Selasa, 21 Nov 2017 11:44

Mabes Polri: Pesan Berantai Soal Penembakan Brutal di Bima adalah Hoax

JAKARTA (utamanews.com)
Oleh: John
Senin, 29 Mei 2017 21:49
Dibaca: 1.602 kali
Penyebaran informasi hoax atau bohong yang beredar di media sosial seperti tak ada habis-habisnya. Kali ini Mabes Polri membidik kabar hoax yang diposting oleh akun Facebook Nia A Nurningsih Aswin.


Menariknya, selalu saja ada informasi tak benar yang menjadi viral di medsos. Dan masih saja ada yang percaya dan menyebarkan ulang hoax tersebut.

Kabar hoax yang yang dipersoalkan Polri kali ini adalah terkait dengan informasi anggota kepolisian yang disebut menembak secara membabi buta saat membubarkan tawuran antarwarga Desa Dadibou dengan Desa Penapali. Bima, Nusa Tenggara Barat.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan polisi melakukan SOP dalam melerai tawuran tersebut. Ia menegaskan, kabar yang beredar di medsos itu tidak benar. Justru anggota kepolisan turut menjadi korban karena dipanah kakinya saat sedang melerai.

"Saya luruskan, tidak ada (Satuan, red) Brimob di Polres Bima. Brimob adanya di Polda. Di Bima, anggota kita dipanah kakinya. Anggota Brimob juga jadi korban," kata Setyo ketika dikonfirmasi wartawan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (29/5/2017).

Kabar tersebut menjadi viral setelah pemilik akun Facebook Nia A Nurningsih Aswin menuliskan kronologi pembubaran tawuran tersebut, serta beredar broadcast message yang berisi cerita serupa, yang entah siapa penulisnya.

Satu desa bernama Talabiu, disebut-sebut dihujani peluru oleh aparat, padahal warganya tak terlibat tawuran.

Dikatakan dalam tulisan tersebut, sebanyak 10 warga mengalami luka tembak, baik oleh peluru tajam maupun peluru karet yang dilontarkan Satuan Brimob Polres Bima.

"Agar diketahui bahwa berangkat dari kejadian tawuran, kemudian kita ada Protap (Prosedur Tetap) I, mulai dari negosiasi, kemudian menggunakan tangan tanpa senjata, sampai peluru karet ditembak pantul," jelas Irjen Setyo Wasisto.

Irjen Setyo Wasisto mengatakan diskresi kepolisian melepaskan tembakan saat itu cukup beralasan. Karena upaya negosiasi yang diinisiasi polisi dengan warga yang yang saling bertikai mengalami kebuntuan.

Oleh sebab itu aparat mengambil tindakan tegas dan terukur, untuk membubarkan tawuran. Ia juga mengatakan bahwa jenis peluru yang dipakai untuk membubarkan tawuran adalah peluru karet, bukan peluru tajam.

"Ketika ditembak pantul, kena sasaran. Nggak betul kalau (tembakan, red) membabi buta. Kita gunakan senjata ada aturannya. Kita negosiasi nggak bisa, kita harus ambil tindakan tegas karena dilindungi undang-undang," terang Irjen Setyo Wasisto.

Berikut isi pesan berantai tersebut:

INFO PENTING DARI BIMA!

Aksi brutal aparat kepolisian terjadi lagi

Telah terjadi penembakan membabi buta oleh sekelompok satuan brimob polresta kab Bima pada jam 16.05 wib yang mengorbankan kurang lebih 10 orang. Salah seorang pemuda yang benama Hendra (21 tahun) di tembak di dalam rumahnya dengan 3 peluru tajam tembus ke dalam tubuhnya, di bagian punggung dan di bagian betis. Leon(23 tahun) 1 timah panas. Joe (18 tahun) 1 timah panas menembus kupingnya. Dan belasan orang terkena peluru karet. Hendra saat ini kritis sudah di larikan ke rumah sakit. Warga dan sejumlah pemuda yang sedang duduk santai di pinggir jalan di todong dan di berondong peluru tajam tanpa alasan yang jelas. Bahkan di atas rumah di tembaki.

Aksi brutal yang di lakukan oleh satuan brimob berawal dari upaya melerai konflik antar desa dadibou dan pena pali. Namun tidak termaksud desa (talabiu) yang di brondong oleh satuan brimob dengan peluru tajam. Menurut keterangan dari salah satu korban Tovan (muma), dia lagi duduk santai dengan kawan-kawannya di salah satu rumah saudaranya. Sejumlah brimob datang mengendarai sepeda motor dengan biadabnya menembak secara brutal anak-anak, ibu-ibu tanpa alasan yang jelas. Mereka melakukan penyisiran ke kampung-kampung, seolah desa talabiu merupakan desa yang berkonflik. Saya juga di todong dengan senjata, 'ujar Muma'.

Orang yang selesai beribadah pun tak luput dari kebengisan satuan brimob. Mulai dari wilayah barat sampai timur perkampungan di brondong menggukan peluru tajam. Warga lari berhamburan menyelamatkan diri kaget Melihat brimob menembak dengan babi buta. Kejadian ini bukanlah kali pertama polresta menyalahi protap. Baru-baru ini satuan polresta Bima pernah menghujani peluru tajam terhadap warga laju dan tolouwi kabupaten bima Aksi kesatuan brimob ini semakin menjelaskan kepada masyarakat Bima betapa jahatnya institusi kepolisian, mendidik menciptakan mesin pembunuh bagi rakyat. Mereka harusnya hadir sebagai keamanan malah berubah menjadi pelaku pembunuh masyarakat

Sekarang ibu-ibu, anak di bawah umur masih mengalami traumatik mendalam akibat kebrutalan brimob. Mereka berlaga seperti anjing herder yang haus akan darah. Tak memiliki kemanusiaan dan berhati iblis. Kuasanya melebihi kuasanya Tuhan.

Oleh karnanya:

1. Desak kapolri mengusut tuntas atas pelanggaran HAM yang di lakukan satuan brimob di desa Talabiu

2. Copot Kapolres Bima dan Oknum Anggota Penembak Warga Talabiu

3. Kapolres Bima harus bertanggung jawab atas insiden berdarah di desa talabiu bima.

Editor: Sam

T#g:Bimahoax
Berita Terkait
  • Selasa, 21 Nov 2017 03:51

    Registrasi SIM Card Menjamin Keamanan Digital Masyarakat

    Per 31 Oktober 2017, para pengguna kartu SIM prabayar operator seluler di Indonesia, baik pelanggan lama maupun baru diwajibkan untuk mendaftar ulang dengan memakai nomor NIK dan Kartu Keluarga. 

  • Selasa, 14 Nov 2017 18:54

    Panglima TNI: Masyarakat Harus Cerdas Menyikapi Informasi Media Sosial

    Pengaruh media sosial sangat luas dalam kehidupan baik individu, keluarga, kelompok bahkan mampu mengubah tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu diharapkan masyarakat Indonesia harus cerdas

  • Sabtu, 23 Sep 2017 16:23

    Undangan Panglima TNI di Akun Twitter Ulama Lover ! "HOAX"

    Beredarnya undangan resmi yang mengatasnamakan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di akun twitter Ulama Lover ! beserta video yang menggunakan profil Puspen TNI, untuk berkumpul di Monas (DKI)

  • Jumat, 15 Sep 2017 12:45

    TNI dan Sebaran Hoax di Medsos

    Maraknya penyebaran berita Hoax di jagat maya ternyata sudah tersusun secara rapi. Jika Anda membaca kabar miring yang bertebaran di media sosial jangan cepat percaya dan perlu memeriksa sumber inform

  • Kamis, 31 Agu 2017 01:20

    Terlalu, berita di media online soal Walikota Dzulmi Eldin tersangka, ternyata hoax

    Sejak Selasa malam, (29/8), sejumlah media online dari Medan menyebar informasi bahwa Walikota Medan Drs Dzulmi Eldin tersangka kasus dugaan korupsi perizinan dan gratifikasi proyek Podomoro City Deli

  • Senin, 28 Agu 2017 06:58

    Media Massa Berperan Penting Sebarkan Kebhinekaan

    Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu (PERADAH) Indonesia bersama DPP PERADAH Indonesia Provinsi Sumatera Utara Gelar diskusi media di Grand Kanaya Hotel Jalan Darussalam, Sabtu (26/8).

  • Kamis, 24 Agu 2017 07:54

    Tersangka sindikat penyebar hoax di Facebook mahir IT

    Polisi memaparkan para tersangka penggerak sindikat penyebar hoax dan fitnah di media sosial facebook, "Saracen". Para tersangka ini berinisial JAS (32), MFT (43), dan SRN (32).

  • Sabtu, 12 Agu 2017 17:12

    BMKG Sebut Kabar Soal Gempa 9,0 Skala Richter, Hoax

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah adanya kabar yang menyebutkan bahwa gempa besar berkekuatan 9,0 Skala Richter (SR) akan mengguncang Kota Medan, Sumatera Utara. BMKG

  • Minggu, 06 Agu 2017 09:16

    Polisi tangkap wanita penyebar kebencian melalui Facebook dari Cianjur

    Polisi tangkap admin akun Facebook 'Sri Rahayu Ningsih' alias Ny Sasmita, terkait kasus ujaran kebencian dan SARA melalui media sosial.

  • Minggu, 30 Jul 2017 12:20

    Ibu penghina Jokowi mengeluh, sejak anaknya dipenjara, barang terjual untuk biayai hidup

    Maya, 65 tahun, orang tua Ropi Yatsman, 35 tahun, admin dari akun grup publik Facebook "Keranda Jokowi-Ahok", yang sudah menjadi narapidana kasus penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo dan penyebar

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2017 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak