terhadap hal ini mengingat 2018 adalah tahun politik. Tahun 2018 adalah tahun politik, di mana pemberitaan akan banyak dihiasai oleh berita-berita politik dan kooptasi kepentingan, mobilisasi massa dan kekerasan juga dimungkinkan terjadi karena dampak dari pemberitaan dan cara kerja jurnalis di lapangan. Jika ditahun sebelumnya yang pilkada di satu daerah saja bisa sebesar ini, maka tentunya ada kekhawatiran di tahun politik ini akan terjadi sesuatu yang lebih besar mengingat pesta politik akan dilakukan di 17 provinsi secara serentak.

Kita harus belajar dari tahun-tahun politik sebelumnya, dimana hegemoni kepentingan politik telah membuat banyak masyarakat umum dan para jurnalis menjadi bimbang di persimpangan jalan. Sehingga tidak sedikit orang yang terseret dalam arus keberpihakan dan kepentingan politik dan hal ini sangat menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berkepentingan. Dampak nyatanya adalah maraknya perdebatan-perdebatan di dunia maya yang tak lain dan tak bukan mengangkat isu SARA. Dalam perdebatan ini, tak jarang juga ada oknum yang juga menjelek-jelekkan pemerintah sehingga makin nyata bahwa banyak orang yang dimanfaatkan untuk tujuan politik dalam hal ini. 

Keberhasilan politik sektarian dalam Pilgub DKI Jakarta besar kemungkinan akan direplikasi dalam Pilkada di wilayah lain. Pilkada serentak Juni 2018 nanti juga tak bisa dipungkiri secara tak langsung akan terkait dengan Pileg dan Pilpres 2019. Hal ini karena, secara umum banyak parpol yang mengusung bakal calon kepala daerah akan memandang kemenangan Pilkada ini sebagai fondasi untuk sukses dalam Pileg dan Pilpres 2019. Semakin banyak menguasai kepala daerah dianggap langkah strategis parpol guna mobilisasi suara dalam pemilu, karena dengan jabatan kepala daerah kapasitas untuk mobilisasi dukungan elektoral lebih maksimal. Hal tersebut tentunya berkemungkinan menjadikan di tahun politik 2018 ini akan lebih marak dan masif isu-isu SARA bermuatan politik ini.


Tahun 2018 bukan hanya tahun politik

Di tahun 2018 ini sebenarnya tak hanya milik politik saja, melainkan akan ada perhelatan ASIAN Games 2018. Sukses atau tidaknya ASIAN Games ini akan menjadi tolok ukur dan acuan penilaian masyarakat dunia khususnya Asia mengenai kualitas Indonesia sebagai tuan rumah. Selain itu, Asian Games ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk mempromosikan Indonesia di mata dunia Internasional guna mendongkrak sektor pariwisata dan juga menarik minat para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

Hal tersebut tentunya akan sangat bertolak belakang jika masyarakat Indonesia hanya berkutat dengan isu-isu SARA. Seharusnya masyarakat Indonesia jangan mau terkotak-kotak oleh isu semacam ini. Perhelatan ASIAN Games yang juga akan dihelat di tahun 2018 ini tentunya akan lebih baik jika didukung oleh masyarakat Indonesia secara luas. Jika perhelatan ini berlangsung lancar, baik, maksimal dan diramaikan dengan antusias tinggi oleh masyarakat Indonesia tentunya akan memberi citra positif bagi Indonesia di mata Dunia. Dukungan dari masyarakat Indonesia itu tak hanya untuk pemerintah sebagai penyelenggara, tetapi juga para atlet yang nantinya akan unjuk gigi pada perhelatan ini. Setiap doa dan dukungan moril bagi para atlet juga pastinya akan meningkatkan dan mengobarkan semangat meraih prestasi dan mengharumkan nama Indonesia pada perhelatan ini.

Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia harus sadar dan waspada serta jangan mau termakan oleh isu-isu yang bersifat SARA dan berpotensi memecah persatuan. Masih banyak hal-hal positif yang bisa dilakukan daripada hanya berfokus pada pengkotak-kotakan akibat isu SARA, yakni salah satunya adalah membantu mensukseskan ASIAN Games 2018. Sudah waktunya bersifat dingin terhadap isu-isu berbau SARA dan mulai membuka mata guna membantu memajukan Indonesia walau hanya dilakukan melalui handphone. Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan padamu, tapi tanyakan pada dirimu apa yang kau berikan bagi negara ini. Jika saat ini para atlet Indonesia bersiap untuk mengikuti ASIAN Games dan berupaya menjuarainya agar nama Indonesia harum, maka paling tidak mari kita dukung mereka dan pemerintah sebagai penyelenggara ASIAN Games agar nama baik Indonesia tetap terjaga.

Editor: Sam

T#g:SARA
Berita Terkait
  • Senin, 15 Jan 2018 06:05

    Peran Masyarakat Dalam Menangkal Isu SARA di Tahun Politik

    "Pilihan boleh beda tapi jauh dari issue SARA"

  • Minggu, 07 Jan 2018 17:57

    Sah.. SBY Umumkan JR Saragih-Ance Selian untuk Pilgubsu 2018

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono resmi mengumumkan JR Saragih-Ance Selian bertarung di Pemilihan Gubernur Sumut 2018.Pengumuman ini dilaksanakan di Kantor DPP Partai Demokrat di kaw

  • Kamis, 04 Jan 2018 09:44

    Ancaman Isu SARA di Tahun Politik

    Indonesia adalah Negara kepulauan dan memiliki berbagai suku, agama, ras, budaya, bahasa daerah, dan golongan serta beberapa agama yang diperbolehkan berkembang di Indonesia. Indonesia memiliki lebih

  • Selasa, 26 Des 2017 19:16

    Lembaga Dakwah Kampus protes kebijakan Donald Trump

    Puluhan massa dari Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Sumatera Utara (Sumut) menggelar aksi protes dan penggalangan dana untuk membantu warga Palestina di Kisaran, kabupaten Asahan Sumat

  • Rabu, 13 Des 2017 13:43

    Netralitas TNI Kunci Kekuatan Mental Upaya Adu Domba

    Tak lama lagi, Indonesia akan memasuki tahun politik pada 2018 mendatang. situasi nasional diprediksi kembali memanas. Kelihatannya, agenda politik daerah maupun nasional akan berlangsung secara berir

  • Rabu, 15 Nov 2017 13:15

    Peringatan Hari Aksara Internasional di Deliserdang

    Bupati Deliserdang H Ashari Tambunan pada acara Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) Kabupaten Deliserdang Tahun 2017 memberikan piagam penghargaan kepada institusi, pembina/tokoh, pegiat Litera

  • Jumat, 10 Nov 2017 05:50

    Satrekrim Polres Asahan OTT Kepala RSUD Abdul Manan Simatupang Kisaran

    Satreskrim Polres Asahan yang dipimpin oleh AKP Bayu Putra Samara, SH Sik telah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap enam orang pimpinan dan anggota yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah

  • Jumat, 27 Okt 2017 22:47

    Kebijakannya Dinilai Tidak Pro Rakyat, Mahasiswa Demo Bupati Simalungun

    Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Dan Rakyat (AMPERA) bergerak melawan pembodohan dan penindasan rakyat yang diduga dilakukan oleh Bupati Simalungun JR Saragih.Aksi ini d

  • Minggu, 10 Sep 2017 08:00

    Polisi telusuri aktifitas rekening grup Saracen 2014-2017

    Mabes Polri menelusuri aliran dana pada rekening milik Saracen, kelompok yang diduga telah menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian bermuatan SARA, selama empat tahun terakhir."Saracen masih dal

  • Rabu, 30 Agu 2017 16:30

    Fatwa MUI Nomor 24 tahun 2017 nyatakan tindakan Saracen haram

    Majelis Ulama Indonesia(MUI) menyatakan bahwa tindakan sindikat penyebar berita bohong atau "hoax" Saracen di media sosial melanggar syariah dan haram sebagaimana Fatwa MUI.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak