Kamis, 26 Apr 2018 18:08
  • Home
  • Ekonomi
  • Kehabisan BBM di jalan Tol? Hubungi Satgas BBM

Kehabisan BBM di jalan Tol? Hubungi Satgas BBM

JAKARTA (utamanews.com)
Oleh: Budi
Senin, 26 Jun 2017 00:26
Dok
Petugas mengantar BBM pada pemudik yang kehabisan di jalan tol
Bagi yang kehabisan bahan bakar minyak dalam macet perjalanan, terutama di ruas jalan tol, tentu akan merasa jengkel dan frustasi. Terlebih dalam kondisi mudik Lebaran, di mana kepadatan arus lalu lintas menjadi momok bagi sebagian pengendara yang khawatir mobilnya mogok di tengah jalan.

Tapi, kini pengendara mobil bisa sedikit bernafas lega, karena perusahaan di bidang energi terbesar di Indonesia, yaitu Pertamina, menyediakan layanan Satuan Tugas Bahan Bakar Minyak (Satgas BBM) yang siap memasok bahan bakar jika mobil mogok. Para anggota Satgas BBM pun bisa dibilang "kebal hukum" dan punya hak istimewa.

Bagaimana tidak, saat undang-undang melarang pengendara sepeda motor menggunakan ruas jalan tol, Satgas BBM memiliki hak untuk masuk ke ruas tol, meski pun pada jarak yang terbatas. Satgas BBM yang dibentuk dengan jumlah total 90 armada sepeda motor ini diperbolehkan memasuki ruas jalan tol untuk mengirim BBM kepada mereka yang membutuhkan.

Di titik peristirahatan kilometer 19 Tol Bekasi-Cikampek misalnya, ada satu armada sepeda motor dan dua personel Satgas BBM yang siap sedia mengirim bahan bakar di sekitar area tersebut selama 24 jam sejak 15 hingga 28 Juni.

Mereka ialah Deden dan Agri, dua pemuda asal Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, yang menjadi ujung tombak Pertamina mengemban tugas tersebut.

Kerja Serabutan

Deden dan Agri, yang rumah keduanya hanya terpisah jarak sekitar 500 meter di daerah asalnya itu, mengaku melakoni pekerjaan tersebut hanya sementara. Sehari-hari mereka berdua merupakan pekerja serabutan, apapun bisa dan mau mereka lakukan.

"Jika sedang di rumah, kami siap melakukan tugas dan pekerjaan apapun," ujar mereka kompak.

Baik Deden dan Agri, musim mudik sekarang merupakan tahun kedua mereka menjadi Satgas BBM, yang sebelumnya ditempatkan di jalur selatan sekitar Nagreg, Jawa Barat. Namun, Deden yang lebih senior dibanding Agri, mengatakan bahwa pekerjaan musiman di saat Lebaran seperti ini sudah ditekuninya sejak 2008.

Sebelum menjadi Satgas BBM pertama kali pada 2016, Deden menjadi sales salah satu merek rokok terbesar di Indonesia, dengan waktu bekerja masih pada musim mudik. Penghasilan yang mereka peroleh pun jika dibandingkan dengan pegawai kantoran Jakarta memang tidak seberapa, namun sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah.

Dengan waktu kerja pada 15-28 Juni, mereka memperoleh upah sekitar Rp3 juta, angka yang terbilang lumayan untuk pekerjaan sampingan yang dilakukan hanya dalam waktu 14 hari.

"Saat menjadi sales rokok di tahun-tahun sebelumnya pun jumlah penghasilan yang ia peroleh tidak berkisar jauh," ujar Deden.


Tugas Berbahaya

Sifat penugasan mereka yang bisa dibilang sebagai aksi bantuan, mendapat tanggapan positif dari pihak kepolisian. Dengan adanya Satgas BBM, pengendara yang kehabisan bahan bakar bisa segera melanjutkan perjalanan dan tidak perlu berhenti terlalu lama di ruas tol.

Jangan kan mogok akibat kehabisan bahan bakar, jika ada kendaraan berhenti saja dapat memicu kemacetan di ruas tol, yang akan menambah beban penanganan oleh pihak kepolisian. 

Meskipun pos yang mereka jaga di rest area km 19 tol Jakarta-Cikampek terbilang kecil dan sederhana jika dibandingkan dengan pos di rest area lain, mereka merasa tugas yang diemban cukup berbahaya.

Bagaimana tidak, dengan hak istimewa berkendara menggunakan sepeda motor di jalan tol, membuat mereka harus berpacu dengan kendaraan roda empat atau lebih dengan ukuran yang jauh lebih tinggi.

"Walau jarak berkendara di dalam ruas tol yang diperbolehkan tidak terlalu jauh, hal itu cukup membuat kami takut," ujar Agri mengungkapkan risiko pekerjaan yang mereka jalani tersebut.

Bahkan tidak jarang mereka harus melaju melawan arah baik untuk mengantar BBM atau kembali ke rest area, tergantung di mana posisi kendaraan yang akan diisi berada. Melawan arah di dalam tol jelas sangat berbahaya. Embusan angin dari arah samping atau angin dari kendaraan yang melaju di dekat mereka semakin meningkatkan bahaya personel Satgas BBM yang hanya dibekali perangkat keamanan standar berupa helm half-face dan rompi anti-angin yang dilengkapi lapisan pemantul sinar sebagai penanda di malam hari.

Ditambah lagi situasi ketika ada mobil yang menyalip dari kiri atau dari bahu jalan, jika itu terjadi tepat di depan mereka tak ayal mereka pun bisa menjadi korban.

"Yang tadinya menolong lalu menjadi yang ditolong merupakan keadaan yang tidak lucu sama sekali," kata mereka berdua dengan diselingi canda.

Walau tahu berbahaya, ketika mendapat panggilan radio dari pihak keamanan atau petugas rest area lainnya saat ada kendaraan yang kehabisan bahan bakar, mereka harus siap mengantar di manapun posisinya. Dengan menggunakan sepeda motor bertransmisi matic 110 cc, lalu ditambah seperangkat boks berisi lima drum BBM yang masing-masing berkapasitas 10 liter di bagian belakang, sudah lebih dari cukup untuk menggoyahkan keseimbangan.

Akan tetapi, Deden mengaku jumlah dan volume drum yang dibawa jauh lebih baik daripada yang digunakan saat menjadi Satgas BBM tahun lalu. Pada 2016, drum yang dibawa hanya berjumlah tiga buah, namun dengan ukuran yang lebih besar sehingga lebih tidak stabil jika diangkut dengan sepeda motor. Walau tahu bahayanya, baik Deden dan Agri, tetap semangat dalam menjalankan tugasnya tersebut.

Bertugas siang-malam, tidur menumpang di pos keamanan, bukan masalah bagi mereka berdua yang ingin tetap bekerja secara halal meski tidak dapat berbagi kebahagiaan Lebaran dengan keluarga di rumah. Tugas mereka mulia, bagaikan malaikat penolong, saat sesamanya menghadapi keadaan darurat.

Editor: Elya

Sumber: Warta Ekonomi

T#g:mudikPertaminaSatgas BBMTol
Berita Terkait
  • Sabtu, 21 Apr 2018 11:41

    TNI-Polri Motivator Perekat Persatuan dan Kesatuan

    Eksistensi, kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipertaruhkan di pundak Prajurit TNI-Polri. Untuk itu, TNI dan Polri harus menjadi solusi dan motivator perekat persatuan dan kesatuan.

  • Minggu, 15 Apr 2018 20:45

    Naiknya BBM Non Subsidi Demi Pemenuhan Kebutuhan Minyak Tahun 2025

    Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I, Rudi Ariffianto, menjelaskan bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-subsidi jenis Pertalite bermuara pada peningkatan produksi minyak P

  • Minggu, 15 Apr 2018 07:45

    Menyapa Masyarakat Lebih Dekat dengan "Rumahku Djoss"

    Program "Rumahku Djoss" yang diselenggarakan di beberapa daerah yang dikunjungi Sihar Sitorus menjadi ruang silaturahmi kekeluargaan yang membangun kedekatan Sihar dengan masyarakat. Seperti di Labuha

  • Jumat, 06 Apr 2018 19:16

    Siap Menangkan DJOSS, Warga Teluk Aru Curhat Soal Nasib Mereka Sejak Kilang Minyak Ditutup

    Warga Teluk Aru Kabupaten Langkat mengadu ke Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut) Sihar Sitorus, saat bertemu, Kamis (5/4/2018) kemarin. Curhatan mereka menyangkut tak lagi beroperasi

  • Rabu, 04 Apr 2018 06:34

    Djarot: Sumut Hidup Dalam Keberagaman

    Cagubsu Djarot Saiful Hidayat mendapat sambutan hangat dan meriah saat tiba di Dusun VIII, Desa Huta Padang, Kecamatan Bandar Pasir (BP) Mandoge, Kabupaten Asahan, Selasa (3/4/2018) sore.Tenda berwarn

  • Minggu, 01 Apr 2018 22:31

    Waduh, DPS di Gunungsitoli Berkurang Hampir 3 Ribu Orang

    Daftar Pemilih Sementara (DPS) pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) di wilayah Kota Gunungsitoli berkurang 2.960 pemilih dari pemilu sebelumnya.Hal itu terlihat dari da

  • Selasa, 27 Mar 2018 22:27

    Pertamina gandeng LPM Unimed Launching Ekowisata Kampung Mangrove

    PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I menggandeng Lembaga Pegabdian Masyarakat (LPM) Universitas Negeri Medan untuk melestarikan lingkungan dengan konsep Eduwisata dan Ekowisata di

  • Jumat, 23 Mar 2018 10:23

    Jangan ada etnis merasa terintimidasi, khususnya menjelang Pemilu

    Dalam konsep FPK (Forum Pembauran Kebangsaan), keberagaman adalah keniscayaan. Mengapa niscaya, karena itu adalah ketetapan Tuhan. Oleh karena itu jangan ada yang menghina umat agama atau etnis lain,

  • Rabu, 21 Mar 2018 19:31

    Sumut Institute dan UNPRI gelar diskusi terbuka, "Masyarakat Sumut Cinta Damai, Jaga Kebhinekaan dan Pluralisme"

    Secara umum, hubungan sosial kemasyarakatan di Sumatera Utara, khususnya antar etnis relatif baik, dibuktikan dengan bebasnya masyarakat minoritas untuk melaksanakan aktifitasnya sehari-hari. Namun, b

  • Jumat, 16 Mar 2018 14:46

    Tim Menembak Prajurit TNI Terima Penghargaan "German Markmanship Schuetzenschnur"

    Tim Menembak Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda (Konga) United Nations Interim Force In Lebanon (Unifil), beberapa waktu lalu menerima Penghargaan Brevet "German Markmanship Sch

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2018 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak