Senin, 21 Mei 2018 17:55

Komnas Anak: Tobasa Darurat Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Tobasa (utamanews.com)
Oleh: Coky/rls
Rabu, 21 Feb 2018 10:21
Internet
Ilustrasi

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) sebagai lembaga independen yang memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia melakukan Kunjungan kerja (Kunker) ke Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Hasilnya sangat di luar dugaan dan akal sehat. 

Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak menyatakan, Tobasa sebagai wilayah religius dan menjunjung tinggi nilai adat (Dalihan Natolu) saat ini memegang predikat sebagai Kampung (huta) darurat kekerasan seksual terhadap anak dan krisis moralitas.

"Sesungguhnya, Tobasa tidaklah pantas mempunyai predikat krisis moralitas dan darurat kekerasan seksual terhadap anak, namun ini kenyataannya dan tidak bisa terbantahkan," kata Aris dalam rilisnya dari Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Menurut laporan Polres Tobasa, sepanjang Januari 2018 telah ditemukan fakta (berdasarkan laporan masyarakat) ada 6 kasus kekerasan seksual dalam bentuk hubungan seksual sedarah (incest) yang dilakukan oleh orang terdekat korban.


Angka ini dikhawatirkan akan terus meningkat jika dibanding dengan 29 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi sepanjang tahun 2017.

Kasus kejahatan seksual terbaru yang dilakukan oleh ayah kandung dan paman korban di salah satu desa di Kecamatan Silaen, Tobasa, sangat mencoreng nilai-nilai agama dan adat di tanah Batak.

Tim Kunker Komnas Perlindungan Anak  yang dipimpin Arist Merdeka Sirait berkesempatan berkunjung ke desa Silaen  untuk bertemu dengan korban, Putri (14) bukanlah nama sebenarnya, dan ibu korban.

Korban menceritakan pengalaman pahitnya itu, bahwa sejak korban usia 12 tahun telah diperlakukan salah secara  seksual dengan penuh ancaman oleh ayah kandung dan paman kandung korban secara berulang-ulang selama dua tahun hingga korban saat ini mengandung 4 bulan.

Korban bercerita, setiap kali ayah dan paman korban melakukan kejahatan seksual kepada dirinya, diawali dengan  menenggak minuman keras tradisional "Tuak" lebih dahulu dari warung tuak langganan ayah korban. 

Kejahatan seksual ini selalu dilakukan ayah dan pamannya pada saat ibunya dan adik-adiknya terlelap tidur pada malam hari. Bahkan pamannya pernah masuk ke kamarnya dengan cara memanjat melalui plafon untuk memaksa korban untuk melayani kebejatan pamannya.

Peristiwa yang sama dan memilukan juga dialami dua anak remaja kakak-beradik siswi SMP di Balige, Tobasa. Masing masing-masing Bunga (13) dan Melati (14), keduanya bukan nama sebenarnya, yang mengalami kejahatan seksual berulang-ulang dalam bentuk incest yang dilakukan oleh kedua orangtua kandungnya sendiri dengan  penuh ancaman untuk tidak disekolahkan jika tidak mau melayani prilaku bejat ayah kandungnya.

Nasib malang bagi Bunga (13) saat korban melaporkan peristiwa kejahatan seksual yang dilakukan ayahnya ini kepada guru agamanya dengan harapan mendapat perlindungan, namun guru agamanya justru memanfaatkan situasi buruk itu untuk melakukan kejahatan seksual terhadap korban dengan penuh ancaman. Bahkan oleh kepala sekolah kedua korban dikeluarkan dari sekolah dengan cara memberhentikannya.

"Untuk memastikan kebenaran atas peristiwa ini, dalam kunjungan kerja Komnas Perlindungan anak ke Polres Tobasa bersama Bupati Tobasa Darwin Siagian dan jajarannya berkesempatan bertemu dan berdialog dengan  ayah dan paman korban. 

Pada kesempatan itu, di hadapan Wakapolres Tobasa dan Kasat Reskrim dan para penyidik dari Unit PPA Polres Tobasa diperoleh pengakuan dan kronologis peritiwa kejahatan seksual yang mengejut dan biadab yang dilakukan pelaku JS (38) ayah kandung korban dan N (32) selaku paman korban. 

"Atas dasar kejahatan seksual yang sulit diterima akal sehat manusia itulah Komnas Perlindungan Anak dan atas dorongan masyarakat Tobasa, mendesak agar Polres Tobasa menerapkan Ketentuan UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016  junto UU RI No. 35 Tahun tentang Perlindungan Anak, sehingga Jaksa Penuntut umum (JPU) dapat menetapkan tuntutannya kepada predator kejahatan seksual sesuai dengan harapan masyarakat minimal dengan ancaman pidana 10 tahun dan maksimal 20 tahun dan dapat dikenakan hukuman tambahan fisik seumur hidup dan hukuman "Kastrasi" yakni kebiri lewat suntik kimia apalagi dilakukan oleh orangtua kandung dan paman dari korban, dan oleh hukum dapat ditambahkan sepertiga dari pidana pokoknya," ungkap Arist.

"Dari 2 kasus kejahatan seksual yang dilakukan orangtua kandung, paman dan kerabat terdekat keluarga yang diungkap dalam peristiwa ini, serta meningkatnya jumlah angka kejahatan seksual terhadap anak yang terungkap dan dilaporkan kepada Polisi di Tobasa dan Komnas Perlindungan Anak, tidaklah berlebihan jika Tobasa saat ini dalam kondisi Darurat Kekerasan Seksual dan Krisis Moralitas," tegasnya.

Oleh sebab itulah, lanjutnya, dari hasil temuan data dan fakta kekerasan seksual  yang diperoleh dari Kunjungan Kerja Komnas Perlindungan Anak selama di Kabupaten Tobasa bersama Bupati Tobasa, Komnas Perlindungan Anak mempresentasikan temuannya sebagai narasumber utama dalam sebuah diskusi panel warga Balige yang diselenggarakan oleh Partukoan S3 (Saurdot, Satahi jala Saroha) yang diketuai oleh Ir. Parlin Sianipar dan diorganisir oleh dr. Tota Manurung serta partisipasi pemikiran dari J. Siahaan, SH. dan Pardede.

Dari Diskusi panel itu, diperoleh kesimpulan bahwa situasi tanah Batak khususnya Tobasa telah terjadi degradasi Moralitas akhlak dan adat Batak di Tobasa.
Editor: Tommy

T#g:aniayaKomnasPelecehan
Berita Terkait
  • Minggu, 20 Mei 2018 23:00

    Diduga Stress Anak Kandung Tega Habisi Nyawa Ayahnya

    Sabar Sianturi (65) warga Dusun Kampung Bandung Desa Mandala Sena, Kecamatan Silangkitang Kabupaten Labusel, diduga tewas di tangan RS (40) yang merupakan anak kandung korban.Menurut penuturan tetangg

  • Kamis, 10 Mei 2018 20:20

    Koperasi PT. Smart, Tbk Padang Halaban Tak Bayar Hak Pensiun Karyawan

    Mei 2018, Iskandar Sianturi kembali merasa kecewa kepada PT. Smart, Tbk Padang Halaban dengan alasan bahwa 5 bulan semenjak terhitung berstatus sebagai karyawan pensiunan, dirinya tidak mendapatkan ha

  • Selasa, 17 Apr 2018 22:37

    Komnas HAM Sambangi KPU Kabupaten Deli Serdang

    Wakil Ketua Komisi Nasional (Komnas) HAM Republik Indonesia Hairansyah mengunjungi Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Deli Serdang, Selasa (17/4/2018).Dalam kunjungannya, Hariansyah serta ro

  • Kamis, 12 Apr 2018 14:02

    Anak Berstatus Pelajar Babak Belur Dihajar Satpam Kebun PT. Smart Tbk Padang Halaban

    Lokasi Perkebunan PT. Smart,Tbk Padang Halaban yang berdekatan dengan pemukiman masyarakat Kecamatan Aek Kuo menjadikan perkebunan ini rawan akan potensi pencurian. Seperti yang terjadi pada Rabu (11/

  • Sabtu, 07 Apr 2018 06:47

    Gara-gara Uang Rp4000 untuk Air Isi Ulang, Boru Lubis Kritis Ditikam

    Faktor ekonomi kerap menjadi pemicu tindak pidana. Hal ini kembali dialami oleh Miwarti Lubis (48), yang menjadi korban penikaman suaminya sendiri, Subandi (50) warga Dusun II, Desa Bintang Meriah, Ke

  • Senin, 02 Apr 2018 11:21

    Ketua Panwascam Susua Nias Selatan Dilempar Batu

    Ketua Panwascam Susua yang bernama Fauduli Laia dilempar batu oleh orang tak dikenal saat mengendarai sepeda motornya, di daerah Susua, antara desa Hilimbowo dan Hilidanayao, pada Selasa (27/3) sore.I

  • Kamis, 08 Mar 2018 08:28

    Go-Jek Medan Tolak Konfirmasi Wartawan Terkait Pemukulan Terhadap Konsumen

    Pihak manajemen aplikasi jasa angkutan online Go-Jek menolak memberi klarifikasi pasca kejadian pengroyokan para sopir terhadap pimpinan redaksi media cetak di Medan pada Selasa (6/3).Beberapa jurnali

  • Rabu, 07 Mar 2018 06:57

    Dituduh order fiktif, 20-an Driver Go-Car aniaya Pemred Koran terbitan Medan

    Pimpinan Redaksi Harian Orbit Teuku Yudhistira menjadi bulan-bulanan sopir taksi online (taksol) Go-Car, Selasa (6/3). Yudhistira dikeroyok di Brastagi Supermarket, Jalan Gatot Subroto, Kota Medan.&nb

  • Kamis, 01 Mar 2018 18:21

    Dugaan Kekerasan Terhadap Pelajar SMA, Kasatreskrim: Belum Cukup Alat Bukti

    AKP A. Tarigan, Kasatreskrim Polres Nias Selatan (Nisel), mengaku pihaknya belum memiliki alat bukti yang cukup untuk melanjutkan penyelidikan dugaan kasus kekerasan yang dilakukan oknum guru NH terha

  • Kamis, 01 Mar 2018 05:21

    Oknum Guru SMA di Nias Diduga Lakukan Kekerasan Pada Siswa

    Kasus kekerasan terhadap murid kembali terjadi di lingkungan pendidikan. Kali ini terjadi di SMA Negeri 1 Amandraya, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Oknum guru berinisial NH diduga melaku

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak