Sabtu, 23 Sep 2017 07:08
  • Home
  • Ekonomi
  • Indonesia dinilai belum manfaatkan teknologi untuk produksi garam

Indonesia dinilai belum manfaatkan teknologi untuk produksi garam

JAKARTA (utamanews.com)
Oleh: John
Sabtu, 12 Agu 2017 13:02
Dibaca: 170 kali
Antara
Petani garam

Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menilai impor garam yang setiap tahun dilakukan untuk mengatasi kelangkaan stok merupakan dampak dari tidak serius Indonesia dalam mengembangkan teknologi produksi garam.

Susan menyatakan harus ada komitmen politik atau political will untuk memperkuat pergaraman nasional, salah satunya melalui bantuan teknologi, sehingga produksi garam tidak lagi menggunakan metode konvensional yang bergantung pada cuaca.

"Impor itu dampak dari kita yang tidak pernah serius mengembangkan teknologi. Harus ada political will dari bangsa untuk menghentikan impor dan memperkuat pergaraman nasional," kata Susan pada diskusi di Jakarta, Jumat (11/8/2017).

Ia mengatakan petambak garam perlu mendapat pemberian modal atau asistensi dalam teknologi, karena garam berkualitas baik perlu adanya mesin iodisasi dan teknologi produksi yang tidak mengandalkan cuaca.

Saat ini sistem produksi garam di Indonesia menggunakan sistem evaporasi, yakni air laut dialirkan ke dalam tambak kemudian air yang ada dibiarkan menguap, setelah beberapa lama kemudian akan tersisa garam yang mengendap di dasar tambak tersebut.

Namun, kondisi cuaca kemarau basah yang dialami saat ini menyebabkan banyak petani gagal panen karena hujan.

Karena itu, KIARA meminta pemerintah mengimplementasikan mandat Undang Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

Dalam pasal 51 UU Nomor 7/2017, pemerintah pusat dan pemerintah daerah berkewajiban memberikan kemudahan akses meliputi teknologi, kerja sama alih teknologi dan penyediaan fasilitas bagi nelayan, pembudi daya ikan dan petambak garam.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan Indonesia perlu belajar teknologi dari Australia sebagai negara asal impor garam Indonesia.

"Menurut saya yang paling bagus seperti di Australia, yaitu bikin ladang garam. Jadi ladang garam itu dasarnya adalah garam, tapi yang boleh dipanen itu garam di atasnya," kata Adhi.

Indonesia telah membuka keran impor 75 ribu ton garam konsumsi dari Australia yang akan dilakukan secara bertahap.

Kualitas garam Australia dinilai lebih baik dari Indonesia karena musim panas yang lebih merata serta didukung teknologi pemanasan yang mumpuni.

Editor: Budi

T#g:AustraliaImporgaramteknologi
Berita Terkait
  • Senin, 28 Agu 2017 09:28

    Kapal Bakamla Latihan Bersama dengan ABFC Thaiyak

    Kapal Bakamla RI KN Ular Laut 4805 melakukan latihan bersama dengan Kapal Australia ABFC Thaiyak dalam Patroli Terkoordinasi Shearwater IV di laut Arafuru, Minggu (27/8/2017).

  • Senin, 28 Agu 2017 06:38

    Dinas Perindag Sumut: Stok Garam Sumut Aman

    Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut menjamin stok garam di daerah itu dengan mulai masuknya garam dari dalam dan luar negeri.

  • Kamis, 27 Jul 2017 11:07

    Harga Garam di Padang Lawas Utara Naik Hingga 100%

    Akmal Soleh Tanjung, pemilik grosir bahan sembako di Pasar Gunung Tua, mengaku sepekan belakangan, pasokan garam yang ia terima kurang dan harganya naik hingga 100%."Minggu lalu masih bisa menjual gar

  • Selasa, 25 Jul 2017 20:05

    15 Perwira Siswa Australia kunjungi Mabes TNI

    Sebanyak 15 Perwira Siswa Center For Defence Strategic Studies (CDSS) Australia, terdiri dari 13 Delegasi CDSS, 1 (satu) personel Atase Udara dan 1 (satu) personel Asisten Atase Udara, yang dipimpin o

  • Rabu, 12 Jul 2017 18:42

    Impor Beresiko Tinggi Berdampak Bagi Ekonomi dan Penerimaan Negara

    Impor Beresiko Tinggi adalah impor yang dilakukan secara illegal sehingga dapat merusak daya saing industri dalam negeri, karena harga produk yang dihasilkan menjadi lebih mahal dari pada barang-baran

  • Selasa, 04 Jul 2017 15:44

    Internasionalisasi Kasus Biak Berdarah, Berhasilkah?

    Peristiwa "Biak Berdarah" atau dikenal dengan peristiwa Tower terjadi pada 6 Juli 1998.

  • Minggu, 11 Jun 2017 17:31

    Mabes Polri Tangkap Direktur Utama PT Garam

    Aparat Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menangkap Direktur Utama PT Garam (Persero), Achmad Boediono, terkait dugaan tindak pidana penyimpangan importasi dan distribusi garam industri 75.000 ton.

  • Kamis, 27 Apr 2017 08:18

    Sampaikan Potensi Investasi di Sumut, Wagub Buka Pintu Bagi Australia

    Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Hurhajizah Marpaung menyambut baik upaya penjajakan Negara Australia untuk melihat potensi investasi di berbagai bidang.

  • Jumat, 21 Apr 2017 16:03

    Bilateral Meeting Bakamla dan ABF di Australia

    Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) Laksdya TNI Ari Soedewo, S.E., M.H. laksanakan pertemuan bilateral dengan Komisioner Australian Border Force (ABF) Roman Quaedvlieg di Kantor ABF, Canberra- Australia, Rabu (19/4/2017).

  • Kamis, 09 Feb 2017 06:48

    Panglima TNI terima kunjungan Chief of the Australian Army

    Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Kasad Jenderal TNI Mulyono menerima kunjungan resmi Chief of the Australian Army Letnan Jenderal Angus Campbell di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Tim

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2017 utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak